Makna Sabtu Suci, Saat Tuhan Menemani Orang yang Kesepian

by -153 views

Ilustrasi Sabtu Suci

SETELAH perayaan Jumat Agung, umat Kristiani bersiap dan menantikan kebangkitan-Nya pada hari ketiga atau di hari Paskah. Namun sebelum Paskah, sebenarnya terdapat momen Sabtu Suci.

Berikut makna Sabtu Suci. Dikutip dari laman Iman Katolik, Sabtu Suci adalah waktu di mana Yesus turun ke tempat penantian, ke dunia orang mati untuk mengabarkan Injil. Apa maksudnya?

Sebelum masuk pada makna Sabtu Suci, terlebih dahulu Anda ingat kembali apa yang tertulis dalam Injil. Disebutkan jenazah Yesus diturunkan lalu dimakamkan berkat bantuan Yusuf dari Arimatea.

Menurut E.P.D. Martasudjita, Pr., pengajar teologi dogmatik, Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Sabtu Suci atau Sabtu Paskah merupakan momen untuk merenungkan Yesus yang dimakamkan.

“Surat resmi kongregasi ibadat Paskah menyebutkan Sabtu Suci gereja tinggal di makam. Maksudnya, merenungkan turunnya Yesus ke dunia orang mati dan menantikan kebangkitan dari Bapa. Ini poinnya, gereja menantikan-Nya dengan doa dan puasa,” jelas Martasudjita dalam video yang diunggah di laman Keuskupan Agung Semarang.

Akan tetapi, lanjut dia, Yesus tidak diam dan menunggu dibangkitkan begitu saja. Dalam doa ‘Aku Percaya’ disebut “..disalibkan, wafat dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian”.

Tempat penantian di sini dimaksudkan sebagai tempat kematian. Dalam bahasa Latin, ada kata ‘descensus ad inferos’, di mana inferos berarti dunia orang mati.

Menurut kosmologi orang Yahudi kala itu, dunia terbagi menjadi tiga bagian yakni, dunia atas atau langit tempat Allah bertakhta, lalu bumi di mana ada kehidupan manusia dan dunia orang mati atau ‘sheol’.

“Nah, di hari Sabtu Suci, saat Yesus turun ke sheol, untuk apa? Untuk menyertai orang mati sekaligus membangkitkan, menyelamatkan. Dalam paham Perjanjian Lama, orang mati menantikan kebangkitan, diselamatkan Allah. Yesus itu Allah yang menjadi manusia, jadi wafat-Nya menyelamatkan yang masih hidup juga yang sudah mati sebelum Yesus,” kata Martasudjita.

Martasudjita melanjutkan, dalam perayaan Sabtu Suci, setidaknya ada tiga hal yang bisa direnungkan.

1. Yesus menemani mereka yang kesepian.

Tempat penantian, jika dilihat dari kacamata orang sekarang akan berupa pemakaman. Makam lekat dengan suasana sepi, menakutkan. Dalam kosmologi orang Yahudi kuno, dunia orang mati itu dunia yang hening, tanpa ada apa-apa.

“Tanpa sinyal, kalau istilah sekarang. Orang sekarang kalau enggak ada sinyal itu mungkin seperti kiamat. Pengalaman kesepian itu pengalaman yang dihindari orang, tapi Tuhan masuk, ingin menyertai kita. Akar kesepian itu apa? Ketakutan ditinggalkan, takut tidak dikasihi, takut terpisah dengan orang yang dicintai. Tuhan menyertai pengalaman kesepian ini,” katanya.

2. Allah berbela rasa dengan pengalaman kematian.

Manusia tidak bisa menghindari kematian. Melalui Yesus, Allah berbela rasa dengan manusia dengan menunjukkan belas kasih pada pengalaman kematian manusia.
Yesus benar-benar mati di salib dan digambarkan melalui jenis kematian berbeda menurut keempat pengarang Injil.

Lukas dan Yohanes menuliskan, Yesus wafat dalam kondisi tenang dan damai. Jelang kematian-Nya, Yesus berkata “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Ku serahkan nyawa-Ku”. Yohanes pun menuliskan bahwa Yesus berkata “Sudah selesai”.

Berbeda dengan Markus dan Matius, Yesus dituliskan wafat dalam kondisi kesakitan dan menderita. Yesus berteriak “Eloi, Eloi, lama sabakhtani” yang berarti Allahku, ya Allahku, mengapa Kau tinggalkan Aku?. Di akhir, Yesus berteriak dengan suara nyaring lalu wafat.

Akan tetapi, dua versi kematian ini tidak salah. “Kok gitu? Inilah kekayaan iman. Yesus ingin wafat dengan cara dua-duanya. Ini juga realitas hidup manusia. Ada yang mati dengan tenang, tapi banyak juga yang mati tidak tenang seperti kecelakaan, dibunuh, mati sendirian. Yesus ingin menemani mereka semua. Intinya mati itu sama pada akhirnya,” imbuhnya.

3. Kematian bukan akhir.

Mungkin ini terdengar klise apalagi orang masih diliputi suasana duka. Namun lewat Sabtu Suci, Yesus ingin menunjukkan bahwa kematian itu transitus sebelum kebangkitan. Transitus berarti transit atau berhenti sebentar.

Kematian ragawi itu alamiah, tetapi dibangkitkan adalah anugerah. Martasudjita berkata, Allah selalu ingin umat-Nya bersama-sama dengan Dia, baik yang semasa hidupnya jahat, baik, kejam, siapapun, ketika mau menundukkan diri, mohon belas kasihan, siapapun akan diselamatkan.
“Penjahat yang disalib dengan Yesus, dia bertobat dan dosanya dihapus, detik itu juga masuk surga. Ini yang kita kenangkan,” ucapnya. (els/cnn/jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments