Surat Gembala Uskup Agung Kupang! Dari Drama Ingat Diri Menuju Drama Allah Yang Peduli Sesama

by -314 views

Pengantar Redaksi

Hari ini, 14 Februari 2024, Gereja Katolik sejagat memasuki masa Pra Paskah, yang ditandai dengan Hari Rabu Abu. Tahun ini, momen spiritual ini dibarengi dengan hari Pemilu 2024 dan Hari Kasih Sayang. Masa pra paskah ini akan berpedoman pada Surat Gembala Uskup. Karena itu, berikut kutipan lengkap Surat Gembala Uskup Keuskupan Agung Kupang, Mgr Petrus Turang.

“Bersukacitalah selalu dalam pengharapan akan kasih Tuhan”

Saudara-saudari kekasih Yesus Kristus,

Aksi Puasa Pembangunan 2024 bertemakan “Membangun Tatakelola Ekonomi Ekologis”: “Berjalan Bersama Menuju Indonesia Damai”. Secara liturgis, kita masuk lagi dalam masa puasa, dimana kita merenungkan puncak keselamatan dalam Yesus Kristus. Kita bergerak bersama
menghadirkan diri sebagai tanda keselamatan dalam dunia, khususnya bidang tatakelola ekonomi ekologis.

Dalam masa puasa, persekutuan gerejani kita dipanggil untuk “bertolak ke tempat lebih dalam” di tengah kesibukan duniawi yang senantiasa bergejolak akibat “drama ingat diri”. Masa puasa menjadi waktu berahmat untuk membangun kembali “Drama Allah” dalam tatakelola ekonomi kita sebagai murid-murid Kristus yang peduli satu sama lain. Kita berani berpaling untuk berjumpa wajah Allah yang berbelaskasih menurut komunikasi sosial ekonomi yang ramah sesama dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan menurut tataciptaan Allah.

Rasul Paulus berkata, “Janganlah kamu jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menyerah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita” (Gal 6:9-10).

Saudara-saudari kekasih Yesus Kristus,

Ekonomi Fransiskus berpangkal pada pandangan akan keseimbangan hidup yang terhubungkan dengan karya ciptaan Allah. Manusia mendapat tanggungjawab untuk memelihara dan memupuk keberlanjutannya. Tatakelola ekonomi ekologis ini harus berawal dari keluarga kita masing-masing. Kemudian dalam kerjasama yang utuh semua pihak (pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan, industri, pertambangan dan perdagangan etc), kita mengembangkan tata kelola yang baik, benar dan waras, agar semua pihak memperoleh manfaat yang tepat dan bernilai manusiawi. Dalam masa puasa, kita mendapat lagi sentuhan kasih Allah, agar perjalanan hidup iman kita semakin menunjukkan “kebersamaan yang saling menghormati dan saling melayani” dengan rendah hati menurut dimensi sosial ekonomi yang menjaga keseimbangan ekologis.

Di tengah pelbagai perjuangan untuk menghadapi tantangan hidup, sembari memandang wajah Kristus tersalib, kita selalu menemukan keteguhan iman yang menguatkan perjalanan hidup iman kita dalam tatakelola ekonomi yang bermartabat, karena kita “telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun kaya, oleh karena kamu menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8:9).

Saudara-saudari kekasih Yesus Kristus,

Lingkungan hidup duniawi semakin tergerus oleh kesombongan manusia. Masa puasa mendorong kita untuk kembali kepada wajah Allah yang berbelaskasih, agar keindahan, kebenaran dan kebaikan mekar kembali dalam perjalanan kita bersama. Mekarnya kerukunan hidup sosial ekonomi senantiasa menjadi kerinduan kita, karena di dalamnya hadir anak-anak
Allah yang berwatak terbuka, komunikatif dan merangkul semua orang.

Dengan mengalami pelbagai kejadian yang mencemaskan dan tidak pasti, khususnya kejahatan, kekerasan, ketimpangan sosial dan kemiskinan, kita tetap teguh percaya akan buah hasil penebusan Kristus, yaitu keseimbangan hidup yang seutuhnya berkenan kepada Allah dan sepenuhnya menyerap keseimbangan kemanusiaan. Kita menghayati pengharapan yang mendorong dan menarik kebersamaan kita menuju kepenuhan hidup sebagai kasih karunia dari Allah: “Aku datang agar mereka hidup dan hidup dalam kelimpahan” (Yoh 10:10), karena “Dari kepenuhanNya kita telah memperoleh kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1:16), Panggilan untuk mewujudkan komunikasi sosial ekonomi yang berdayaguna bagi semua orang, pantas menjadi rujukan dalam upaya memperbaiki ketimpangan sosial akibat budaya konsumtif berlebihan yang mengutamakan kepentingan diri sendiri semata. Usaha-usaha kooperatif dalam persekutuan gerejani kita hendaknya selalu membangun kerjasama yang adil, efektif dalam tata kelolanya, asalkan kita tidak menyerah pada “egodrama” yang merusak ekonomi ekologis. Ekonomi ekologis tetap berpusat pada kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan demikian, kita membangun komunikasi sosial ekonomi yang berwatak bersaudara dalam cinta kasih.

Saudara-saudari kekasih Yesus Kristus,

Masa puasa juga adalah masa pendidikan iman kita. Kesempatan istimewa ini membuka kesempatan bagi kita untuk menemukan kembali hubungan yang benar dengan Allah dan sesama. Kita belajar kembali bagaimana menghargai sesama serta seluruh ciptaan sebagai anugerah Allah. Kita membangun kembali jembatan-jembatan yang memperat hubungan sosial ditengah anugerah perbedaan, yaitu solidaritas sosial ekonomi yang berkelanjutan secara manusiawi. Iman akan Yesus Kristus menyemangati kembali komunitas iman kita untuk berani berjalan bersama menuju kepenuhan hidup sebagai karunia Tuhan.

Di tengah pelbagai terpaan hidup yang datang silih berganti dalam perjalanan bersama, kita berjumpa dengan pengalaman hidup Yesus yang memadukan martabat ilahi manusiawi dalam keterbatasan martabat tercipta yang tertebus. Teladan kesatuan sejati ini menjadi daya hidup bagi kita untuk memekarkan kehidupan iman dalam keluarga, pekerjaan dan pegaulan kita. Pada gilirannya, tatahubungan sosial ekonomi semakin tumbuh dan berkembang menurut “tatadrama Allah” yang memajukan damai sejahtera bagi semua orang. Rasul Paulus berkata, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam penderitaan dan bertekunlah dalamdoa” (Rm 12:12).

Saudara-saudari kekasih Yesus Kristus,

Dengan merayakan 100 tahun Konferensi Waligereja Indonesia dalam wujud berjalan bersama menuju kebersamaan kemuridan yang sejati, persekutuan gerejani Katolik di Indonesia tumbuh dan berkembang sebagai karunia Allah yang menyuburkan persatuan yang rukun dan damai dalam masyarakat Indonesia. Kita bersyukur atas perkenan Tuhan yang mewarnai perjalanan bersaudara yang berwatak saling membantu, saling berbagi dan saling tergantung dengan murah hati dalam bingkai semangat Injil yang terus menerus berlangsung secara manusiawi.

Bersama dengan peduli dan keprihatinan Gereja Universal tentang “berjalan bersama” dengan segala lika-likunya, kita mohon kebijaksanaan Allah, agar kesatuan gerejani tetap terpelihara dalam kasih-Nya. Dalam bingkai semangat ini, persekutuan gerejani kita dalam wadah KWI berupaya berjalan bersama seluruh bangsa, biarpun perbedaan pilihan sosial politik, menuju kerukunan Indonesia yang maju dalam kemanusiaan yang bertaburkan damai sejahtera. Semoga tatakelola ekonomi dalam hidup sosial dan keluarga kita semakin mewujudkan komunikasi sosial ekonomi yang berwatak berbagi demi kebaikan bersama.

Selamat menjalani masa puasa dengan gembira dan penuh syukur.
Salve, gloria Domini Jesu Christi crescat!

Diberikan di Kupang,15 Januari 2024

Mgr. PetrusTurang
Uskup Agung Kupang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *