Memaknai Misa Leva sebagai Gerakan Pembaharuan Diri

by -200 views

Ada pesan biblis amat dalam. Ada pula kritik keras atas perilaku hidup yang buruk. Menyimpang dari tradisi. Jauh dari pesan leluhur; ina gene ama tao. Selalu terantuk pada batu yang sama. Kenapa?

PASTOR Paroki St Petrus Paulus Lamalera, Romo Noldy Koten, Pr, sungguh memahami Lamalera dengan segala tradisinya. Dia selalu hadir dalam setiap hajatan dan ritual tentang Levo dan tentang Ibu Kehidupan (Laut), Ibu Leva, sebagai ladang pencaharian nelayan Lamalera. Dia juga memahami secara detail karakter semua pemangku kepentingan di Levo Lamalera; lika telo, tanah alep (tuan tanah), lamafa, meing (matros) dan juga Penete Alep. Satu yang masih jadi problem serius; soliditas diantara mereka masih amat rapuh. Karena itu, di momentum misa Leva tahun 2023 ini, Imam asal Belogili itu bicara blak-blakan. Sebab, bagi dia, Ibu Kehidupan (Laut) dan Pantai adalah “Altar Kudus” bagi nelayan Lamalera. Dia harus tetap sakral. Tak boleh dinodai.

“Kemarin, tahun lalu kita merayakan Misa Leva yang sama. Tahun depan juga sama. Dan Allah masih perkenankan Lewo piring matahari ini tetap ada. Artinya, kita masih tetap merayakan misa leva. Karena itu, saya mengajak kita pada hari ini, pada pembukaan tahun kehidupan baru ini, memaknai Misa Leva sebagai gerakan pembaharuan diri kita. Untuk menyongsong kehidupan baru,” tandas Romo Noldy Koten, Pr, dalam kotbahnya pada Misa Leva, Tahun Baru Nelayan Lamalera, di Pantai Lamalera, Senin 1 Mei 2023. Bersama Romo Noldy di Misa Leva itu Romo Sam Diaz Beraona, Pastor Paroki Witihama.

Menurut Romo Noldy, Lamalera itu hebat, tapi secara internal masih belum solid. Belum satu hati. Butuh pembaharuan. “Piring Lamalera itu kehidupan. Tiada kehidupan tanpa api atau panas. Zaman boleh berubah, piring kehidupan kita tidak berubah,” katanya.

Karena itu, dari inspirasi Injil di misa Leva itu, ketika Petrus berkata kepada para rasul untuk pergi menangkap ikan di Danau Tiberias, Romo Noldy menegaskan, pengalaman di Tiberias itu sama persis dengan di pantai Lamalera. Petrus itu Lamalera. Dia kepala para rasul. Petrus menjadi primus interpares; yang pertama dan terutama. “Itulah pemimpin. Pemimpin itu bisa saja tuan tanah, lika telo, dan bisa juga leva alep dan peneta alep. Tapi selama ini ada yang salah dengan Leva kita,” katanya, mengingatkan.

Sejatinya, sambung dia, ajakan “Aku pergi menangkap ikan, harusnya disahuti dengan jawaban kami ikut dengan engkau. “Ini kritik buat kita. Kadang saya merasa buang tenaga omong sampe mulut berbusa. Mau jadi apa Lamalera ini kalau pernyataan Petrus itu tidak ditanggapi oleh semua unsur di Levo Lamalera,” tutur Noldy.

Artinya, sebut dia, piring matahari ini tidak boleh kosong. Air mata kide knuke (yatim piatu) dengan segala kesulitannya mesti ditanggapi secara positif. Tapi kita masih kangkangi pesan leluhur bahwa ama gene ola, ola kae kode kai. Ina gene ama tao. Prinsipnya, jangan pernah kangkangi ina tao ama gene. Suara pemimpin kita harus berwibawa; mari kita pergi menangkap ikan. Ribu ratu kenyang, pemimpin kenyang. Pemimpin susah rakyat juga susah. Walau kadang soliditas kita ada maunya. Kebersatuan kita hari ini masih sangat rapuh. Pemimpin itu seperti Allah Yang Maha Rahim. Perlu pembaharuan diri untuk bisa melayani nara kajak ribu ratu. Artinya, ketika Levo malu marah (lapar), Tuan Tanah dan Lika Telo harus bersikap.

Knato Itu Sosial

Romo Noldy juga mengingatkan nelayan Lamalera bahwa ikan paus yang adalah knato atau titipan, itu hal sosial. Bukan milik pribadi. Artinya, kalau peledang menikam satu ekor, entah itu besar atau kecil, maka itu menjadi kado atau bingkisan buat semua. “Bukan milik peledang yang tikam. Jadi peledang mana saja bisa membantu. Tidak perlu menunggu dipanggil. Selama ini kita selalu identik dengan tidak mau dengar atau ikut orang. Kita kan melaut untuk ambil titipan. Ketika levo lagi lapar dan tuan tanah (wujon) ie gerek (panggil ikan paus), lalu sampaikan ke Ibu Leva/Ibu Kehidupan (laut), maka kita terima knato tadi. Jangan kita bicara soal ini lagi. Karena kita sudah keluar dari prinsip ina gena ama tao,” tandas Romo Noldy.

Dia juga menambahkan, seluruh aktifitas kehidupan di Lamalera adalah Doa. Setiap ritual adat tentang leva dan levo selalu diakhiri dengan air berkat dan doa. “Itulah kehebatan orang Lamalera. Tanda atas nama bapa dan putra dan roh kudus; Itu Tuhan. Ketika buat apa saja itu doa. Seluruh aktifitas kita adalah doa. Untuk itu, kalau kita satu hati (one tou) dan jalan sama-sama maka kita tidak gentar karena ada Tuhan,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, harus ada kesadaran kolektif untuk berani berkata, Itu Tuhan, mari dan sarapan bersama, menikmati sukacita kebersamaan dan tidak mengambil hak orang lain.

“Jangan lagi jatuh dalam hal yang sama. Belajarlah dari waktu ke waktu dan juga dari pengalaman yang terjadi agar piring kecil Lamalera tidak akan pernah hampa. Jangan sampai tidak terisi hanya karena ulah dan perilaku kita. Mari kita refleksi dan kita tulis semua kekilafan masa lalu kita di pantai ini dan akan dihapus oleh air laut dan Tuhan berikan dalam bentuk knato untuk ribu ratu nara kajak,” tegas Romo Noldy.

Upacara berlanjut dengan pemberkatan laut dan peledang; perahu yang digunakan untuk menangkap ikan paus. Ada 37 naje di pantai sepanjang sekitar 150 meter itu. Sembilan belas naje dibangun di sisi kiri kapela dan sisanya di sisi kanan. Semua peledang itu baru bisa melaut setelah Praso Sapang pulang.

Usai diberkati, peledang Prasso Sapang didorong ke laut. Pelepasan Prasso Sapang ini membawa pesan kepada semesta dan makhluk laut bahwa nara kajak dan ribu ratu membutuhkan hewan besar untuk barter di pasar. Orang Lamalera menyebutnya Tena Fulle.

Peledang pun mengarungi Laut Lamalera atau Laut Sawu. Sekitar 50 meter dari bibir pantai, layar Prasso Sapang dinaikkan. Tahun perburuan ikan paus pun resmi dimulai. Karena itu, tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari tahun baru nelayan Lamalera.

Setelah misa leva, masyarakat nelayan Lamalera selama tiga bulan ke depan (Mei-Oktober) mengawasi Laut Sawu. Apabila melihat semburan paus, maka masyarakat akan berteriak bersahut-sahutan “baleo…, baleo…, baleo…” Peledang pun segera didorong ke laut untuk mengejar sang mamalia laut, ikan paus.

Sere Moti

Seluruh prosesi sakral Leva Nuang yang diawali dengan Triduum ritual adat sejak 27-30 April 2023, lalu disempurnakan dengan Liturgi Kudus Gereja Katolik, berpuncak pada Sere Moti.

Setelah Praso Sapang kembali dari laut dalam misi Tena Fule; ada satu lagi ritual rekonsiliasi sebagai puncak dari semua itu yakni saling menukar rokok/tembakau, siri-pinang, tuak atau Gelu Tua Fai/Gfalet Fai. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama (sere moti) di depan kapela St Petrus. Tuan Tanah (Wujon dan Tufaona) memberi makan para Leva Alep. Hanya ada sajian jagung titi dan tuak. Mereka duduk berkelompok lalu makan bersama dalam sukacita hingga senja menjenjang malam.

Inilah yang menandai Tahun Baru bagi orang Lamalera, memasuki kalenderium mereka Melaut, bersamaan pula dengan kalenderium liturgi gereja Katolik, bulan Mei sebagai Bulan Maria. Musim Leva pun diharapkan membawah rezeki untuk memberi makan para fakir miskin, para janda, duda, dan masyarakat ile ale gole. (jdz)

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments