Prodi Arsitektur Unwira Gelar Seminar Nasional Hadirkan Ilmuwan dari Malaysia

by -299 views

Seminar Nasional Prodi Arsitektur Unwira mengadirkan Ilmuwan dari University Malaya.

KUPANG, mediantt.com – “Kita boleh mendesain sebuah kota menjadi sangat megah, indah, dan bertekonologi tinggi, tetapi jika kota tersebut tidak mempunyai roh emosional, dan ada empati antara warga masyarakat dalam berbagai hubungan sosial dan interaksi sosial mereka, maka itu bukanlah contoh sebuah kota yang baik dan tangguh.”

Demikian gagasan bernas dari DR. Asrul Mahjuddin Ressang bin Aminuddin, dari Department of Architecture, Faculty of Built Environment, University Malaya, saat tampil sebagai narasumber dalam Seminar Nasional VITSTA 3 yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Arsitektur Univeristas Katolik Widya Mandira Kupang.

Seminar yang berlangsung secara daring dan luring ini dimoderatori oleh Reginaldo Christophori Lake, dosen pada prodi Arsitektur Unwira.

Berdasarkan rilis yang disampaikan dosen Unwira, Mikhael Rajamuda Bataona, seminar ini dibuka oleh Rektor Unwira, Pater Dr Philipus Tule, SVD. Sebagai pimpinan Universitas, pakar Antropologi ini sangat mengapresiasi prodi Asitektur dan Fakultas Teknik, Kaprodi dan Dekan serta para dosen yang sudah menggelar seminar nasional tersebut. “SemNas online ini diprakarsai oleh Prodi Arsitektur UNWIRA sebagai kelanjutan VISTA #1 dan #2. Kami berbangga karena Prodi Arsitektur
Unwira dapat menyelenggarakan dan sebagai host untuk seminar nasional online dengan tema utama KOTA TANGGUH ini,” katanya.

Menurut Rektor, dalam perspektif akademis, kegiatan ini adalah wujud perpaduan yang serasi dari Tridharma PT pada masa pandemi Covid-19. Rektor juga memuji akronim VISTA yaitu Vernacular, Inovasi, Sustainable, Transformasi, Arsitektur, karena akronim tersebut membawanya untuk bernostalgia pada pergumulan akademisnya bersama Prof James Fox (The Australian National University, Canberra), yang pernah mengisahkan pengalamannya menjadi konsultan Proyek Air Minum dan Penataan Kota di beberapa kota di Indonesia, termasuk Kota Mataram (NTB).

“Beliau pernah mengisahkan tentang proyek Kota Tangguh (Resilient City Project) sebagai program kegiatan yang dipelopori oleh Yayasan Rockefeller untuk membantu masyarakat di Indonesia,” cerita Dr. Philipus.

Sebagai pemateri utama, Dr. Asrul Mahjuddin mengemukakan bahwa masalah utama kota-kota di dunia dan di mana saja termasuk di Malaysia dan Indonesia adalah aspek sociality dari Kota tersebut. Ilmuwan tata kota dari Universitas Malaya Malasya ini menjelaskan, modernitas telah membius banyak orang untuk hanya melihat kemodernan sebuah kota dari aspek fisiknya, tetapi lupa bahwa kota yang baik dan tangguh adalah yang memperhatikan aspek sosialnya.

Sebagai seorang peneliti, Dr. Asrul melihat bahwa saat ini dan ke depan, masalah paling krusial setiap kota ialah aspek sociality-nya. Ilmuwan negeri Jiran ini lalu memberi contoh pada kota Putrajaya, Malaysia. Dari aspek pembangunan fisik, Kota Putrajaya adalah kota modern yang sangat indah, bersih, dan bahkan sustainable. Tetapi sayangnya kota ini hanya dinikmati oleh kaum elit. Akibatnya adalah di kota ini tidak terlihat hubungan sosial antar penghuninya. Kotanya menjadi kering dan mati secara sosial. Padahal aspek manusia dan interaksi penduduk kota adalah kunci sebuah peradaban yang baik.

Dr Asrul lalu merekomendasikan agar dalam membangun sebuah kota tangguh, para pemangku kepentingan harus melihat bahwa sesungguhnya membangun kota itu, bukan hanya
domainnya para ahli perkotaan dan politisi atau penguasa, melainkan persoalan keterlibatan masyarakat penggunanya. Masyarakat dalam
kota tersebut adalah subjek utama perencanaan kota. “Artinya, sebuah kota yang tangguh harus dibangun dengan mengandalkan pemahaman orang setempat dan bukan sebuah ajang pertaruhan berbagai teori tentang kota. Karenanya, unsur manusia, pengguna sangat penting dalam membangun sebuah kota
tangguh,” tegas dia.

Pemateri lainnya, Ir. Robertus M. Rayawulan, MT, juga memberi beberapa pandangan menarik. Menurut pakar Tata ruang ini, tema tata ruang selalu menarik dan tidak pernah selesai. “Tugas kita sebagai profesional adalah semaksimal mempengaruhi keputusan politik untuk bonum commune. Dan apapun kebijakan kota, harus tertuang dalam rencana tata kota sebagai produk politik,” katanya.

Menurut dosen senior Prodi Arsitektur Unwira ini, untuk membangun kota secara komprehensif para ilmuwan tata ruang harus memaknainya dalam tindakan profesional. Sebab tata ruang hanyalah kebijakan hulu. Para arsitek hadir untuk mengisi ruang itu dengan keterlibatannya secara profesional. Sehingga dalam pandangan Rayawulan, ruang kota sesungguhnya tidak hanya berdimensi ekonomi tapi juga sosial sehingga harus dimanfaatkan secara bijak.

“Dengan kata lain, kota bukan hanya hasil perhitungan kuantitatif planologis semata tapi juga sosial,” katanya. (jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments