Melki Jadikan Job Fair Agenda Rutin Tiga Bulanan di NTT, Siapkan Ribuan Peluang Kerja

oleh -175 Dilihat

KUPANG, mediantt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan Pemerintah Provinsi NTT akan menjadikan Bursa Kerja (Job Fair) sebagai agenda rutin setiap tiga bulan yang digelar bergilir di berbagai wilayah di NTT.

Komitmen itu disampaikan Melki saat membuka Bursa Kerja dan Rapat Kerja Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian yang digelar Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi NTT di GOR Oepoi Kupang, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan 61 perusahaan dengan total 10.302 lowongan kerja untuk penempatan di NTT, luar daerah, hingga luar negeri.

Menurut Melki, job fair bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi langkah nyata mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan di tengah tingginya kebutuhan tenaga kerja.

“Job fair ini bentuk konkret hubungan baik antara pengusaha dan pekerja. Kalau hubungan industrial sehat, perusahaan mau membuka ruang dan masyarakat punya akses mendapatkan pekerjaan,” kata Melki.

Ia meminta seluruh pihak, termasuk perangkat daerah, perusahaan, asosiasi pengusaha, serikat pekerja, dan masyarakat aktif menyebarluaskan informasi lowongan kerja.

Melki mengaku prihatin karena jumlah pendaftar pada hari pertama masih rendah dibandingkan jumlah lowongan yang tersedia. “Saya minta mulai malam ini semua gerakkan media sosial, Facebook, Instagram, TikTok, ajak semua pencari kerja datang besok. Ada lebih dari 10 ribu lowongan kerja,” ujarnya.

Melki bahkan menargetkan 10 ribu pencari kerja hadir pada hari kedua pelaksanaan job fair. Ia memastikan kegiatan serupa akan terus dilaksanakan setiap tiga bulan dan berpindah-pindah lokasi, termasuk ke Flores dan Sumba, agar akses informasi kerja menjangkau masyarakat lebih luas.

“Ini kegiatan konkret membantu rakyat. Karena itu saya putuskan job fair dilaksanakan tiga bulan sekali dan berpindah tempat,” tegasnya.

Dalam arahannya, Melki menyebut peluang kerja di NTT terus meningkat seiring masuknya investasi dan berbagai program pembangunan. Ia mencontohkan investasi garam di Rote Ndao diperkirakan membutuhkan sekitar 26 ribu tenaga kerja saat beroperasi penuh. Selain itu, tambak udang vaname di Sumba serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diproyeksikan menyerap puluhan ribu pekerja.

“Satu dapur MBG bisa membutuhkan sekitar 50 pekerja. Kalau ada 600 dapur, kebutuhan tenaga kerja sangat besar,” katanya.

Melki juga menilai pekerja asal NTT memiliki reputasi baik karena dikenal pekerja keras, jujur, loyal, dan mudah beradaptasi. Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya peningkatan keterampilan teknis dan pemahaman budaya sebelum bekerja di luar daerah maupun luar negeri.
Selain itu, Pemprov NTT juga mendorong sistem penempatan pekerja migran terpusat di Kupang guna menekan praktik perdagangan orang dan percaloan tenaga kerja.

“Saya minta seluruh proses pekerja migran diselesaikan di NTT. Jangan lagi harus lewat Surabaya, Batam, atau Jakarta,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku telah berkomunikasi dengan maskapai penerbangan terkait peluang pembukaan rute langsung Kupang–Kuala Lumpur maupun Kupang–Singapura jika jumlah pekerja migran mencukupi.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi NTT, Yosef Rasi, mengatakan job fair tersebut merupakan upaya pemerintah memperluas akses informasi kerja dan mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan.

Dari total 10.302 lowongan kerja yang tersedia, sebanyak 5.371 lowongan berasal dari perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia, 4.344 lowongan untuk penempatan antar daerah, dan 577 lowongan dari perusahaan dalam NTT.
Namun hingga hari pertama pelaksanaan, jumlah pendaftar baru mencapai sekitar 1.390 orang.

“Kalau sampai besok tidak mencapai lima ribu pendaftar, berarti ada masalah dalam penyebaran informasi dan itu menjadi evaluasi kami,” kata Yosef.  (*/jdz)