Kalian Tulis Saja Apa Adanya, Tidak Perlu Puji Saya….

by -1,141 views

Foto berssma Tim Media Victory-Joss bersama Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat.

Tiga tahun telah berlalu. Tim media Victory-joss tak pernah bersuah dengan Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat, orator cerdas dengan mimpi-mimpi besar selama kampanye Pilgub. Sejak dilantik jadi Gubernur bersama Wagub Josef Nae Soi, 5 September 2018, tim media mengambil jarak. Tugas tim media selesai ketika dia sudah mendapat legitimasi sah memimpin NTT dengqn spirit “NTT Bangkit, NTT Sejahtera”.

Namun tim media terus memantau setiap dinamika yang terjadi selama VBL menahkodai NTT. DIa tetap dengan karakter maskulinnya; lugas, tegas dan apa adanya. Senin 6 Desember 2021, tim media diperkenankan bertemu dan berdiskusi hingga bercanda rileks 90 menit di ruang kerjanya. Ada pesan khusus tapi ada pula yang layak diketahui publik.

==≈=====================

SELASA, 7 Desember 2021.
Ada perasaan gunda ketika Bagian Protokol Gubernur NTT menginformasikan waktu untuk beraudiensi dengan orang nomor satu NTT ini. Apa yang harus dibicarakan dengan Gubernur VBL di tengah masih viral dan hebohnya insiden Kabaru Sumba Timur. VBL dihujat netizen tanpa ada pembelaan.

Pukul 12.15 Wita, Tim media Victory-Joss; Bonefasiua Pukan (nttsatu.com), Joey Rihi Ga (seputarntt.com), Yulius Seran (likurai.com), Elas Jawamara (savanaparadise.com) dan Josh Diaz Beraona (mediantt.com), sudah ada di ruang tunggu Gubernur. Tak lama bergabung pula Kadis Kominfo NTT Aba Maulaka dan Kasubag Komunikasi Pimpinan Abri Kore.

Tepat pukul 13.30 Wita, Tim Media masuk ruang kerja Gubernur. Joey Rihi Ga, yang dipercayakan jadi jubir tampak kikuk saat duduk di samping kanan Gubernur VBL yang sedang viral karena sebutan monyet kepada seorang pemuda yang nyeletuk tak etis di Sumba Timur. Tegang. Semua menunggu apa kalimat pertama yang dilontarkan VBL membuka percakapan. Ekspresinya biasa saja tapi bikin nyali sempat ciut. Padahal, 7 bulan lebih tim media selalu bersama selama masa kampanye Pilgub tahun 2018.

Sebenarnya, bertemu putra terbaik asal pulau Semau itu bukan hal baru. Selama 7 bulan masa kampanye kami sebagai tim media Victory-Joss selalu mendampingi kemana saja mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI itu pergi menjual mimpi untuk membangun tanah Flobamora dalam spirit besar; NTT Bangkit, NTT Sejahtera. Apa yang menjadi mimpi Viktor Laiskodat untuk membangun NTT sudah ada dalam kepala. Mimpi dan cita-citanya yang begitu tinggi, setinggi cintanya pada NTT, sudah membuat publik percaya, VBL bisa membawa NTT bangkit menuju sejahtera. Karena itu, tidak heran ketika dia sudah jadi Gubernur lalu sering heboh dan viral dengan ucapan-ucapannya yang keras dan tak biasa.

Bayangkan saja! Saat kampanye saja VBL pernah menampar seorang pemuda di tempat kampanye karena sedang mabuk. Dia tak pernah peduli apakah nanti orang akan memilih atau tidak. Tapi dia selalu spontan mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya. Dia orang yang enggan mencari simpati. Dari sejak kami kenal hingga sekarang dia menjadi gubernur, VBL tidak berubah. Dia tetap sosok yang dingin dan tegas. “Pride yang saya tampilkan adalah pride Provinsi NTT, bukan pride seorang Viktor Laiskodat. Saya udah lewat itu,” tegas Viktor.

Publik tahu bahwa VBL adalah salah satu putra NTT yang nekad masuk Jakarta dalam keterbatasan, tapi mampu menaklukan ibu kota lalu kembali mengabdi untuk tanah kelahirannya. Dia bahkan menjadi bagian dari Man Behind The Gun dalam menentukan arah politik nasional bersama para petinggi negeri ini. Itulah mengapa siapa saja, termasuk tim media VJ, agak gulana saat disiapkan waktu khusus untuk bertemu VBL.

DI RUANGAN kerja Gubernur VBL saat itu ada pula Suster Marcelina Lidi, SSpS, S.Fil, Lic, yang sedang ngobrol bersamanya. Seperti biasa, kami memberi salam ala corona, lalu dipersilahkan duduk

VBL pun memulai pembicaraan dengan nada dingin tapi tegas. “Bagiamana? Kalian di mana saja? Mau omong apa?” Itulah kalimat yang keluar pertama dari bibir VBL.

Joey Rihi Ga, Pemred seputarntt.com,
sembari menarik napas cukup dalam, menyampaikan apa yang menjadi maksud dan tujuan kami. Lalu VBL balik berkata, “Kamu sudah sampaikan jadi silahkan pulang!”. Lalu dia tertawa lepas. Maka plong. Lega.
Suasana obrolan itu pun amat cair, santai tapi bermakna, sembari mengenang masa-masa kampanye yang penuh dinamika politik.

Dari sekian banyak cerita dalam diskusi kami, VBL menyinggung bahwa dirinya mendapat banyak kritikan bahkan kecaman pasca masalah di Sumba Timur. Namun dia selalu menghadapi setiap persoalan dengan tidak menghabiskan pikiran dan tenaga untuk menjelaskan apalagi untuk membela diri. Sebab, apa yang dilakukannya di Sumba itu adalah bagian dari langkah-langkah menggenapi setiap janji kampanye pada Pilgub lalu.

Sapi wagyu yang akan dikerjakan di Sumba Timur, adalah mimpi VBL untuk menghasilkan daging premium dari NTT. Dan ini sudah berkali-kali diteriakan secara lantang dari atas panggung kampanye di Pulau Sumba. Malah dia sendiri datang ke lokasi di Kabaru untuk menggenapi apa yang pernah dia sebut bahwa di NTT, tidak ada lahan tidur, yang ada manusia yang tidur.

VBL secara jujur mengakui bahwa dia akan sangat marah jika ada orang yang ingin menghalang-halangi pemerintah dalam membangun di setiap wilayah NTT. “Saya tidak akan pernah marah orang yang benci atau marah dengan saya. Tapi saya sangat marah jika ada orang yang menghalangi saya untuk membangun NTT,” tandas VBL.

Dia memberi contoh kasus Besipae. Waktu itu begitu viral dan menjadi perhatian nasional. Bahkan Presiden Joko Widodo sampai tiga kali menelepon dirinya. Tapi VBL tetap kukuh pada pendirian dan komitmennya bahwa Besipae harus dibangun dan dia meminta semua orang untuk melihat apa yang sudah dilakukan di Besiape saat ini.

Banyak hal yang disampaikan oleh VBL dalam diskusi yang berlangsung sangat santai. Meski banyak yang harus off the record. Berulang kali dia tertawa lepas, apalagi mengenang saat-saat sulit waktu kampanye. Karena itu, dia tidak mau main-main dalam bekerja. “Kalian sudah kenal saya selama kampanye dulu. Jadi tugas kalian itu menulis apa adanya, termasuk kritik sekalipun. Tulis setiap fakta yang terjadi. Tidak perlu puji-puji saya, karena pujian itu milik Tuhan,” pesan VBL.

*Orang Gila*

Suster Marcelina pun sesekali menyela pembicaraan kami. Rupanya VBL sudah meminta Sr Kepala SMA Katolik Baktyarsa Maumere ini untuk menjadi staf khusus Gubernur NTT. Bahkan dia bersurat ke Tahta Suci Vatikan untuk mendapatkan restu. “Kita butuh orang-orang cerdas dan gila untuk membangun NTT,” kata VBL sambil menjelaskan kapada kami bahwa Suster yang ada disampingnya sudah berkeliling dunia dan memiliki visi yang sama dengan dirinya dalam membangun NTT.

Ketika menyinggung soal agenda politiknya pada tahun 2024, VBL menyatakan masih fokus bekerja keras memajukan NTT hingga tuntas di 5 September 2023. Dia mengaku sudah ada tanda-tanda kemajuan NTT. Dan masih punya waktu dua tahun untuk menjawab semua program yang diharapkan.

“Komitmen saya adalah menuntaskan kepemimpinan ini hingga 5 September 2023. Perkara setelah itu (Pilgub 2024) akan kita lihat respon rakyat dan yang penting itu menunggu petunjuk Tuhan,” tegas VBL.

*Leon Itu Partner Saya*

Satu lagi penegasan Gubernur VBL terhadap tudingan keterlibatan anaknya, Leon Laiskodat, dalam proyek sapi Wagyu di Sumba Timur. VBL jujur mengakui itu tetapi tidak sepeser pun menggunakan dana APBD seperti yang ramai disebut Rp 700 miliar itu. “Gak ada itu. Saya butuh anak saya Leon sebagai partner. Karena dia sudah punya jaringan bisnis. Dia kerja dengan uang sendiri. Tidak pernah ngemis dari APBD, apalagi dibilang Rp 700 miliar itu. Tidak ada itu,” tegas VBL.

Dia juga blak-blakan mengaku mendidik anaknya menjadi pebisnis sejak usia 15 tahun. “Anak saya di usia 15 tahun sudah duduk bersama para konglomerat untuk bicara bisnis mewakili saya. Dan Leon sudah pada level itu, makanya saya butuh dia sebagai partner. Apalagi dia fasih berbahasa Inggris dan Mandarin,” kata Pendiri NasDem ini.

Tiga tahun memimpin NTT, VBL tidak berubah dalam bersikap. Tetap tegas layaknya seorang pemimpin yang harus memastikan terbit dan tenggelamnya mentari. VBL menyadari bahwa pemimpin itu harus memiliki hati seluas samudera yang tidak akan berkurang jika ditimba dan tak akan meluap jika diguyur. (josh diaz)
 

3.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments