Sosiolog Ingatkan “Sare Dame” Tidak Eksploitasi Budaya Lembata

by -487 views

Sosiolog Charles Beraf

KUPANG, mediantt.com – Pekan Eksplorasi Budaya Lembata sudah berlangsung sejak 2 Maret dan berakhir 7 Maret 2022. Namun even yang menelan dana fantastis sebesar Rp 2,5 miliar itu, oleh Sosiolog Pater Charles Beraf, SVD, mengingatkan bahwa eksplorasi budaya yang disebut juga Sare Dame itu tidak sampai mengeksploitasi budaya Lembata.

Hal ini disampaikan Charles Beraf ketika menjadi pembicara dalam Dialog Kebudayaan yang digelar Institut Kebudayaan Lembata (IKaL) via zoom, Sabtu (5/3) malam.

Dialog bertema “Membaca Perspektif RH Barnes, tentang Kebudayaan Kedang dan Lamalera dalam Upaya Pemajuan Kebudayaan Lembata” itu menghadirkan dua pembicara; Benyamin Molan Amuntoda, peneliti kebudayaan, penulis dan Dosen Filsafat Unika Atmajaya, Jakarta dan Charles Beraf, Pastor katolik yang juga adalah Sosiolog. Sementara moderator adalah Alexander Aur Apelaby, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan Tangerang-Banten. Hadir pula Dr. Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI yang membawakan pidato kebudayaan.

Charles menjelaskan, eksplorasi itu sebenarnya riset atau penelitian bukan pagelaran. “Pagelaran itu sudah wilayahnya eksploitasi. Yang dilakukan di Lembata itu titik awal menuju eksplorasi budaya,” katanya.

Charles Beraf juga menegaskan, orang Lembata sangat kaya akan budaya. Dua etnik besar yakni Lamaholot dan Kedang tidak saling terpisahkan tetapi saling melengkapi karena ada aspek-aspek budaya tertentu yang mirip. Menurut dia, budaya Lembata mesti terus digali dan diangkat dalam konteks memajukan kebudayaan. Walaupun demikian, ada satu catatan penting yang dikemukakan yakni, ketakutan adanya bahaya eksploitasi budaya Lembata.

“Kegiatan eksplorasi budaya atau sare dame yang dilakukan Pemda Lembata tidak boleh mengeksploitasi budaya Lembata,” tegasnya, mengingatkan.

Menurut dia, kegiatan sare dame bukan sekadar menampilkan kebudayaan Lembata sebagai tontonan semata tetapi yang paling penting adalah menggali nilainya agar menjadi pedoman dalam pembangunan Lembata berbasis budaya. Bukan hanya itu, ada pula ketakutan lain yakni bahaya komodifikasi budaya atau budaya dijadikan semata-mata sebagai lahan bisnis untuk mendatangkan rupiah.

Sementara itu, Benyamin Molan Amuntoda menegaskan, budaya khususnya di Kedang, Lembata, adalah sebuah sistem yang sudah diatur oleh para leluhur. Ia berbicara khusus terkait buku karya R. H. Barnes, Profesor Antropologi Sosial di Universitas Oxford, yang pernah melakukan penelitian tentang etnik Kedang di Kabupaten Lembata.

Menurut dia, kini sudah saatnya orang Kedang dan Lembata secara umum beralih secara perlahan dari budaya tutur kepada budaya tulis agar kebudayaan Lembata bisa diwariskan lebih sistematis dan terarah.

Peluncuran IKaL

Dalam diskusi virtual itu, diluncurkan pula Logo Istitut Kebudayaan Lembata (IKaL). Pada mulanya IKaL lahir atas kesepakatan para cendekiawan atau intelektual dari Kabupaten Lembata. “IKaL dilahirkan dengan orientasi pada pemajuan Kebudayaan Lembata. IKaL menjadi wadah yang tepat untuk mengangkat dan mendiskusikan kehidupan berkebudayaan di Lembata,” kata Pieter P. Pureklolon.

Pada diskusi virtual perdana ini, terlihat partisipan sangat responsif. Banyak pertanyaan dan diskusi berjalan lancar. Namun demikian, kuota untuk partipan dibatasi hanya untuk 100 orang sehingga banyak peserta yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti diskusi ini. (*/jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments