Obituari Pater Niko Strawn! Misionaris Amerika yang Berpulang sebagai Putra Lembata

oleh -135 Dilihat

LEWOLEBA, mediantt.com – Lembata kehilangan seorang penjaga kasih yang selama lebih dari enam dekade menulis kisah pengabdian dengan tinta kesetiaan. Ia tidak lahir di tanah ini, tetapi memilih menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk tanah ini.

Pater Nicholaus Strawn, SVD, misionaris asal Amerika Serikat, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pater Niko Strawn atau Tuan Niko, telah menutup perjalanan panjang pelayanannya pada Selasa, 4 Agustus 2026 pukul 12.20 Wita di Rumah Sakit Bukit Lewoleba, Kabupaten Lembata, dalam usia 92 tahun.

Kepergian Pater Niko bukan hanya kabar duka bagi Gereja Katolik dan keluarga besar Serikat Sabda Allah (SVD), tetapi juga menjadi kehilangan bagi masyarakat Lembata yang telah menjadikannya bagian dari sejarah hidup mereka.

Selama puluhan tahun, ia hadir bukan sekadar sebagai seorang imam, melainkan sebagai sahabat, bapak, dan gembala yang berjalan bersama umat dalam suka maupun duka.

Ia datang sebagai orang asing. Ia tinggal sebagai keluarga. Dan ia kembali kepada Tuhan sebagai putra Lembata.

Pater Niko lahir pada 24 September 1934 di Cedar Rapids, Oelwein, Amerika Serikat. Namun perjalanan hidupnya membawa ia jauh melampaui batas geografis kelahirannya.

Pada 20 Oktober 1963, sebagai seorang imam muda berusia 28 tahun, ia meninggalkan Amerika Serikat menuju Indonesia untuk menjalankan tugas misi. Perjalanan panjang menggunakan kapal SS President Madison menjadi awal dari sebuah kisah pengabdian yang kelak mengikat hidupnya dengan Lembata.

Setelah tiba di Indonesia pada akhir 1963, ia kemudian memulai karya pastoralnya di tanah Lembata pada Februari 1964 sebagai Pastor Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek, Kecamatan Atadei. Di wilayah pegunungan itu, ia menemukan ladang pengabdian yang sesungguhnya.

Selama 24 tahun melayani di Lerek, Pater Niko tidak hanya berdiri di altar, tetapi turun menyentuh kehidupan umat secara langsung. Ia berjalan melewati jalan-jalan berbatu, menyusuri kampung-kampung, mengunjungi keluarga sederhana, merayakan Ekaristi di stasi-stasi terpencil, memberkati perkawinan, membaptis anak-anak, serta menguatkan keluarga yang mengalami kehilangan.

Bagi masyarakat Atadei, ia bukan lagi sekadar seorang pastor dari negeri jauh. Ia telah menjadi bagian dari keluarga besar mereka. Kedekatan itu bahkan membuatnya mendapat panggilan khas “Tuan Niko Konok”, sebuah nama yang lahir dari hubungan akrabnya dengan budaya dan keseharian masyarakat setempat.

Setelah Lerek, perjalanan pelayanannya berlanjut ke Paroki Santo Yosef Boto, Kecamatan Nagawutung, dan kemudian Paroki Santo Arnoldus Janssen Waikomo, Lewoleba. Di setiap tempat yang ia datangi, ia meninggalkan jejak yang sama: kesederhanaan, ketekunan, dan kasih tanpa batas.

Bagi banyak keluarga Lembata, nama Pater Niko melekat dalam cerita kehidupan mereka. Ada anak-anak yang menerima baptisan dari tangannya. Ada pasangan yang menerima berkat perkawinan melalui pelayanannya. Ada keluarga yang menemukan kekuatan ketika ia hadir dalam masa duka.

Ia hadir ketika kehidupan dimulai.
Ia hadir ketika keluarga dibangun.
Ia hadir ketika manusia menghadapi kehilangan. Sebab bagi Pater Niko, pelayanan bukan sekadar tugas keagamaan, melainkan cara untuk mencintai manusia.

Rumah Sejati Bernama Lembata

Ada manusia yang lahir di suatu tempat tetapi tidak pernah benar-benar menemukan rumahnya di sana. Ada pula manusia yang lahir jauh di negeri lain, tetapi justru menemukan rumah sejatinya di tempat yang ia layani.

Pater Niko adalah manusia yang kedua. Secara kewarganegaraan ia adalah orang Amerika. Namun secara batin, ia adalah orang Lembata.

Ia pernah kembali ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun meninggalkan Amerika Serikat. Namun pengalaman itu justru memperlihatkan satu hal: hatinya telah tertanam jauh di tanah misi. Ia kemudian memilih kembali ke Indonesia, kembali kepada umat yang mengenalnya, dan kembali kepada tanah yang telah menjadi rumah hidupnya.

Lembata bukan sekadar tempat ia bekerja. Lembata adalah tempat ia memberikan dirinya.

Warisan Bukan Bangunan, Tetapi Kehidupan

Salah satu kenangan yang terus dikenang umat adalah perayaan emas imamat Pater Niko pada 2012 di Gereja Santo Arnoldus Janssen Waikomo. Di tengah cuaca yang tidak menentu dan hujan yang terus turun menjelang perayaan, ia tetap menunjukkan ketenangan seorang pelayan Tuhan.

Bagi banyak umat yang hadir, peristiwa itu menjadi kenangan iman tentang sosok yang memiliki kedalaman spiritual dan keteguhan hati.

Pada masa tuanya di Rumah Sakit Bukit Lewoleba, Pater Niko tetap menjalankan pelayanan dengan caranya sendiri. Ia berdoa, mempersembahkan misa, mengunjungi pasien, memberikan penguatan, dan menghadirkan senyum kepada siapa saja tanpa membedakan latar belakang mereka.

Tubuhnya semakin renta, tetapi cintanya kepada manusia tidak pernah kehilangan kekuatan.

Kini Pater Niko telah pergi. Namun warisan terbesarnya bukan hanya gereja yang pernah ia layani, bukan pula tempat-tempat yang pernah ia datangi. Warisan terbesarnya adalah teladan bahwa hidup yang diberikan bagi sesama tidak pernah benar-benar berakhir.

Ia mengajarkan bahwa seorang manusia tidak dikenang karena dari mana ia berasal, tetapi karena seberapa besar ia mencintai tempat yang dipilihnya untuk mengabdi.

Ketika kelak masyarakat melewati tempat peristirahatan terakhirnya, mereka tidak hanya akan melihat makam seorang imam. Mereka akan melihat kisah seorang misionaris dari negeri jauh yang menemukan rumah abadinya di sebuah pulau kecil bernama Lembata.

Selamat jalan, Pater Nicholaus Strawn, SVD. Engkau datang sebagai misionaris Amerika. Engkau hidup sebagai gembala umat. Dan engkau berpulang sebagai putra Lembata. (lakonawa/gerady tukan)