Problematika Hoax di Indonesia: Analisis Filosofis Menurut Perspektif Rene Descartes dan Parmenides

by -128 views
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82?

Ilustrasi Hoax

Oleh : Christopher Genaro Ndopo
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang

ABSTRAK

Dalam era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, fenomena hoaks atau penyebaran informasi palsu telah menjadi masalah serius di masyarakat Indonesia. Hoaks dapat mengaburkan opini publik dan menciptakan kepanikan massal, terutama menjelang pemilihan umum. Artikel ini menyoroti pentingnya sikap kritis dan selektif dalam memilah informasi dengan menggali perspektif Rene Descartes dan Parmenides.

Descartes mengajarkan pendekatan skeptisisme dan sistematisasi pikiran untuk mencapai pengetahuan yang valid, sementara Parmenides menekankan penggunaan akal budi untuk memahami realitas yang tidak berubah. Diharapkan, pendekatan ini dapat meningkatkan literasi digital masyarakat dan meminimalisir dampak negatif hoaks.
Kata kunci: hoaks, teknologi informasi dan komunikasi, Rene Descartes, Parmenides, literasi digital.

PENGANTAR

Dewasa ini kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan sangat cepat. Tentunya melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini, masyarakat terbantu untuk melakukan setiap aktivitas agar dapat dikerjakan dengan mudah serta mengurangi resiko yang ada. Namun dampak yang dirasakan oleh masyrakat tidak hanya seputar manfaat positifnya saja melainkan dampak negatifnya juga turut dirasakan oleh masyarakat.

Salah satu dampak negatif yang paling masif dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini adalah fenomena hoax atau penyebaran informasi palsu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Fenomena hoaks ini dapat berdampak buruk bagi setiap aspek atau segi kehidupan masyarakat karena hoaks dapat mengubah opini publik yang semula benar menjadi kabur, sehingga masyarakat sulit membedakan mana informasi yang benar-benar sebuah fakta dan mana informasi palsu (Rahmawati et al., 2023).

Fenomena hoaks juga bisa menjadi sumber informasi yang memengaruhi pandangan masyarakat meskipun berita yang disampaikan tidak benar. Hal ini karena pengetahuan yang diperoleh dari hoaks dapat mempengaruhi cara masyarakat membentuk opini mereka. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengetahuan memiliki kekuatan untuk memengaruhi pendapat masyarakat, dan hal yang sama berlaku untuk hoaks. Dampak dari penyebaran hoaks di masyarakat adalah terbentuknya opini publik yang sering kali menciptakan kepanikan dan ketakutan massal(Rahmawati et al., 2023).

Fenomena hoax atau penyebaran informasi palsu ini juga terus meningkat khususnya di Indonesia, dengan munculnya berbagai kasus yang sangat meresahkan masyarakat, contohnya seperti kasus yang terjadi menjelang pemilihan umum (Pemilu) tahun 2024 yang mengakibatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) kewalahan dalam menghadapi fenomena hoax, demi memperlancar proses pemilihan Presiden Republik Indonesia periode 2024 – 2029 (Triatmojo, 2022). Kasus ini tentu sangat meresahkan masyarakat Indonesia yang ingin melangsungkan pesta demokrasi. Oleh karena itu, dalam menghadapi fenomena hoaks, dibutuhkan peranan aktif dari masyarakat sebagai konsumen atau objek informasi agar lebih kritis dan selektif dalam mengolah sebuah informasi sehingga masyarakat tidak mudah terpapar informasi palsu atau hoaks.

Tujuan dari penulisan essay ini adalah,1) untuk mengetahui bagaimana fenomena hoaks dapat muncul. 2) mencari solusi yang tepat dalam menyelesaikan persoalan hoaks dengan menggunakan metode Rene Descartes dan juga Parmenides. Dari penulisan ini penulis berharap agar masyarakat lebih bersikap kritis dan selektif dalam mengolah sebuah informasi.

Metode penulisan yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif karena proses pencarian informasi bertumpu pada kajian pustaka. Dalam penulisan essay ini penulis akan menganalisis problematika hoaks yang terjadi dari sudut pandang Rene Descartes dan juga Parmenides, keduanya merupakan filsuf aliran rasionalisme yang menekankan penggunaan ratio atau akal budi dalam memperoleh sebuah pengetahuan yang benar. Penulis akan menganalisis bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia menyikapi problematika hoaks dengan menggunakan metode atau teori dari dua filsuf aliran rasionalisme tersebut, berdasarkan referensi yang penulis dapatkan dari media online maupun offline.

PEMBAHASAN : Problematika Hoaks di Indonesia

Fenomena hoaks di Indonesia bukanlah hal yang baru. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadi latar belakang munculnya fenomena ini. Meskipun Indonesia, dilihat dari realita yang ada masih memilki fasilitas teknologi yang belum memadai, namun masyarakat Indonesia sudah cukup tahu tentang berbagai isu yang tersebar di kalangan masyaraka (Bahri, 2022). Problematika hoaks juga muncul di Indonesia akibat kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering atau senang menyebarkan berita bohong ke khalayak ramai. Hal ini terjadi akibat kebiasaan masyarakat Indonesia yang memilki gaya komunikasi yang kaku dan formal, dimana hal ini sangat membutuhkan identitas diri masyarakat itu sendiri (Rahmawati et al., 2023).

Hoaks di Indonesia pada dasarnya mencerminkan perspektif sebagian orang mengenai isu politik. Pengalihan isu secara persuasif agar menarik perhatian simpatisan, dan menjatuhkan lawan adalah hal-hal yang sering terjadi di platform digital. Platform digital seperti, Twitter, Facebook dan Instagram sering menjadi tempat keributan akibat isu-isu hoaks dunia politik. Oknum buzzer yang menyebar isu di berbagai platform media sosial membuat hoaks tampak seperti penyakit yang tidak bisa diobati. Sangat sulit dihentikan, dan sekali diberi klarifikasi, justru klarifikasi tersebut yang dipertanyakan keabsahannya (Bahri, 2022). Tidak hanya isu politik, isu mengenai SARA, kesehatan, ekonomi, berita duka, iptek, serta bencana alam turut mewarnai dunia kebohongan berita di Indonesia. Ini adalah motif dari penyebaran hoaks di Indonesia agar dapat mempengaruhi opini publik secara masif (Rahmawati et al., 2023).

Analisis Problematika Hoaks, Perspektif Rene Descartes dan Parmenides

Rene Descartes merupakan seorang filsuf aliran rasionalisme berkebangsaan Perancis, yang dilahirkan di sebuah tempat bernama La Hoye Totiraine, daerah kecil di Pearancis bagian tengah pada tanggal 31 Maret 1596. Ia menempuh pendidikan di Universitas Jesuites di La Fleche dari tahun 1604-1612 dengan mengambil bidang Matematika. Ia mulai serius dalam bidang filsafat, dengan berpikir keras dan mempertanyakan segalanya, apakah Tuhan itu ada? Apakah dunia itu benar-benar ada? Dan apakah saya benar-benar ada? (Latifah et al., 2024).

Dari pertanyaan ini muncul sebuah ungkapan khas Descartes yakni “cogito ergo sum” yakni saya berpikir maka saya ada (Marvida & Lahabu, 2023). Ia juga mengemukakan sebuah metode, yakni metode skeptisme. Ia mengatakan bahwa jika seseorang ragu-ragu maka ia sedang berpikir inilah alasan yang membuat ia mengemukakan metode tersebut. Descartes juga berpendapat bahwa dalam mempelajari filsafat setiap orang harus memiliki metode atau cara masing-masing agar mendapatkan hasil yang benar-benar logis sebagaiamana ia sendiri menggunakan metodenya yakni skeptisme dengan mempertanyakan sesuatu secara terus-menerus hingga memperoleh hasil yang benar-benar logis(Latifah et al., 2024).

Parmenides merupakan filsuf prasokratik yang hidup pada abad ke-5 SM di kota Elea yang letaknya berada di Magna Graceia, sebuah wilayah yang sekarang merupakan wilayah dari Italia bagian selatan. Ia cukup berpengaruh di kalangan masyarakta Elea karena memilki kebijaksanaan dan pemikirannya yang mendalam perihal alam semesta dan realitas(Suhandoko, 2024a). Bagi Parmenides realitas sejati dan tak dapat berubah hanya dapat dipahami melaui ratio atau akal budi manusia, bukan hanya dengan pengalaman empirik manusia itu saja. Pendapatnya ini bertolak dari ungkapannya yang cukup terkenal yaitu “yang tak dapat dipikirkan, tak dapat ada” yang didasarkan pada refleksinya terhadap realitas (Suhandoko, 2024b).

Baik Rene Descartes maupun Parmenides sama-sama menekankan pentingnya penggunaan ratio dalam memperoleh sebuah pengetahuan yang benar dan logis. Bagi Descartes manusia harus menjadi titik awal dalam pencariannya akan prinsip-prinsip dasar yang kokoh dan tak terbantahkan. Ia memulai proses ini dengan memeriksa dan merenungkan ide-ide serta pemikiran yang dimiliki oleh setiap individu manusia. Dari ide-ide yang ada dalam pikiran manusia tersebut, Descartes kemudian bekerja secara sistematis dan metodis untuk mengekstrapolasi, mengeksplorasi, dan mengembangkan prinsip-prinsip yang lebih luas dan universal. Melalui pendekatan ini, ia berharap dapat membangun fondasi pengetahuan yang tidak hanya valid secara individual, tetapi juga dapat diterima dan diakui kebenarannya oleh semua orang. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan Descartes bahwa ide-ide bawaan manusia dapat menjadi dasar yang kuat untuk membangun sistem pengetahuan yang logis dan koheren (Grnum et al., 2008).

Berangkat dari argumen Descartes ini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat harus bisa bersikap kritis dan selektif dalam mengolah sebuah informasi. Dengan demikian ada beberapa langkah yang ditawarkan oleh Descartes agar orang dapat mengolah sebuah informasi secara tepat yaitu :

a. Jangan menerima sesuatu sebagai kebenaran kecuali jika hal itu benar-benar jelas dan tegas sehingga tidak ada keraguan yang dapat menghalanginya.

b. Pecahkan setiap masalah atau kesulitan menjadi sebanyak mungkin bagian kecil agar dapat diatasi dengan lebih mudah.

c. Pikirkanlah segala sesuatu secara teratur, mulai dari hal-hal yang paling sederhana dan mudah dipahami, lalu secara bertahap menuju hal-hal yang paling sulit dan kompleks.

d. Selama proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal yang sulit, selalu lakukan perhitungan yang sempurna dan pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita dapat memastikan bahwa tidak ada satu pun yang diabaikan sepanjang perjalanan tersebut (Karimaliana et al., 2023).

Sama halnya dengan Rene Descartes, Parmenides pun menekankan pentingnya penggunaan akal budi dalam melihat sebuah realitas agar tidak kabur. Parmenides berargumen bahwa realitas adalah satu, tidak berubah, dan abadi. Menurut Parmenides, perubahan dan keberagaman yang kita lihat di dunia adalah ilusi, dan hanya melalui pemikiran rasional kita dapat mencapai kebenaran yang sejati (Suhandoko, 2024a).

Dari pernyataan Parmenides ini dapat disimpulkan bahwa dalam menyikapi hoaks, kita harus melampaui penampakan permukaan dan mencari inti kebenaran yang tidak berubah dan abadi melalui pemikiran rasional dan logis. Parmenides menekankan pentingnya menggunakan akal budi untuk menyaring informasi yang benar dan tidak membiarkan diri terpengaruh oleh penampakan yang menipu.

Penutup

Dalam era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, fenomena hoaks atau penyebaran informasi palsu telah menjadi masalah serius di masyarakat, terutama di Indonesia. Hoaks dapat mengaburkan opini publik dan menciptakan kepanikan massal, mengancam integritas proses demokrasi seperti dalam pemilihan umum. Dalam menghadapi masalah ini, masyarakat perlu lebih kritis dan selektif dalam memilah informasi yang diterima.

Rene Descartes dan Parmenides, sebagai filsuf rasionalis, menawarkan perspektif tentang pentingnya penggunaan akal budi dan ratio dalam memahami dan menyaring kebenaran. Descartes mengajarkan untuk mempertanyakan segala sesuatu secara mendalam dan sistematik, sementara Parmenides menekankan bahwa hanya melalui pemikiran rasional kita dapat mencapai pemahaman yang benar tentang realitas yang tidak berubah. Penelitian berikutnya dapat fokus pada pengembangan alat atau strategi untuk meningkatkan literasi digital masyarakat dalam mengenali hoaks, serta implementasi pendekatan filosofis Descartes dan Parmenides dalam pendidikan dan advokasi publik untuk membangun kesadaran kritis yang lebih baik. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta masyarakat yang lebih waspada dan terlindungi dari dampak negatif hoaks. (***)

DAFTAR PUSTAKA

Bahri, A. S. (2022). Memproteksi Peserta Didik dari Bahaya Hoaks Dengan Literasi Kritis. Lentera : Jurnal Kajian Bidang Pendidikan dan Pembelajaran, 2(2), 39–44. https://doi.org/10.56393/lentera.v2i2.435

Grnum, N. J., Th, B., & Th, M. (2008). Hermeneutiese vertrekpunte in die GKSA in ” n post-moderne denkklimaat : ’ n evaluering Hermeneutiese vertrekpunte in die GKSA in ’ n post-moderne denkklimaat : ’ n evaluering.

Karimaliana, M.Zaim, & Thahar, H. E. (2023). Pemikiran Rasionalisme : Tinjauan Epistemologi terhadap Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Manusia. Journal of Education Research, 4(4), 2486–2496.

Latifah, S., Syukri, & Nasution, H. (2024). Pemikiran Filsafat Rene Descartes. Innovative: Journal of Social Research, 4(1), 5.

Marvida, T., & Lahabu, Y. (2023). Epistemologi Rasionalistik Rene Descartes Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Madrasah Ibtibadiyah. 1, 1–8.

Rahmawati, D., Setyo Putro Robawa, R., Faiq Al Abiyyi, M., Daffa NRF, P., Ilman Nugraha, R., Puguh Margono, F., Praditya, Mi. A., & Sholihatin, E. (2023). Analisis Hoaks dalam Konteks Digital: Implikasi dan Pencegahannya di Indonesia. Journal Of Social Science Research, 3(2), 10819–11082.

Suhandoko. (2024a). Analisis Kritis “On Nature” oleh Parmenides: Sebuah Tinjauan Mendala. wisata.viva.co.id. https://wisata.viva.co.id/pendidikan/8688-analisis-kritis-on-nature-oleh-parmenides-sebuah-tinjauan-mendalam?page=1Oleh : Suhandoko

Suhandoko. (2024b). “Yang Tak Dapat Dipikirkan Tak Dapat Ada”-
Parmenides. wisata.viva.co.id. https://wisata.viva.co.id/pendidikan/8694-yang-tak-dapat-dipikirkan-tak-dapat-ada-parmenidesOleh : Suhandoko

Triatmojo, D. (2022). KPU Akui Tak Bisa Kerja Sendirian Hadapi Fenomena Hoaks Pemilu Era Digital Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul KPU Akui Tak Bisa Kerja Sendirian Hadapi Fenomena Hoaks Pemilu Era Digital. Tribunnews.com. https://www.tribunnews.com/nasional/2022/07/22/kpu-akui-tak-bisa-kerja-sendirian-hadapi-fenomena-hoaks-pemilu-era-digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *