Berawal dari Ketulusan, Ignas Bataona Pun Sukses Jadi Petani dan Peternak

by -327 views

Ignas Sinu Bataona ketika dipotret bersama warga yang sedang memanen padi miliknya.

JUMAT, 26 April 2024. Matahari cukup terik menyengat. Di sebuah hamparan sawah seluas kurang lebih satu hektar, sekelompok orang sedang sibuk memanen padi. Mereka berjejer rapih di setiap petak sawah, lalu berpindah ke petak lainnya sembari memotong padi. Padi-padi itu dibiarkan berserakan untuk nanti dikumpulkan pada sebuah tempat khusus, diatas tarpal hijau. Sang pemilik sawah, juga turut bersama mereka. Ada sukacita dan keriangan di wajah mereka. Jerih lelah mereka terbayar lunas.

DRS IGNAS SINU BATAONA, MA. Dosen Fakultas Pertanian yang purna bhakti tahun 2023 ini, telah merintis sebuah perkampungan baru, di pinggiran Kelurahan Batakte, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Ignas yang memang punya hobi bertani dan beternak itu, mendapat lahan seluas 11 hektare di kawasan yang masih hutan belukar tersebut.

Kepada mediantt.com dia bercerita awal mula mendapat tanah di wilayah tersebut. Ini semua berawal dari sebuah ketulusan dan kemurahan hati kepada orang kecil yang benar-benar membutuhkan uluran kasih. Dari situlah dia mendapat hadiah sebuah lahan strategis, yang lalu disulap menjadi kawasan untuk bertani dan beternak khusus babi dan ayam.

“Begini. Waktu itu, saya masih pelihara babi di Belo. Suatu ketika, datang sekelompok anak muda dengan pikap dari Batakte. Mereka mau beli babi karena ada kelu (keluarga) meninggal. Jadi mereka lihat dan tawar harga. Ada yang 4 juta, ada yang 5 juta rupiah. Tapi uangnya tidak cukup. Lalu saya suruh muat yang paling besar yang harganya Rp5 juta. Ai bapa, uang kami tidak cukup, cuma 3,5 juta. Sudah, bawah saja, kapan-kapan baru datang bayar sisanya,” begitu cerita Ignas Bataona, di pinggir sawah miliknya.

Menurut dia, beberapa waktu kemudian, datang ke rumahnya di Jln P Da Cunha Naikoten II, sepasang suami istri berbusana adat Timor Amarasi. Tamu tak dikenal di pagi hari itu membuat Ignas dan istri bingung, lalu bertanya: “Bapa dan mama cari siapa? Spontan lelaki yang sudah tua rentah itu menjawab; “Kami mau perlu dengan pa Bataona?” “Nah, mari masuk,” ajak Ignas Bataona.

Setelah berbasa-basi seadanya, sang bapa lalu berkata polos; “Terima kasih banyak karena Pa Bataona sudah bantu kami saat kami susah. Saat kami ada kedukaan, pa bataona bantu kami seekor babi. Karena itu, sebagai bentuk terima kasih atas kebaikan hati pa bataona, kami ajak pa bataona dan ibu main-main ke tempat kami di Batakte untuk lihat ada lahan, siapa tahu bapa berminat”.

Dalam keharuan dan rasa kaget yang luar biasa, Ignas Bataona spontan menolak tawaran tersebut. Karena dia membantu dengan tulus dan tanpa mengharapkan balasan. Namun kedua orangtua itu, dengan budaya Timornya sedikit memaksa Ignas Bataona untuk menerima tawaran itu. “Saya lalu bilang, ya nanti saya dengan ibu ke Batakte untuk sama-sama kita lihat. Selang beberapa waktu, kami suami istri ke Batakte dan diperlihatkan lahan seluas 11 hektare,” kata Ignas Bataona.

“Silahkan pa Bataona lihat, inilah hamparan tanah (masih hutan). Mau dibuat rumah tinggal atau usaha, silahkan,” kata pemilik tanah.

Hadir saat itu Lurah Batakte dan perangkatnya, juga tokoh adat dan tokoh masyarakat di wilayah itu. Ada tawar menawar harga, tapi mereka tidak mau jual. “Mereka hanya mau hibahkan saja. Waktu itu, saya dan mama ada bawa uang, tapi akhirnya disepakati uang itu dipakai untuk bangun rumah tua milik orangtua mereka,” cerita Ignas Bataona.

Akhirnya Ignas Bataona pun memiliki lahan seluas 11 hektare di sekitar kawasan Batakte, Kupang Barat. Sebagai dosen pertanian, otaknya mulai berpikir untuk mendayagunakan lahan kosong tersebut. Maka pertama dibuatlah kandang babi karena pasar babi lagi bagus dan amat prospektif di Kota Kupang. Ada 20 petak kandang. Sisi kanan 10 dan bagian kiri 10 petak. Awalnya pekerja hanya dua mahasiswa asal Lembata, yang berniat tinggal dan mengurus ternak babi di Batakte.

“Perlahan mulai berkembang baik apalagi pasar juga jelas. Langganan tetap kita itu Om Bai, pemilik sei babi terenak dan terlezat di Baun. Kalau babi sudah siap jual, tinggal kontak ko Om Bai datang beli. Harga bervariasi sesuai berat, juga usia. Ada yang dibanderol dengan harga 6 atau 7 juta rupiah. Ada pula yang 4 atau 5 juta rupiah. Tergantung usia babi. Yang pasti kita jual Rp 65.000 per kg,” terang istri dari Ny Ati Ruing ini.

Disaksikan mediantt.com, kandang babi permanen sepanjang kurang lebih 50 meter itu, dibangun bersebelahan dengan kandang ayam. “Tapi ayam lagi kosong,” ujarnya. Dari aspek higienis, kandang babi tampak aman karena air pun tersedia memadai dan lancar sehingga kebersihan kandang babi terjaga baik. Babi yang masih ada di kandang pun tampak segar-sehat. Ada dua induk yang baru saja beranak dengan jumlah belasan ekor. Ada pula beberapa yang telah siap dijual.

“Yang tinggi besar itu sudah berusia sekitar 9 bulan dan akan dijual dengan harga Rp15 juta. Yang lain sekitar 6 jutaan rupiah. Kalau anak babi dijual Rp1,5 juta per ekor,” kata Pa Ignas ketika bersama mediantt.com memantau kandang babi miliknya.

Di balik kisah sukses ini, ada juga cerita pilu ketika pandemi covid-19 melanda dunia, termasuk Kota Kupang. Babi peliharaan tak bisa terjual. Babi-babi itu dipotong lalu dibagikan kepada kerabat untuk dikonsumsi. “Kita kehilangan harapan saat itu. Rugi banyak sekali. Babi banyak tapi tidak bisa terjual. Akhirnya ya kita potong makan saja,” kesal dosen asal Lamalera Lembata ini.

Panen Padi

Sukses menggarap ternak babi, Ignas Bataona pun mulai melirik pertanian. Sebab lahannya masih amat luas. Ada areal yang cukup luas, bekas danau ketika badai Seroja melanda wilayah ini pada April 2021 silam. Areal seluas kurang lebih satu hektare itu, lalu diolah untuk menanam sayur-sayuran dan terong.

“Kebetulan ada beberapa mahasiswa Faperta asal Sumba yang mau tinggal di Batakte, ya kami sama-sama garap. Awalnya kita tanam sayur-sayuran seperti brokoli, sawi, juga terong. Pasarnya juga jelas sehingga setiap kali panen selalu sold out atau terjual habis,” kata mantan peneliti kawasan adat terpencil (KAT) di NTT ini.

Selain itu, master jebolan Universitas Indonesia ini mencoba menanam padi di areal yang sama. Hasilnya pun luar biasa. Karena itu, Jumat (26/4), mediantt.com diundang khusus untuk menyaksikan warga sekitar bersama sejumlah mahasiswa Faperta, melakukan panen perdana padi di sawah tadah hujan tersebut.

“Kita tanam padi ini sejak Januari 2024 kemarin. Puji Tuhan, hari ini kita panen perdana. Hasilnya sekitar 1 ton lebih. Setelah panen padi ini kita akan tanam lagi brokoli karena sudah ada yang order,” kata peminat politik praktis ini.

Dia juga berkata, sejak masih aktif jadi dosen di Fakultas Pertanian, ada kegelisahan yang selalu merasuk; apa yang harus dilakukan di saat purna bhakti. Namun jalan mulus telah ditoreh. Tinta emas pun telah diletakan di sebuah kawasan strategis di Batakte. Dia telah memulai dan akan terus bergerak maju. “Saya akhirnya senang bisa kembali jadi petani dan peternak. Ada kebahagiaan dan sukacita bisa menikmati masa pensiun di kebun bersama orang kampung yang selalu bersahaja,” tutur Ignas Bataona, yang juga amat aktif untuk urusan gereja. (yos diaz b)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *