Lonjakan Produksi Padi Jagung Antar NTT Terima Penghargaan PIN Swasembada Pangan Nasional

oleh -143 Dilihat

JAKARTA, mediantt.com – Upaya panjang memperkuat ketahanan pangan di wilayah beriklim kering akhirnya membuahkan hasil. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menerima Penghargaan PIN Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, bersama empat provinsi lainnya, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan Papua Pegunungan.

Penghargaan tersebut diserahkan di Jakarta, 12 Januari 2026, sebagai bentuk apresiasi pemerintah pusat kepada daerah yang dinilai berhasil menunjukkan lonjakan signifikan dalam produksi dan kinerja pembangunan pertanian, khususnya pada komoditas strategis padi dan jagung.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyebut capaian ini sebagai hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari perumusan kebijakan hingga kerja nyata di tingkat lapangan.

“Pemasangan PIN Swasembada Pangan ini adalah buah dari kerja keras dan kerja cerdas seluruh jajaran pertanian, dari dinas provinsi dan kabupaten, penyuluh, petugas pengendali organisme pengganggu tanaman, operator alsintan, hingga para petani. Swasembada pangan di NTT pasti bisa,” ujar Gubernur Melki, Jumat (16/1/2026).

Ia menegaskan, keberhasilan NTT sejalan dengan agenda besar Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Pertanian RI dalam mewujudkan swasembada pangan nasional, terutama untuk komoditas padi dan jagung.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, yang menerima langsung penghargaan tersebut, menjelaskan bahwa capaian ini menjadi istimewa karena ditopang oleh karakter wilayah NTT yang didominasi lahan kering seluas sekitar 1,8 juta hektare, sementara lahan sawah hanya sekitar 309.000 hektare.

“Dengan arahan Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur melalui Dasa Cita Melki-Johni, khususnya Dari Ladang Menuju Pasar dan Ayo Bangun NTT, kami melakukan gerakan masif pengembangan padi sawah dan padi gogo sepanjang 2025,” jelas Joaz.

Hasilnya terlihat signifikan. Luas tambah tanam padi tahun 2025 mencapai 250.528 hektare atau 96,11 persen dari target. Luas panen meningkat 25,92 persen dibandingkan 2024, sementara produksi padi melonjak sekitar 35–40 persen, menjadikan NTT sebagai salah satu provinsi dengan peningkatan produksi tertinggi secara nasional berdasarkan data prognosa BPS dan Kementerian Pertanian.

Keberhasilan ini turut didukung oleh penguatan sarana produksi dan modernisasi pertanian. Sepanjang 2024–2025, NTT menerima 3.072 unit alat dan mesin pertanian (alsintan), meliputi traktor roda dua dan roda empat, pompa air, rice transplanter, hingga combine harvester.

Pemerintah juga menyalurkan bantuan benih 100 persen untuk lahan seluas 17.567 hektare, mencakup benih padi gogo, biofortifikasi, dan intensifikasi.

Transformasi pertanian diperkuat melalui pembentukan 81 Brigade Pangan dari target 88 unit di 17 kabupaten/kota. Brigade ini berperan sebagai motor mekanisasi pertanian sekaligus wadah regenerasi petani muda berbasis korporasi.

Program Optimalisasi Lahan Kering (Oplah) seluas 28.723 hektare serta Cetak Sawah Rakyat (CSR) turut menjadi fondasi peningkatan indeks pertanaman. Di Kabupaten Kupang, misalnya, pembangunan sawah baru pada 2025 telah mencapai 423 hektare dari target 500 hektare.
Peningkatan curah hujan, perbaikan jaringan irigasi tersier, bantuan pompa air, serta peran aktif penyuluh; yang kini mendapat dukungan biaya operasional dari APBD, mendorong petani di sejumlah wilayah mampu menanam hingga dua bahkan tiga kali dalam setahun.

Pengakuan Nasional

Sebagai bagian dari penghargaan ini, Kementerian Pertanian RI juga memberikan apresiasi kepada PJ Swasembada Pangan Provinsi NTT Andi Faisal, S.P., M.P., serta Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, S.P., atas peran aktif mereka dalam mengawal agenda strategis swasembada pangan di NTT.

Penghargaan PIN Swasembada Pangan Nasional menegaskan posisi NTT sebagai contoh transformasi pertanian di wilayah dengan keterbatasan agroklimat. Dari Bumi Flobamora, NTT kini melangkah mantap menuju kemandirian pangan berkelanjutan, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia. (*/llt)