Pertarungan Gadget versus Membaca Ceritera Rakyat di Dalam Buku

by -283 views

(Yang Tercecer dari Bedah Buku dan Peluncuran Buku Mutiara dari Flobamorratass Karya Bung Hendro)

DI PAGI yang mendung berkelabut awan hitam, Kamis 13 Januari 2022, aula Paroki Familia Sikumana yang beralamat di Jalan Oebolifo II, Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi saksi bisu acara Bedah dan Peluncuran Buku Mutiara Dari Flobamorratass (Aneka Dongeng Masyarakat NTT), karya Yohanes AR. Teme yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Hendro Teme.

Purna tugas alias pensiun, setelah puluhan tahun bergelut menjadi wartawan dan penyiar Radio Trilolok Suara Verbum Kupang, kini Bung Hendro ‘hijrah” menjadi seorang penulis buku dan mengelola sendiri web joflobamorratass.

Di bawah guyuran hujan yang sangat deras dan riuhnya angin yang menyertai, terdengar suara testimoni yang sangat menggugah nati nurani semua yang telah hadir di dalam aula. Suster Fransisca Aquilorum Teme, SSpS yang merupakan putri ketiga, Bung Hendro buah kasih bersama Maria Fatima Masa Witak, S.Pd bersaksi, seolah memperkenalkan dan memuji sosok serta harapan-harapan ayahanda tercinta.

“Saya dulu sering diajak oleh bapa untuk menyiar di Radio Verbum. Sebenarnya bapa telah mempersiapkan saya untuk menggantikannya jika ia pensiun nanti. Tapi saya memilih untuk menjadi biarawati. Kami keluarga Katolik yang tulen. Bapa pun tak bisa menolak pilihan saya. Bapa mendukung dan merestuinya. Kini saya sedang studi komunikasi,” ucap Suster Fransisca, lantang.

Meski di luar aula ada hujan deras dan tiupan angin yang sangat kencang, dengan nada sedikit bercanda Bung Hendro mengatakan, “Kita tidak usah kuatir. Tidak usah takut. Ini hujan berkat. Ini tanda atau bukti bahwa leluhur datang dan mendukung kita”. Karena itu, tatkala Asisten bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi NTT, Dra. Bernadetha Meriani Usboko, MSi, yang membuka acara bedah dan peluncuran Buku Mutiara Dari Flobamorratass berujar, “Ini hujan berkat.”

Kehadiran undangan semua, sebut mantan Kepala Dinas Pemberdaayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, merupakan bukti kecintaan terhadap sosok Bung Hendro. “Dulu saya masih Kepala Dinas, hampir setiap hari Bung Hendro datang wawancara saya,” tandas istri Yukundianus Lepa, seraya berharap akan muncul penulis lain. “Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Bapak Gubernur berharap akan muncul Hendro-Hendro yang lain. Tentu Pemprov NTT akan mendukung,” tegas Erni Usboko.

Antar Sendiri Undangan

Ada pengakuan tulus dari Bung Hendro. “Saya mengucapkan terima kasih kepada tamu undangan semua. Karena saya sendiri yang mengantar undangan itu. Karena dulu, nenek saya berpesan kalau engkau mau tahu siapa sahabat atau teman maka buat acara dan undang mereka. Kalau mereka datang itu artinya mereka sahabatmu,” ucap Bung Hendro, mengingat kembali pesan “keramat” neneknya di kampung Nellu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Mengenakan pakaian adat khas sebagai anak timor lengkap dengan asesoris pedang di sebelah kanannya, Bung Hendro menyapa dengan khas setiap tamu undangan yang datang. Ada sukacita dan kegembiraan di hati dan wajah mereka. Bahkan Bung Hendro dengan gayanya yang khas memetik okolele dan menyumbangkan satu nomor lagu selamat ulang tahun yang ke-27 KSP Kopdit Familia yang menjadi sponsor utama penerbitan buku Mutiara Dari Flobamorratass.

“Mari kita mendukung gerakan koperasi khususnya Koperasi Familia. Kita semua sebagai satu keluarga besar. Segala sesuatu harus diawali dari keluarga. Terima kasih berlimpah saya sampaikan kepada Pak John Dekresano dan seluruh jajaran pengurus, pengawas dan manajemen KSP Kopdit Familia yang telah mendukung dan menjadi sponsor dalam penerbitan buku ini,” tandas Bung Hendro.

Apresiasi untuk Bung Hendro

Jhon Dekresano yang merupakan salah seorang pendiri KSP Kopdit Familia Kupang mengapresiasi hasil kerja Bung Hendro. “Saya beri apresiasi untuk Bung Hendro. Buku ini juga merupakan salah satu media sosialisasi terisitimewa bagi prinsip dan nilai-nilai koperasi. Karena berbagai nilai yang terdapat di dalam cerita ini sejalan dengan nilai-nilai koperasi kredit. Kami yakin ini juga sebagai suatu investasi,” ungkap Jhon Dekresano sembari menambahkan, “Suatu kehormatan bagi KSP Kopdit Familia untuk berada dalam acara Bedah dan Peluncuran Buku Mutiara dari Flobamorratass.”

Mantan anggota DPRD Provinsi NTT ini lebih jauh menjelaskan, pendidikan karakter khususnya anak-anak di daerah ini sesungguhnya merupakan tanggungjawab bersama; tidak hanya pihak pemerintah saja. Komitmen pemerintah terhadap pembentukan karakter termuat dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter dan Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pengembangan Budaya Literasi.

Menurut dia, hal ini menunjukan perhatian pemerintah dan Pemerintah Provinsi NTT betapa pentingnya pembentukan karakter anak bangsa. “Perhatian dan apresiasi terhadap budaya termasuk cerita rakyat dengan semua nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan tanggungjawab setiap warga negara,” ucap John Dekresano.

Cerita Rakyat versus Gadget

Ada pandangan menarik dari Ketua Komisi V DPRD Provinsi NTT yang juga politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ana Waha Kolin, SH, yang hadir dan memandu acara peluncuran Buku Mutiara dari Flobamorratass. “Selama ini budaya masyarakat NTT masih belum terangkat. Karena itu, ketika Bung Hendro Teme menulis ini kita memberikan apresiasi setinggi-tingginya dan memberikan support yang luar biasa kepada penulis. Selama ini jarang orang menulis soal-soal seperti ini,” kata politisi PKB daerah pemilihan Flores Timur, Lembata dan Alor.

Dikatakan, ketika dunia diperhadapkan dengan gadget dan seorang penulis mengangkat soal dongeng atau cerita-cerita rakyat seperti Buku Mutiara dari Flobamorratass ini dapat memberikan hal yang sangat positif bagi pembelajaran anak-anak. “Sekalipun disarankan untuk membentuk animasi-animasi tetapi hal ini perlu digalakkan agar semakin banyak orang yang tahu secara utuh tentang NTT. Jangan hanya ini saja Bung Hendro. Kita tunggu episode berikut,” tantangnya.

Pendapat senada diungkapkan Kepala BP PAUD dan DIKMAS Provinsi NTT, Maria Bertha Adventia Salem, SH, M.Hum. “Kami menilai dalam buku ini sangat bermanfaat bagi anak-anak jaman sekarang ini. Dimana dalam buku ini ada banyak cerita rakyat yang belum tentu kaum milenial saat ini mengetahui isi cerita dari masing-masing daerah,” kata dia dan menambahkan, “Dengan adanya peluncuran buku ini memberikan edukasi dan membuka kembali sejarah dari masing-masing daerah yang perlu diketahui oleh anak-anak milenial.”

“Satu hal yang mendasar adalah bagaimana kita memberikan sesuatu dalam hal ini budaya literasi kepada anak-anak kita. Agar mereka mencintai dan membaca buku. Tidak saja handphone yang mereka pegang tetapi buku. Karena lewat buku dari hal yang mereka tidak tahu menjadi tahu. Buku adalah jendela dunia,” tegasnya, sedikit tersenyum.

Cari Kebajikan dalam Ceritera

Penulis prolog buku, DR. Marsel Robot, M.Si pun mengakui hal yang sama. Kata dia, tak terbantahkan bahwa teknologi komunikasi, sebut saja Android, telah mengambil alih peran ibu dan ayah. “Anak-anak kita begitu tergantung pada pentil susu Android hingga ia hanya menjadi suku cadang dari benda ajaib itu. Bersamaan itu pula, meja makan di ruang tengah rumah kita sebagai perjamuan kemanusiaan dan halaman rumah sebagai beranda sosialita lenyap,” kritiknya.

Generasi Android (GA), sebut dia, telah menjadi penumpang kapal raksasa (peradaban) yang berangkat tanpa berlabuh. Pelabuhan terlalu jauh, rabun, atau memang tak ada pelabuhan itu. Di sanalah terjadi semacam bui kemanusiaan tanpa amar putusan, tanpa kehangatan kosmos, terpencil yang oleh Erich Fromm disebut sebagai alienasi.
Karena itu, sebut dosen FKIP Undana Kupang ini, Buku kumpulan ceritera (Legenda) Mutiara Dari Flobamorratass (Aneka Legenda Dongeng Masyarakat NTT) karya Yohanes AR. Teme merupakan jendela kecil untuk kita menjenguk ke dalam diri agar menemukan butir-butir mutiara yang tertimbun dalam lumpur peradaban modern atau digerus arus kemajuan teknologi komunikasi.

“Dalam kisah-kisah ini, kita dapat memergoki cara hidup masyarakat kita yang begitu kalem, parokial dan sarat dengan perbedaan. Pesan-pesan dalam legenda menjadi pelita yang sedang berkedip di tepian lorong peradaban. Menerangi jalan pulang ke dalam identitas dan kepesonaan kita. Kita memang sedang melakukan prosesi kolosal dari old society menuju modern socitey. Perjalanan yang kadang sangar yang menyebabkan kita tidak tahu diri, mengalami semacam niutsa’e (kesurupan dalam bahasa Dawan) yang tak kunjung siuman. Mungkin, karena alamat pulang telah digunting oleh teknologi, sehingga kitambir-mba (bahasa Manggarai Timur) yang berarti lari tanpa arah,” tegasnya.

Dia mengatakan, “Sesederhana apapun suatu ceritera (rakyat), selalu berniatan dan bermuatan pesan yang melebihi ceritera itu sendiri. Pesan moral, tuntunan laku, nasihat-nasihat bijak yang membimbing cara hidup bersama didapatkan dari ceritera. Kalau sedikit berlebihan, ceritera (rakyat) adalah sabda purba yang menggemakan suara-suara profetik dalam bentuk alegori dan metafora. Setiap kali diceriterakan kembali, tercipta pula makna baru dan kehidupan baru”.

Sedangkan P. Fritz Meko, SVD dalam epilog buku menulis, semua dongeng dalam buku ini mengusung nilai pendidikan dasar yang sangat berguna bagi siapapun yang membacanya. Keluarga-keluarga yang ingin agar anak-anaknya memiliki kecerdasan emosional, baiklah mereka diajak untuk membiasakan diri membaca buku dongeng. Sekadar “reffrein” ke masa lalu. Dahulu orang tua kita selalu mendongeng sebelum anak-anak tidur; dan justru “pendidikan” dengan cara men-dongeng ini, membawa pengaruh yang sangat powerful bagi anak-anak yang pernah mengalaminya.

Tentu kebiasaan ini, sebut Pater Fritz, tidak “laku” lagi di zaman sekarang. Warna zamannya sudah berbeda. Tingkah laku dan style hidup anak-anak kita saat ini juga, sudah sangat jauh berbeda. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa, dongeng yang dibukukan dapat dibaca oleh anak-anak sekarang dan secara motoric, akan membantu memori mereka untuk menangkap nilai yang terkandung dalam dongeng-dongeng tersebut. Karena itu, bukan tidak mungkin kebiasaan ini, akan dapat memengaruhi mindset, heartset dan skillset anak-anak kelak.

Akhirnya, kata Pater Fritz, Hendro sebagai salah seorang penulis buku dongeng, telah memberikan sebuah “media pendidikan” kepada para pembaca di mana pun berada, khusunya kepada warga Nusa Tenggara Timur. “Sudah pasti, dongeng yang adalah suatu kearifan lokal, telah bertumbuh dalam rahim setiap masyarakat pada ratusan tahun yang lalu. Ia mempunyai pesan aktual yang dapat menopang secara arif, setiap orang yang ingin berkembang dengan memiliki integritas pribadi yang baik dan benar,” tulis Pater Fritz.

Di tempat terpisah, editor Valerius P. Guru menilai, kehadiran dan keberadaan Buku Mutiara dari Flobamorratas karya Bung Hendro ini sesungguhnya ingin berceritera kepada masyarakat di Provinsi NTT khususnya dan di Indonesia pada umumnya tentang nilai-nilai moral dan kultural. “Bung Hendro sesungguhnya sedang menghidupkan kembali sejuta nilai dan pesan moral yang ada di balik ceritera di dalam buku ini. Serentak dengan itu Bung Hendro ingin menegaskan kepada masyarakat apa yang dituturkan Pramodya Ananta Toer, orang boleh sekolah setinggi langit tetapi ketika dia tidak pernah menulis; dia akan hilang di tengah masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Bung Hendro telah membuktikannya,” katanya.

Benar juga apa yang dikatakan Anthony de Mello seperti dikutip penulis prolog. “Jika Anda kehilangan koin, carilah dengan pelita. Jika Anda kehilangan kebajikan dan kebenaran carilah dalam ceritera.”

Acara bedah dan peluncuran buku Mutiara dari Flobamorratas dihadiri ratusan tamu undangan yang berasal dari berbagai elemen masyarakat, pejabat pemerintahan, pejabat TNI dan Polri, unsur kejaksaan, pegiat literasi para pengurus dan anggota koperasi, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta kaum milenial. Acara dipandu Bruder Vinsensius Polli, SVD. (verry guru/editor buku)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments