Viral Pamflet Festival Leva Nuang, Kades Lamalera A Akui Belum Ada Pemberitahuan

by -938 views

Leva Nuang, tradisi memburu Paus masyarakat Lamalera, Lembata.

LAMALERA, mediantt.com – Dalam dua hari terkhir beredar viral di medsos sebuah pamlet berjudul Festival Leva Nuang di Desa Nelayan Lamalera. Even yang dijadwalkan pada 27 April – 1 Mei 2022 itu pun memantik rekasi pro dan kontra. Warga Lamalera di Levo dan diaspora kaget dengan pamflet itu. Semua protes dan menolak festival itu karena tradisi Leva Nuang atau musim Leva tidak layak difestivalkan.

Pengalaman buruk dalam kasus konservasi beberapa tahun silam telah membuat nelayan Lamalera semakin solid untuk menjaga tradisinya untuk tidak dikomersialkan dengan dalih apapun. Karena itu, semua sepakat menolak festival itu. Apalagi dikakukan di saat-saat sakral bagi nelayan Lamalera menuju 1 Mei untuk memulai pembukaan Leva Nuang dengan misa dan prosesi adat yang menyertainya.

Pamflet heboh ini pun dibahas serius di WhatsApp Grup Lamalera A. Semua protes dan menolak karena amat mengganggu ritual adat yang sakral menuju pembukaan misa Leva pada 1 Mei. “Hari-hari sakral menjelang Misa Leva dengan segala ritusnya; mulai dari tobu namafate, ie gerek (ritus pemanggilan ikan Paus di Batu Koteklema oleh Suku Langowujon) misa lefa, tena fule, dll), tidak bisa diganti dengan kegiatan apa pun. Ini adalah pekan suci orang Lamalera memohon rezeki kepada Tuhan dan Leluhur yang telah memberikan orang Lamalera ladang di laut,” kata Bruder Edel Atalema, SVD, dalam komentarnya di WA Grup Lamalera A.

“Penjelasan ini harus bisa di pahami oleh Dinas Pariwisata Lembata. Dan Levo Lamalera dan kedua desa harus tolak. Karena tanggal-tanggal itu amat sakral dan dunia sudah tahu. Jangan main-main. Lefo akena glolefa,” tegas lagi sesepuh Lamalera diaspora, Arnold Guma Ebang.

Sementara Paul Letu Blikololong berpendapat, festival yang digagas itu momentumnya tidak tepat. “Harusnya Dinas Pariwisata Lembata kalau mau buat kegiatan seperti itu, sebelumnya harus koordinasi dengan kepala desa kedua desa bersama para tua adat di kampung, dan harus datang ke Lamalera lalu bicarakan itu dengan berbagai pertimbangan. Saya mau tanya, sudah berapa banyak kontribusi dinas pariwisata dalam upaya pengembangan pariwisata di Lamalera?” gugat guru di Sumba ini.

Putra Lamalera lainnya di Lewoleba, juga merasa aneh dan lucu kalau Leva Nuang bisa di festivalkan. “Itu tidak boleh. Leva Nuang itu perayaan sakramen untuk orang Lamalera. Bagaimana bisa difestivalkan? Saya duga ini hanya informasi pariwisata bahwa ada moment Leva Nuang di Levo Lamalera. Menjadi soal ketika diksi/kata festival itu dipakai dalam iklan itu. Ini yang butuh klarifikasi ke dinas terkait,” kata pegawai di Setda Lembata ini dan mengaku baru tahu ada pamflet seperti itu.

Belum Ada Info

Menanggapi diskusi soal pamflet di WA Grup itu, Kepala Desa Lamalera A, Yakobus Tufan, mengatakan, sebagai kades dia sama sekali belum mendapat info atau pemberitahuan resmi berupa surat dari Dinas Pariwisata Lembata.

“Slam pagi untuk tite fakahae. Go nimok sebagai Kades di go vati dapa info ataupun sura va. (Selamat pagi untuk kita semua. Saya sendiri sebagai kades belum dapat info ataupun surat),” kata Kades yang adalah anak Tuan Tanah ini.

Dia juga menegaskan akan mendengar aspirasi semua warga Lamalera di Levo dan diaspora, terutama pemangku adat Lika Telo, jika sudah ada pemberitahuan dari dinas pariwisata. “Kalau memang ada surat atau info resmi dari dinas pasti langsung disikapi,” tegas Jack Tufan, sapaannya.

“Terima kasih bapa Kepala Desa Lamalera A atas penyampaiannya. Saran saya, karena kegiatan festival ini sudah diiklankan maka harus disikapi dengan kedua tuan tanah, Lika Telo, Kepala Desa Lamalera A dan B ditambah tokoh masyarakat untuk bicarakan di Lefo Nuba untuk mengambil sikap menolak. Ini mungkin jalan yang baik untuk dilaksanakan supaya ake te hai onete di pure nai (agar jangan kita menyesal di kemudian hari),” tutur Arnold Ebang. (jdz)

1.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments