Setelah 20 Tahun Vakum, Ritual Balela Koborajan Kembali Hidup di Tapobali

oleh -255 Dilihat

Ritual Balela Koborajan di Tapobali

TAPOBALI, mediantt.com – Desa Tapobali, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali menghidupkan ritual adat konservasi siput laut Koborajan, Rabu (24/12/2025) pekan lalu, setelah vakum selama kurang lebih 20 tahun.

Ritual yang dikenal dengan sebutan Balela Koborajan ini merupakan kearifan lokal masyarakat Tapobali yang melarang pengambilan siput laut Koborajan secara bebas, berbeda dengan jenis siput laut lainnya.

Siput laut Koborajan sendiri merupakan jenis kerang bercangkang besar yang hidup menempel pada bebatuan di tepi laut. Siput ini tergolong unik dan hanya ditemukan di Pantai Selatan Pulau Lembata, khususnya di wilayah pesisir Desa Tapobali.

Menariknya, ritual Balela Koborajan wajib menggunakan sejumlah pangan lokal sebagai bagian dari prosesi adat, yakni kfarufolot (sorgum), delaj (jali-jali), dan fetem (jewawut). Tanpa kehadiran pangan lokal tersebut, ritual tidak dapat dilaksanakan.

Kondisi inilah yang menyebabkan tradisi Balela Koborajan sempat terhenti selama dua dekade terakhir.
“Ritual Balela Koborajan ini sudah kurang lebih 20 tahun tidak dijalankan karena bahan-bahan ritual dari pangan lokal tidak tersedia,” ujar Philipus Ado, Tokoh Adat Suku Ledun, Rabu (31/12/2025).

Menurut Philipus, selain ketiadaan bahan ritual, pengetahuan lokal tentang tata cara Balela Koborajan juga mulai memudar. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Tapobali yang berinisiatif menghidupkan kembali tradisi tersebut melalui Rencana Kerja Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), serta dukungan Komunitas GEBETAN melalui Forum Group Discussion (FGD) dalam program Voice for Just Climate Action.

Pemerintah Desa Tapobali menilai, Balela Koborajan sebagai warisan budaya yang sarat nilai konservasi dan perlu dilestarikan secara berkelanjutan.

“Kearifan lokal Balela ini sudah lama ditinggalkan, sehingga pemerintah desa memandang perlu untuk menghidupkannya kembali agar pengetahuan lokal tetap terjaga,” kata Kepala Desa Tapobali, Agustinus Bala Ledun.

Agustinus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal, terutama bagi generasi muda.

“Kita semua harus bersinergi dan bekerja sama menjaga budaya dan kampung kita. Ini adalah warisan leluhur yang patut dihidupkan secara turun-temurun,” ujarnya.

Sementara itu, Hendrikus Bua Kilok, yang akrab disapa Andika Kilok, menuturkan, Komunitas GEBETAN turut berkontribusi dalam menghidupkan kembali tradisi Balela Koborajan sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya Tapobali.

“Kami dari komunitas terus berupaya melestarikan bahan baku ritual seperti jali-jali, jewawut, dan sorgum. Ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai orang muda Tapobali untuk merawat budaya kami,” kata Andika.

Ia menegaskan, pelestarian pangan lokal memiliki keterkaitan erat dengan keberlangsungan budaya masyarakat Tapobali.

“Sangat penting melestarikan pangan lokal, karena dengan itu budaya kita juga akan tetap terjaga,” tegasnya. (alvin lamaberaf)