Gerakan Cinta Produk NTT Dimulai dari Atambua, NTT Mart Jadi Etalase Ekonomi Perbatasan

oleh -164 Dilihat

Peresmian NTT Mart by Dekranasda Belu.

ATAMBUA, mediantt.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi meluncurkan NTT Mart by Dekranasda Belu sebagai pusat pemasaran terpadu produk lokal untuk memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.

Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, di Galeri Tenun, Jalan Marsda Adi Sucipto, Haliwen, Atambua, Kabupaten Belu, Senin (1/12/2025).

Kegiatan ini dihadiri Anggota DPRD NTT Agus Nahak, Bupati Belu Willybrodus Lay, Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves, Forkopimda Belu, Sekda Belu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT Soni Libing, pimpinan perangkat daerah, serta Kepala SMA Surya, Romo Benyamin Seran.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan, NTT Mart adalah bagian dari gerakan besar membangun kemandirian ekonomi berbasis produk lokal.

“NTT Mart adalah gerakan agar masyarakat NTT mencintai, memproduksi, dan mengonsumsi produk lokal. Kalau barang ada di NTT, tidak perlu beli dari luar,” tegas Gubernur.

Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan kampanye nasional Aku Cinta Indonesia pada masa Presiden Soeharto serta konsep Trisakti Presiden Soekarno tentang kemandirian ekonomi. Spirit itu kini diterjemahkan dalam gerakan “Aku Cinta Produk NTT.”

Gubernur menekankan bahwa produk lokal harus menjadi pilihan utama masyarakat, sementara produk luar hanya sebagai pelengkap. Namun tantangan terbesar UMKM NTT saat ini adalah kontinuitas produksi.

“Banyak UMKM mampu memproduksi, tetapi tidak konsisten tiap bulan. Inilah yang membuat pasar kita sulit berkembang,” ujarnya.

Ia mencontohkan potensi besar olahan jantung pisang yang bisa bernilai tinggi jika diolah dan dikemas dengan baik. Pola ekonomi lama “tanam–panen–jual mentahan” harus diubah menjadi olah–kemas–jual agar nilai tambah tetap dinikmati masyarakat.

Untuk memperkuat perputaran ekonomi lokal, Gubernur Melki mengumumkan kebijakan wajib belanja produk lokal bagi ASN menjelang Natal dan Tahun Baru.

“ASN diwajibkan membeli minimal Rp100 ribu produk dari NTT Mart. Dengan 4.000–5.000 ASN di Belu, potensi perputaran uang bisa mencapai Rp5 miliar dalam satu periode belanja,” jelasnya.

Ia menegaskan, kebijakan ini lazim diterapkan di banyak negara untuk menggerakkan ekonomi lokal dan tidak membebani ASN karena kebutuhan belanja akhir tahun memang sudah menjadi tradisi.

Apresiasi Inovasi Pelajar SMK

Gubernur juga mengapresiasi inovasi pelajar SMK, termasuk kompor induksi buatan siswa SMK 4 Kupang yang akan didorong masuk ke NTT Mart. Ia meminta penguatan program One School One Product (OSOP) dan One Community One Product (OCOP) sebagai basis penggerak ekonomi dari akar rumput.

Sebagai wilayah perbatasan internasional, standar produk UMKM Belu harus lebih tinggi. Karena itu, akan dilibatkan Balai POM dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

“Belu adalah gerbang internasional Indonesia–Timor Leste. Produk UMKM harus memenuhi standar nasional dan internasional,” tegasnya.

Gubernur juga mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan seperti BRI, Bank Mandiri, dan Bank NTT.

“Dana KUR nasional nilainya ratusan triliun. Masyarakat jangan takut mengakses modal untuk mengembangkan usaha,” katanya.

Gubernur juga mengungkap rencana kerja sama antara Pemprov NTT dengan Tiongkok, meliputi pembangunan Pusat Bahasa Mandarin Indonesia Timur di Kupang, kerja sama sister city Belu–Jinggangshan, peluang investasi pengolahan kayu, serta pengembangan desa wisata. Kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Mengakhiri sambutannya, Gubernur Melki secara resmi membuka NTT Mart Belu dengan memohon restu masyarakat dan berkat Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, Bupati Belu Willybrodus Lay mengatakan, NTT Mart merupakan langkah strategis memperluas pemasaran produk lokal di kawasan perbatasan.

“Dengan jumlah penduduk NTT sekitar lima juta jiwa, sudah selayaknya hadir pasar modern khusus untuk produk lokal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Atambua dipilih sebagai lokasi launching pertama karena berada di jalur utama perjalanan warga Timor Leste menuju Kupang.

“Setiap hari ada 5–7 bus dari Timor Leste yang selalu singgah makan siang di Atambua. Ini peluang besar bagi NTT Mart,” jelasnya.

Bupati mengusulkan agar kawasan tersebut dikembangkan menjadi rest area perbatasan lengkap dengan pujasera kuliner khas NTT. Ia juga memuji kerja cepat Dinas Perindag dan Dekranasda Belu yang berhasil menyiapkan lokasi meski sebelumnya masih banyak kerusakan.

“Seminggu lalu masih bocor di sana-sini, tetapi karena mau diresmikan, semua langsung disulap,” ujarnya.

Ke depan, Pemkab Belu akan mengembangkan produk unggulan seperti selai nanas organik, olahan kelapa, bunga matahari, chia seed, coconut roasted, dan produk pertanian lainnya.

Belu juga akan memiliki dua NTT Mart, yakni NTT Mart by Dekranasda Belu dan NTT Mart Kota Atambua yang dikelola bersama Koperasi Merah Putih.

ASN di Belu diwajibkan berbelanja melalui marketplace NTT Mart dan Koperasi Merah Putih, agar ekonomi berputar dalam satu ekosistem digital. “Lewat marketplace ini, produk sekecil pisang goreng pun bisa dijual,” tambahnya.

Dalam laporan panitia, Kadis Perindag NTT Soni Libing menyampaikan bahwa NTT Mart merupakan hasil kolaborasi Pemprov NTT, Pemkab Belu, dan dukungan penuh Dekranasda Belu.

Saat ini terdapat 950 produk IKM dari 23 pelaku usaha, mencakup sekitar 100 jenis fashion, kriya, dan kuliner.

“Produk dibeli putus oleh pemerintah sebelum dipasarkan sehingga UMKM tidak terbebani risiko penjualan. Margin keuntungan maksimal hanya 10 persen agar harga tetap terjangkau,” jelasnya.

Peluncuran NTT Mart akan berlanjut ke wilayah TPS, Flores, dan Timor, sesuai instruksi Gubernur untuk pendirian NTT Mart di 22 kabupaten/kota.

Usai peresmian, Gubernur Melki bersama jajaran meninjau langsung produk-produk yang dipamerkan di NTT Mart Belu. (*/jdz)