Pentas SEKAMI Jadi Oase: Anak NTT Tinggalkan Gadget, Rawat Iman dan Budaya

oleh -96 Dilihat

KUPANG, mediantt.com – Aula Gereja Paroki Sta. Maria Assumpta Kota Kupang dipenuhi semangat dan warna budaya, Rabu (19/3/2026), saat Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) Keuskupan Agung Kupang menggelar pentas seni bertajuk “Jejak Sang Petualang di Bumi Flobamorata.” Tak sekadar pertunjukan, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan iman, karakter, sekaligus kecintaan terhadap budaya lokal bagi anak-anak NTT.

Pagelaran tersebut menampilkan beragam tarian dan drama musikal dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur. Setiap penampilan merepresentasikan kekayaan budaya lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat NTT.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam sambutannya menegaskan bahwa pentas seni SEKAMI merupakan manifestasi nyata dari pembinaan iman yang berpadu dengan pembangunan karakter anak.

“Di tengah gempuran arus digitalisasi yang kencang, pagelaran seperti ini ibarat oase yang menumbuhkan karakter anak. Pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut pembangunan mental dan karakter generasi muda,” ujar Gubernur Melki.

Menurutnya, di balik setiap pertunjukan seni yang ditampilkan, terdapat proses pembelajaran yang mendalam. Anak-anak dilatih untuk disiplin, bekerja sama, serta bertanggung jawab dalam setiap peran yang mereka jalankan.

“Setiap gerakan yang dilatih, dialog yang dihafal, hingga kesalahan yang diperbaiki, menjadi bagian penting dari proses belajar yang bermakna,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa melalui pentas seni, anak-anak belajar menyatukan perbedaan dalam harmoni. Mereka memahami kapan harus memimpin, mengikuti, serta saling mendukung, sehingga menumbuhkan rasa solidaritas yang kuat.

Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri. “Ada kebanggaan yang tumbuh bahwa apa yang mereka tampilkan adalah bagian dari jati diri sebagai generasi berbudaya,” tambahnya.

Gubernur Melki juga menyoroti dampak positif kegiatan ini dalam mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

“Mereka melupakan ponsel sejenak. Di situlah transformasi mental dimulai. Anak-anak kembali pada interaksi nyata—tatap muka, tawa bersama, dan kebersamaan yang hangat,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pentas seni ini juga menjadi ruang pemersatu tanpa sekat sosial. “Tidak ada lagi perbedaan antara anak pejabat atau anak petani. Semua bersatu dalam semangat kekeluargaan,” tandasnya.

Sementara itu, Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, menyampaikan bahwa kegiatan ini mencerminkan wajah Gereja yang hidup dan dinamis.

“Melalui seni, anak-anak tidak hanya menampilkan bakat, tetapi juga menyatakan kasih Tuhan dengan cara yang penuh keceriaan dan menyentuh hati. Inilah Gereja yang hidup dan misioner,” katanya.

Ia berharap, nilai-nilai budaya yang ditampilkan dapat terus dilestarikan dan menjadi sarana pewartaan iman yang berkelanjutan. “Jadilah anak-anak misioner yang berani, kreatif, dan setia dalam iman,” pesannya.

Dirdios Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Agung Kupang, Romo Giovani Aditya L. Arum, Pr, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak dan remaja di tengah derasnya arus teknologi.

“Kita menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk berekspresi, membangun kebersamaan, dan tetap berakar pada budaya mereka,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa modernisasi kerap menjauhkan generasi muda dari akar budaya. Karena itu, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali identitas budaya mereka.

Menurutnya, kegiatan ini juga sejalan dengan hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 dan Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang, khususnya dalam penguatan pendidikan karakter anak dan remaja.

Selain itu, kegiatan ini mendukung program Pemerintah Provinsi NTT dalam upaya perlindungan, peningkatan kualitas hidup, serta pemberdayaan anak dan remaja di daerah tersebut. (*/jdz)