Merantau atau Sekolah? Pilihan Sulit Anak-anak Timor Tengah Selatan

oleh -268 Dilihat

Oleh : Erwince Fallo
Penerima Beasiswa LPDP, Studi Magister Biokimia di IPB University, Bogor.

BUKAN karena tak mampu, tapi karena tak percaya: anak-anak Timor Tengah Selatan (NTT) yang kehilangan harapan pendidikan.

Di hampir setiap desa di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, anak-anak menghadapi dilema yang berat: tetap bersekolah atau merantau untuk membantu keluarga. Pilihan ini bukan lahir dari ketidakmampuan, melainkan dari pudarnya kepercayaan terhadap pendidikan.

Menurut data BPS, lebih dari 21 ribu anak di Kabupaten TTS tidak melanjutkan pendidikan formal. Angka yang mencerminkan tantangan serius bagi masa depan generasi muda TTS.

Sehari-hari, rutinitas mereka seringkali dipenuhi oleh kebutuhan ekonomi keluarga. Bekerja sejak muda terasa lebih “nyata” dibanding sekolah, karena kenyataan yang mereka lihat: lulusan sekolah sering kembali ke kampung tanpa perubahan signifikan.

Masalah ini bukan hanya soal uang. Banyak anak mulai meragukan apakah pendidikan benar-benar bisa mengubah hidup. Pandangan ini diwariskan dari lingkungan sekitar: sekolah tinggi tidak selalu menjamin pekerjaan, dan menunda penghasilan terasa seperti risiko yang terlalu besar.

Saya memahami itu, karena saya juga berasal dari salah satu desa di TTS.

Saya, Erwince Fallo, lahir dan besar di Desa Tune, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pendidikan saya dimulai di SD Inpres Lilkase, kemudian SMP Negeri Tobu, SMA Kristen 1 Soe, hingga menempuh S1 Pendidikan Kimia di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Berkat kesempatan beasiswa LPDP, saya melanjutkan studi magister Biokimia di IPB University, Bogor.

Perjalanan ini membuktikan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan, meski kadang sulit terlihat dari kampung. Pendidikan bukan sekadar gelar, tetapi cara berpikir, melihat peluang, dan keberanian untuk bermimpi lebih besar dari keadaan.

Anak-anak di seluruh desa TTS, termasuk Desa Tune, memiliki potensi besar. Mereka hanya butuh alasan dan keyakinan bahwa sekolah adalah jalan menuju perubahan.

Jika hari ini mereka memilih merantau, semoga itu bukan karena menyerah, melainkan karena mereka belum menemukan jalannya. Semoga ke depan, semakin banyak anak-anak kampung yang berani menempuh pendidikan, karena dari sanalah perubahan, sekecil apa pun, akan mulai tumbuh. (*)