Laka Lena ‘Mengacaukan’ NTT

by -837 views

Oleh: Robert Bala

SIAPA pemimpin NTT ke depan? Sebuah pertanyaan ‘abu-abu’ meski kalau ditanyakan kepada pengurus partai, tentu saja semuanya mengacu pada ‘bos partainya’ di daerah. Tetapi bagi orang ‘bukan partai’ seperti saya, pertanyaan itu menarik. Saya bebas berpendapat melampaui sekat partai.
Tetapi kalau judul tulisan ini mengarah kepada orang tertentu (Laka Lena), maka hal itu bisa dinilai tendensius, hal mana wajar adanya.

Atau kalau kesimpulan ini dibuat hanya setelah satu pertemuan dengannya, maka hal itu bisa dilihat sangat premature. Penulis baru sekali bertemu Laka Lena dan hal itu terlalu awal untuk menarik sebuah kesimpulan karena akan terkesan lebih luas dari premisnya.

Pada sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa ‘pandangan pertama’ kadang tidak bohong. Malah kesan pertama yang asli bisa menjadi sebuah hal yang sangat kuat. Lebih lagi kalau pertemuan itu dilaksanakan di hari Kamis Putih 14 April 2022, hari yang sangat bermakna bukan pertama pada ritusnya tetapi makna di baliknya tentang pemimpin yang melayani.

Apa Adanya

Sebagai orang yang mendalami Public Speaking (Hablar en Público) di Universidad Complutense de Madrid, saya coba memanfaatkan waktu hampir 2 jam untuk menganalisis gestikulasi pria kelahiran 10 Desember 1976 ini. Tatapannya sangat utuh tak terbagi saat orang lain berbicara pratanda perhatian penuh. Ia seakan ingin membiarkan dirinya kosong untuk dapat memahami apa yang disampaikan.

Sebagai politisi yang karir politiknya naik secara gradual, ia tentu tahu banyak hal. Tetapi kesan itu tidak. Ia kadang bertanya untuk mendapatkan konfirmasi terhadap sesuatu (yang barangkali saja ia sudah tahu). Kadang ia membeberkan kesalahan bahkan kekonyolan yang dilakukan sendiri bahkan partai untuk menunjukkan bahwa melakukan kesalahan adalah manusiawi tetapi jauh lebih penting belajar dari kesalahaan itu. Di sini bisa terbaca ketulusan diri sekaligus idealisme yang mau dibangun dengan Partai Golkar ke depannya menjadi partai milenial.

Yang lebih menarik sebenarnya hal berikut yang ingin saya katakan. Seorang pemimpin adalah penyibak karakter. Maksudnya, ia tidak ingin melakukan semua sendiri sebagai ‘one man show’. Ia perlu menjadi seorang fasilitator yang menyibak kemampuan tiap anggotanya dan memberikan peran sesuai apa yang ia pantau. Di situlah sebuah kepimpinan kolegial tercipta di mana ia menggerakkan banyak orang untuk partisipasi dalam satu proyek yang sama.

Dalam perspektif ini, tamatan S1 Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini juga bisa disebut sebagai ‘penguji’ tingkah laku. Ia bisa mengangkat figur seorang kader tidak dalam arti ‘harga mati’ tetapi demi menguji tanggapan pasar. Malah ujiannya terkesan tidak ada tandingan hanya lebih menghadirkan reaksi orang lain. Dan ketika reaksi itu terjadi di luar dugaan, maka skenario baru bisa diciptakan untuk menyikapi tanggapan yang diterima.

Di sini dapat terlihat bahwa Laka Lena telah memahami dan menyelami filosofi Partai Golkar. Selama 30 tahun bersama Presiden Soeharto, Golkar selalu menjadi partai pemerintah. Demikian juga di era reformasi, perlbagai terobosan dan dinamika dilakukan hanya agar Golkar selalu ada di pemerintahan. Karena itu bagi Golkar semuanya adalah ‘harga hidup’, bisa diatur yang penting tujuan berpartisipasi dalam pemerintahan tercapai.

Bisa Mengacaukan

Lalu apa kaitan dengan kesan pertama ini dengan kepemimpinan NTT pada khususnya? Apa peluang sebagai gubernur di NTT? Pertama, niat Laka Lena untuk maju dalam Pilgub NTT tentu tidaklah mudah. Viktor Laiskodat tentu saja ingin mencapai masa jabatan kedua. Aneka tour yang dilaksanakan ke daerah, dan kekuatan demagogi Laiskodat bisa menjadi benteng yang tidak akan mudah jebol. Hal itu ditambah dengan dominasi Partai Nasdem di NTT yang pada Pileg 2019 menjadi ‘terunggul’ di NTT. Saat itu Nasdem mencapai 510 ribu suara dan Golkar hanya 365 ribu di bawah PDIP yang mencapai 450 ribu.

Meski demikian, konstelasi politik di NTT 2022 apalagi 2024 tentu sangat berbeda. Di NTT, Nasdem telah mengalami penurunan di beberapa daerah terutama di TTU yang menjadi lumbung suara PDIP. Itu berarti Golkar meski berada di urutan ke-3 tetapi oleh kematangan berpolitik, ia bisa sangat memusingkan dinamika politik. Hal itu sudah terbukti dalam pilkada dua tahun lalu, di mana Golkar menjadi partai yang paling banyak ‘jagonya’ sukses jadi Bupati atau wakil bupati.

Kedua, kekuatan diri Laka Lena yang menerapkan model kepemimpinan kolegial dengan profesionalisme tinggi menata partai, menjadi hal menonjol. Minimal hal inilah yang kalau dikiritisi menjadi sisi lemah dari Viktor Laiskodat. Model ‘top down’ yang diterapkan Laiskodat dan bahasa-bahasa vulgar yang dipertontonkan saat berhubungan dengan masyarakat menyadarkan orang bahwa model itu tidak akan pas dalam membangun masyarakat NTT. Lebih lagi upaya bombastis menghadirkan program yang kedengaran ‘woow’ tetapi miskin implementasi akan menjadi boomerang.

Lihat saja program kelor, beasiswa 10 ribu mahasisa kuliah ke luar negeri, program kelor, tanam jagung panen sapi, sekadar menyebut beberapa contoh kedengaran indah awalnya. Ternyata sudah mencapai tahun ke-4 masa kepemimpinan, program itu belum tampak efeknya. Malah tak jarang program yang tidak dieksekusi menjadi sindiran yang cukup menyulitkan Nasdem. Dengan demikian maka kekuatan diplomasi dan semangat kerja Laka Lena bisa menjadi alternatif yang mengacaukan NTT. Artinya Laka Lena bisa menjadi sangat potensial karena secara ke dalam ia punya gaya kepimpinan milenial yang egaliter, tetapi juga di pihak lain, faktor eksternal (antara lain gaya kepemimpinan Laiskodat) bisa menjadi juga keuntungan bagi Laka Lena.

Tetapi proses ke arah kesuksesan menjadi gubernur NTT baru merupakan potensi dan masih harus direalisasikan. Sapapun dan dari partia manapun, perlu bekerja secara tulus, ikhlas, cerdas, dan strategis. Hal itu selain mendapatkan kepercayaan dari bawah tetapi juga untuk bersaing mengingat peta adu gagasan itu sangat besar. Dari Golkar sendiri, Laka Lena tentu harus berhadapan dengan Josef Nai Soi (wakil gubernur NTT). Sementara itu secara eksternal, PDIP sebagai partai yang sangat ‘akrab’ dengan NTT tidak akan memajukan kader terbaik seperti: Andre Hugo Parera; Emilia Nomleni, Yohanis Fransiskus Lema, skadar menyebut 3 contoh.

Untuk itu kerja keras, cerdas, dan tulus harus menjadi kesan yang terus terpelihara pada Laka Lena dan Partai Golkar NTT. (***)

Penulis adalah Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Fakultas Ilmu Politik Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

3 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments