Jelang HUT ke-27 Lembata, Ritual Tutung Padu di Situs 7 Maret Hidupkan Semangat Taan Tou

oleh -82 Dilihat

Ritual Tutung Padu di Situs 7 Maret jelang HUT ke-27 Kabupaten Lembata.

HADAKEWA, mediantt.com – Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk menghadapi persoalan bersama. Pesan itu kembali hidup melalui Ritual Tutung Padu Solang Damar di Nek Nelo Lango Beruin, Rumah Situs 7 Maret 1954, Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kamis (8/10/2026).

Ritual digelar jelang Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Lembata yang akan dirayakan 12 Oktober 2026. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi refleksi bagaimana semangat persatuan leluhur diterjemahkan dalam pemerintahan dan pembangunan yang berpihak pada rakyat.

Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq dan Wakil Bupati H. Muhamad Nasir bersama Kajari Lembata, Sekda Paskalis Ola Tapo Bali, Wakapolres Lembata Kompol Andrew Agrifina Prima Putra, dan pejabat lainnya mengikuti napak tilas dan renungan suci di situs bersejarah itu.

Prosesi diawali ‘Ritual Wade Medohn Wedateken Nong Woho Nai’ di gerbang rumah situs, simbol melepaskan hal tidak baik sebelum masuk rumah adat. Pejabat diajak mengambil yang baik melalui Keru Baki Waiselan agar semangat melayani ribu ratu tetap terpelihara dan amanah.

Selanjutnya Tutung Padu Solang Damar. Bupati masuk dan duduk di Nek Nelo Lango Beruin bersama perwakilan Hamente, Kakan. Bupati menyalakan lilin atau obor kepada perwakilan Hamente dan Lebala sebagai simbol semangat perjuangan masyarakat Lembata yang terus menyala tak padam.

Dilanjutkan Tekan Wua Gelu Wayak Tang Toi Oneket, Tenu Tuak Pekat Neak Tang Lile Yoneket, makan sirih pinang dengan tukar wayak dan minum tuak dengan tukar neak sebagai simbol kebersamaan dan saling mengetahui isi hati. Ritual dipandu budayawan Lembata, Linus Beseng.

Persatuan 6 Unsur Lomblen

Ritual menghidupkan ingatan kolektif perjuangan masyarakat Lomblen yang melibatkan lima hamente dan satu kerajaan: Hamente Lewotolok, Hamente Kalikur, Hamente Kawela, Kakang Hadakewa, Kakan Lamalera, dan Lebala. Mereka bersatu membebaskan masyarakat Lomblen dari penindasan dan kemiskinan.

Jika leluhur mampu menyatukan perbedaan demi kepentingan bersama, bagaimana generasi sekarang menjaga persatuan di tengah tantangan pembangunan yang kompleks?

Pembangunan tak hanya butuh anggaran dan infrastruktur, tapi kepercayaan, solidaritas, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas kelompok.

Linus Beseng menjelaskan tradisi ini mengandung tiga pesan utama: bersyukur atas perlindungan setahun, memohon maaf atas kesalahan tutur dan tindakan, serta memohon kesehatan dan kekuatan agar pemimpin terus melayani dengan baik.

Rasa syukur ajarkan kerendahan hati, permohonan maaf ingatkan pentingnya akui kekurangan, harapan tahun berikutnya tegaskan pelayanan adalah tanggung jawab yang harus terus diperbaiki.

Jabatan bukan sekadar kewenangan, melainkan amanah. Keberhasilan bukan hanya capaian administratif, tapi manfaat yang dirasakan rakyat, kualitas pelayanan, dan kepercayaan.

Harapan rakyat yang disampaikan lewat ritual sangat mendasar: hidup sehat, kebutuhan terpenuhi, anak dapat pendidikan baik, dan keluarga hidup tenang di kampung halaman.

Taan Tou Sebagai Fondasi

Pesan persatuan sejalan dengan semangat Taan Tou. Tang Oneket Tou Kiringet Ehaken: Satu hati satu pikiran satu perkataan dan perbuatan sebagai kekuatan pembangunan.

Persatuan bukan meniadakan perbedaan, tapi membangun dialog, saling menghormati, dan bekerja bersama demi Lembata. Kritik tetap bagian demokrasi, tapi harus memperbaiki keadaan, bukan memperlebar perpecahan.

Kemajuan tak bisa dibebankan hanya pada pemerintah. Masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dunia usaha, kaum muda, semua punya peran.

Sebagai bagian rangkaian, dilakukan penanaman pohon di depan Rumah Situs 7 Maret 1954 sebagai simbol keteduhan dan kesejukan. Warisan sejarah harus dirawat seperti lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Hadir pula Ketua TP PKK Lembata Ursula Surat Bayo Tuaq, staf ahli TP PKK Nurmila Nasir, Ketua Dharma Wanita Maria Anastasia Bara Baje, serta Staf Ahli Bupati dan para Asisten Setdakab Lembata.

Situs 7 Maret 1954 bukan hanya tempat menoleh ke masa lalu. Ia mengingatkan persatuan pernah jadi kekuatan penting perjuangan Lomblen. Tantangan generasi sekarang menjaga nilai itu agar tak berhenti sebagai warisan simbolis.

Taan Tou harus jadi sikap hidup: bersatu dalam perbedaan, gotong royong hadapi kesulitan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas pribadi atau golongan. Sebab Lembata tidak dibangun satu orang atau satu kelompok, melainkan seluruh masyarakat yang berjalan bersama demi Lewotana.

Semangat itulah yang patut dibawa dari Situs 7 Maret menuju masa depan Lembata: merawat sejarah, memperkuat persaudaraan, dan menjadikan persatuan sebagai fondasi pembangunan yang adil, bermartabat, dan berkelanjutan. (Lakonawa/Prokompimkablembata)