Oleh : Waldus Selan *)
DI TENGAH perkembangan dunia saat ini, Gereja Katolik sering dihadapkan dengan berbagai tantangan. Bukan persoalan jumlah umat yang berkurang, melainkan inti kedalaman iman mereka karena sering muncul pertanyaan pastoral yang terus mendesak bahwa dalam perayaan ekaristi kudus, apakah umat sungguh mengalami persatuan dengan Kristus atau hanya mengikuti perayaan sebagai formalitas keagamaan belaka? Pertanyaan ini sering muncul di kalangan umat khususnya kaum muda. Banyak anak muda Katolik memang tidak meninggalkan gereja, namun pengalaman akan kehidupan spiritual mereka perlahan mulai memudar.
Secara fisik, mereka memang hadir mengikuti perayaan, namun tidak secara batiniah karena terkadang ekaristi hanya dilihat sebagai suatu perayaan yang terlalu formal dan simbolik tanpa menyentuh inti persoalan yang sedang mereka alami. Sacrosanctum Concilium artikel 7 menegaskan bahwa melalui tindakan-tindakan liturgi dalam gereja khususnya melalui ekaristi, Kristus sungguh dihadirkan sehingga ekaristi yang dirayakan berdaya guna dan menjadi titik perjumpaan antara Allah dan manusia. Namun kenyataannya, ada yang hadir hanya untuk memenuhi tuntutan atau memenuhi kewajibannya sebagai penganut agama Katolik, ada juga yang hadir karena sekedar mengikuti kebiasaan dari keluarganya dan takut dinilai tidak religius.
Di era digital saat ini, fenomena tersebut semakin jelas bahwa pada akhirnya perayaan ekaristi tidak lagi dilihat sebagai ruang kontemplasi tetapi sebagai ruang dokumentasi. Banyak umat yang setelah misa lebih sibuk mengambil foto di dalam gereja, merekam bagian tertentu saat perayaan berlangsung lalu momen itu diunggah ke media sosial supaya terlihat bahwa mereka “aktif” atau menjadi bagian dari gereja. Namun di situ mereka lupa untuk merefleksikan pengalaman rohani yang dialami dalam perayaan tersebut.
Perihal mengabadikan momen kebersamaan dalam perayaan berlangsung atau setelah perayaan memang tidak dilarang, namun yang menjadi persoalannya adalah ketika pengalaman dalam perayaan ekaristi hanya sampai pada tampilan luarnya saja tanpa menyentuh inti terdalam dari perayaan tersebut, yakni persatuan umat dengan Kristus yang sungguh hadir dalam ekaristi kudus. Akibatnya, perayaan ekaristi cenderung hanya dipahami sebagai bagian dari identitas yang perlu dibagikan di media sosial dan bukan lagi sebagai suatu penghayatan nilai iman yang membawa perubahan dalam hidup.
Situasi inilah yang sedang dihadapi gereja saat ini, yakni tidak hanya mendorong umat untuk terlibat aktif dalam perayaan ekaristi saja, namun gereja juga harus berusaha membantu mereka untuk menemukan kembali makna kehadiran di dalam perayaan tersebut. Alasannya, ekaristi kudus bukanlah sebuah ritual yang cukup dijalankan secara baik dan benar saja, melainkan merupakan sebuah sakramen yang menjadi sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani, yang di dalamnya manusia diundang untuk membangun relasi yang lebih intens dengan Allah dan sesamanya. Sebagaimana ditegaskan oleh Yesus dalam Injil Yohanes 6:56 bahwa “barangsiapa makan daging-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”. Inilah makna persekutuan itu bahwa melalui sakramen yang dirayakan, umat tidak hanya mengenang peristiwa keselamatan Kristus saja, melainkan di dalamnya manusia juga dipersatukan dengan-Nya.
Dalam tradisi gereja Katolik yang sudah lama berkembang, ekaristi ditempatkan sebagai pusat kehidupan iman umat karena melalui ekaristi manusia dipersatukan dengan Kristus. Katekismus Gereja Katolik 1324 menegaskan bahwa ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup kristiani. Karena itu perayaan ekaristi perlu dijaga secara serius supaya tidak menghilangkan nilai kesakralannya, mengingat praktik pastoral di era modern ini bisa menyebabkan kesalahpahaman terhadap nilai kesakralannya. Ekaristi yang seharusnya dirayakan dengan penuh penghayatan, bisa direduksi menjadi suatu formalitas keagamaan saja. Akibatnya, banyak individu sering terjebak dalam pemahaman itu bahwa masing-masing bisa mengklaim diri sebagai “orang baik” karena rajin mengikuti misa, namun nyatanya mereka masih mengalami banyak pergulatan karena ekaristi yang dirayakan tidak membawa dampak apa-apa.
Dalam kaitan dengan ini, Martin Heidegger dalam refleksinya tentang keotentikan hidup bisa membantu memahami situasi tersebut. Ia mengatakan bahwa “manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu mencari arti keberadaannya tanpa batas. Suatu hal dianggap berguna dan bermakna ketika dialami secara otentik, bukan hanya dijalankan sebagai formalitas belaka.” Pemikiran ini bisa membantu gereja dalam melihat situasi kehidupan umat bahwa banyak dari mereka mengalami kesulitan untuk memahami kehadiran Kristus dalam hidup mereka, seperti tekanan ekonomi, kecemasan terhadap masa depan, merasa kesepian akibat budaya digital, dan berbagai persoalan hidup lainnya. Akibatnya ekaristi tidak lagi dipandang sebagai pengalaman iman yang membawa perubahan dalam hidup mereka.
Karena itu, tantangan gereja saat ini bukan hanya tentang mempertahankan tradisi atau beradaptasi dengan arus perkembangan dunia, tetapi juga tentang cara gereja dalam menghadirkan perayaan ekaristi yang sakral dan mampu menyentuh pengalaman konkret yang dialami umat. Umat saat ini khususnya generasi muda, perlu dibantu untuk memahami mengapa ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan iman mereka karena saat ini, banyak generasi muda sering mencari makna hidup di luar gereja bukan karena menolak gereja, melainkan karena mereka ingin mencari ruang dan pengalaman spiritual yang bersentuhan langsung dengan persoalan yang mereka alami.
Di sini gereja harus membangun sebuah pendekatan yang lebih dialogis dan manusiawi tanpa menghilangkan identitasnya. Tradisi tetap penting, dogma tetap menjadi dasar, dan kesakralan tetap dijaga tanpa menimbulkan jarak pemisah yang membuat umat merasa terasing di rumahnya sendiri. Misalnya dalam homili, perlu dikontekstualkan dengan apa yang mereka alami seperti cemas akan masa depan, krisis ekonomi, maupun tantangan penggunaan media sosial, karena banyak umat sering merindukan pengalaman spiritual yang lebih autentik terlebih kaum muda yang sedang berusaha menemukan arah hidup dan makna keberadaannya di tengah perkembangan zaman. Selain itu, juga diperlukan adanya penjelasan yang lebih komprehensif bahwa ekaristi tidak hanya sekedar ritus yang wajib dijalankan, tetapi harus ada pemaknaan terhadap nilai-nilai iman yang terkandung di dalamnya seperti solidaritas, pengharapan, dan kasih persaudaraan.
Maka di tengah perkembangan dunia yang dipenuhi budaya pencitraan digital dan individualitas ini, gereja hadir melalui perayaan ekaristi dan memberi ruang bagi setiap orang untuk masuk dalam permenungan pribadi dan berusaha menemukan kembali inti terdalam dirinya. Dengan demikian perayaan ekaristi tidak hanya dipertahankan sebagai bagian dari tradisi gereja, tetapi sungguh dihayati sebagai sumber kekuatan iman dan sarana untuk hidup bersatu dengan Kristus serta mampu mewujudkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan setiap hari. (*)
*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
