Kembalinya Sang Kanvas Kehidupan

by -306 views

Salah satu mural karya Dios Beding

DI PANTAI Tedis Kota Kupang, Senin 16 Mei 2022. Ada pameran Drawing ‘Maloi Kota Kupang’ oleh Komunitas Seni Rakart, Timore Art Graffiti dan Kapur Sirih. Seorang lelaki mengenakan topi koboi berwarna hitam, sibuk mengajari sekelompok anak kecil yang duduk melingkarinya. Mendengar petunjuk darinya cara melukis yang baik. Sesekali dia bercanda dengan para bocah yang tangannya menari-nari di atas karton sebagai media gambar.

“Hati-hati ya, kalau cat sampai tumpah maka saya akan menjilatnya,” canda lelaki itu.

Dios Beding namanya. Lelaki berusia 27 Tahun itu adalah anak seorang kuli tinta senior NTT, yang malang melintang di sejumlah media nasional. Ayahnya alm Michael Blio Beding, adalah seorang jurnalis senior yang lahir dari seorang seniman mural tradisional asal Lamalera, alm Rafael Miku Beding.

Di lokasi pameran, Dios melukis sebuah gambar mural berukuran besar. Gambar tangan sedang memasukkan ikan paus ke dalam mulut seorang wanita. Ini karya Dios yang melukiskan identitasnya sebagai anak yang lahir dari seorang seniman besar dari negeri pemburu paus, yang tidak terekspos namun karyanya diakui oleh publik.

Lukisan di Gereja Watuneso Ende dan Gereja Paroki St. Petrus dan Paulus Lamalera adalah mahakarya alm Rafael Miku Beding, kakek dari Dios seniman kanvas kehidupan. Generasi penerusnya lama mengendap dimakan waktu dan kini perlahan mulai menunjukan jati diri seniman di dalam dirinya.

Darah seni telah mengalir di nadinya. Melukis sepanjang waktu adalah caranya mensyukuri hidup. Hidup tanpa melukis nama dalam sejarah, adalah kesalahan besar yang sering terjadi. Bagi Dios, untuk dikenang dan diingat sepanjang waktu, maka perlu ada sebuah karya yang membekas di ingatan. Melukis hidup dengan kanvas adalah caranya.

Seni adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Sejak kecil, dia belajar untuk melukis. Yang menjadi guru melukisnya adalah cerita lintas generasi tentang sosok kakeknya. Dari situ Dios sadar, penting untuk menulis sejarahnya sendiri memanfaatkan darah seni dari sang kakek.

Pada galeri-galeri yang terpajang di bingkai berukuran lebih kecil, gambar ikan paus dan tangan yang berjabat adalah karya Dios atau yang lebih dikenal dengan nama Lezart. Deskripsi lukisan tersebut jelas menggambarkan refleksi perjalanan hidup seniman kanvas kehidupan. Lamalera, tradisi dan seni dibiaskan begitu terang sebagai roh yang membuatnya seperti sekarang.

Pada pameran seni ‘Maloi Kota Kupang’ sebagai estafet Deklarasi Hari Menggambar Nasional di Taman Budaya Yogyakarta, 14 Mei 2022, Dios Beding menarasikan perjalanan hidup lewat lukisan mural yang indah terpampang pada galeri seni alternatif di lokasi pameran.

Sang kanvas kehidupan telah kembali. Lewat Dios Beding, maestro seni mural alm Rafael Miku Beding; mewarisi kanvas kehidupan kepada cucunya. Pameran bulan seni yang berpuncak pada hari Senin, 16 Mei 2022 itu, Dios telah menunjukan bahwa seniman kanvas kehidupan siap melukis sejarah di Bumi Flobamorata. (bosco beding)

4.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments