Apresiasi Buku Katolik di Tanah Santri, Laka Lena: Deni Berhasil Terobos Ruang Dialog

by -116 views

Buku Katolik di Tanah Santri,

KUPANG, mediantt.com – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi penerbitan buku “Katolik di Tanah Santri” yang ditulis oleh Deni Iskandar, aktivis HMI, lulusan UIN Jakarta dan anak Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam buku ini juga berisi catatan atau sambutan dari Kardinal Ignatius Suharyo dan kata pengantar dari Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena.

Menurut Politisi Golkar yang akrab disapa Melki Laka Lena ini, sebagai penulis, Deni Iskandar telah berhasil terlibat dalam dinamika keberagaman di ‘rumah’-nya sendiri, Pandeglang – Banten. Deni, lanjut Melki, tentu mendapat privilege dan berada dalam ruang nyaman dalam kehidupan sosial bermasyarakat di Pandeglang karena berasal dari kelompok mayoritas. Namun sebagai seorang mahasiswa, Deni telah berhasil menerobos ruang dialog untuk membaca dan terlebih berdinamika dengan kenyataan terkait keberagaman di masyarakat, di ruang dimana dia tumbuh dengan privilege itu.

“Tentunya, keberhasilan dalam keterlibatan dalam dinamika sosial dan menuangkannya dalam sebuah buku ini, perlu diapresiasi,” jelas Melki, Rabu (4/5/2022).

Membaca Buku “Katolik di Tanah Santri” yang ditulis oleh Deni Iskandar, menurut Melki, akan mengingatkan kita akan eksistensi keberagaman bahkan di sebuah komunitas yang dianggap homogen.

“Secara umum, Provinsi Banten selalu menerima stereotype sebagai provinsi yang homogen. Buku ini membantu kita memahami Provinsi Banten dengan kacamata yang berbeda. Dalam konteks yang lebih luas, keberagaman di Indonesia adalah sesuatu yang memang ada. Jika seseorang mengatakan Indonesia adalah negara yang sangat beragam, itu adalah kenyataan. Oleh karena itu, keberagaman adalah sesuatu yang harus dirayakan, bukan dihindari,” ungkap Ketua Golkar NTT ini.

Melki Laka Lena juga berharap, buku ini terus mengingatkan kita akan keberagaman yang patut dirayakan. “Sama seperti masyarakat Labuan yang hidup berdampingan, keberagaman layaknya dirayakan tanpa kehilangan identitas. Karena keberagaman tidak pernah ada tanpa identitas yang otentik. Keberagaman tidak menghilangkan identitas. Dia ada dengan identitas yang unik, namun terbuka untuk terus berjumpa dan berdialog dengan sesama,” tutup Melki.

Sementara penulis buku, Deni Iskandar, saat dihubungi via pesan whatsapp, Rabu (4/5/2022), mengatakan, buku berjudul “Katholik di Tanah Santri” ini ditulis berdasarkan hasil penelitian saat ia menempuh pendidikan S-1 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Fakultas Ushuluddin pada Prodi Perbandingan Agama/Studi Agama-Agama Sekarang.

Deni menjelaskan, dalam buku “Katholik di Tanah Santri” ini, Ia secara umum menulis kehidupan umat beragama di Labuan, dan difokuskan pada potret kehidupan umat Katholik.

Deni juga mengungkapkan beberapa alasan dirinya tertarik meneliti umat Katholik di Labuan Kabupaten Pandeglang ini, yaitu, Pertama, hadirnya Yayasan Mardiyuana milik Keuskupan Sufragan Bogor yang murni dijadikan sebagai lembaga pendidikan, tanpa ada embel-embel lainnya.

“Kehadiran Yayasan Mardiyuana sebagai lembaga pendidikan itu, dinilai masyarakat setempat cukup membantu. Sebab secara faktual, Yayasan Mardiyuana sebagai lembaga pendidikan, dibuka untuk umum. Sehingga dengan begitu masyarakat setempat bisa menikmati kegiatan belajar mengajar di Yayasan tersebut. Bahkan dominasi murid maupun tenaga pengajar di Sekolah tersebut, lebih banyak di dominasi oleh pemeluk agama Islam,” jelasnya.

Kedua, menurut Deni, disebabkan karena keramahan umat Katholik yang digambarkan oleh Deni pada sosok Almarhumah Murti Asih, seorang perempuan Katholik dan Herman Joseph Marsandi, seorang tenaga pengajar di Yayasan Mardiyuana milik Keuskupan Sufragan Bogor.

“Semasa hidupnya, sosok Almarhumah ikut serta mendidik penulis, bahkan seorang Kepala Desa Labuan, Eka Arisandi Junjunan menyebut Murti Asih adalah sorang Ibu Kemanusiaan. Saat ini, Almarhumah dimakamkan di Paroki Rangkas, Kabupaten Lebak, tempat umat Katolik beribadah setiap 1 atau 2 Minggu sekali,” ungkap Deni.

Deni juga mengatakan, semangat toleransi masyarakat Labuan, Pandeglang-Banten sangat tinggi. “Kalau Bicara Toleransi mah, masyarakat Labuan melampaui toleransi. Siapa pun yang ngusik itu sekolahan Katolik berhadapannya sama masyarakat Labuan. Karena selama ini, kehadiran umat Katolik di Labuan itu diterima masyarakat. Dan hadirnya Yayasan Mardiyuana itu sudah melahirkan banyak Alumni,” tutup Deni. (go/jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments