Patung Bunda Maria di Lewoleba

by -1,601 views

(Sebuah catatan kecil dari Anak Lembata)

Oleh : Pater Herman Bataona, CMF Misionaris Claretian di Paroki Santa Maria Fatima Lolotoe, Keuskupan Maliana, Timor Leste.

NAMA Lembata, Lewoleba, sempat jadi topik hangat dalam satu dua hari ini. Pasalnya, di pulau ikan paus ini, ada sebuah kejadian sedikit “hebo”. Diberitakan di beberapa media berita online (termasuk dan paling banyak media sosial), sebuah patung Bunda Maria setinggi satu meter ditemukan mengapung di perairan teluk Lewoleba oleh nelayan bernama Rudy Keraf dan temannya (Rabu, 24/11 2021).

Menurut pengakuan Rudy, patung itu ditemukan saat dia bersama temannya menuju ke tempat mancing biasa menggunakan perahu motor. Saat ditemukan, ada sebuah Rosario terlilit di tangan patung itu. Video penemuan patung itu dibagikan Rudi di akun Facebooknya dan dibanjiri komentar.

Ada yang mengucapkan selamat kepada Rudy dan lebih banyak lagi berkomentar sekaligus dengan doa-doa kepada Bunda Maria. Misalnya, semoga Bunda melindungi Lewotana kita dari segala malapetaka yang akan terjadi. Komentar-komentar itu katanya tidak dibalas oleh Rudy karena masih lanjut mancing sebelum kemudian membawa Patung itu ke darat.

Rumah Rudi lantas jadi ramai oleh orang-orang sekitar saat Rudi dan temannya pulang mancing. Orang-orang datang dengan lilin dan berdoa di depan patung yang diletakkan di ruang tengah rumah Rudy.

Ketika orang-orang sibuk membahas peristiwa itu di media sosial, dan rumah Rudi pun terus dibanjiri para pengunjung yang rata-rata umat Katolik, muncul sebuah postingan yang lain. Dalam postingan itu ada foto seorang yang diduga kelainan jiwa (gila) sedang menggendong sebuah patung Bunda Maria dan berdiri persis di bawah tiang beton dermaga yang sudah mulai berlumut. Pemilik akun menyertakan caption dalam gambar itu demikian, “Bukan terdampar begitu saja, tapi om ini yang diduga ada gangguan mental yang taro di laut… om ini kami sering ketemu di pesta-pesta, joget pake kacamata hitam, jas dan sarung. Jadi jangan prediski yang aneh-aneh bilang kode alam atau apapun itu. Bersyukur nelayan itu so temukan dan bisa bawa pulang taro di tempat yang aman. Yang jadi pertanyaan, dari mana dia dapat itu patung. Dia jalan pegang deng ini patung orang te liat ka??”

Perdebatan pun terjadi. Ada yang mati-matian mempertahankan bahwa itu tanda alam, Bunda Maria datang sendiri untuk Lembata, Bunda Maria ingin menjaga Lembata, dan macam-macam pendapat pro lainnya. Ada juga yang matia-matian mengatakan bahwa patung itu dibuang oleh orang gila, yang katanya juga sering mengambil barang-barang lain seperti patung, salib, foto-foto di kuburan umum warga dan dibuang ke laut. Sementara yang lain meminta agar kasus ini diselidiki lagi supaya tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

Sebagai anak Lembata, saya sendiri dihujani banyak pertanyaan terkait peristiwa ini; “Romo, komentar dong penemuan patung di kampung Romo; apa tanggapan Romo tentang patung Bunda Maria yang terdampar di Lembata; Romo, wah tempat Romo kayaknya banyak dosa tuh, Bunda Maria datang ke sana (emotion tertawa); wah tempat Romo bisa jadi satu destinasi wisata rohani baru lagi dong…” dan masih banyak lagi. Saya hanya menjawab, saya selidiki dulu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Sempat terlintas di kepala saya satu dua kemungkinan terkait hal ini. Kemungkinan pertama, bisa jadi ada sebuah bencana banjir besar di Lembata atau sekitarnya dalam hari-hari ini, sehingga patung (yang kemungkinan besar terbuat dari fiber) itu terapung hingga kemudian ditemukan. Beberapa kemungkinan lain yang mirip misalnya karena ombak besar dan kapal karam yang di dalamnya mungkin ada penumpang yang membawa patung Bunda Maria. Namun, ini sangat kecil kemungkinan, karena tidak ada berita mengenai bencana alam dalam satu pekan ini.

Kemungkinan kedua, saya lebih berat ke berita tentang orang dengan gangguan jiwa yang membuang sebuah patung ke laut, mirip dengan yang ditemukan itu. Ini mungkin mendekati kebenaran, karena ada foto jelas.

Kemungkinan ketiga, sebenarnya sudah masuk ke rana refleksi iman yang sedikit ada mistis-mistisnya, hehehe. Bisa saja ada peristiwa iman di mana Allah ingin menunjukkan kebesaran kuasanya lewat tanda-tanda dan kejadian-kejadian lahiriah, seperti penemuan patung, atau penampakan-penampakan Bunda Maria, dan lain-lain. Ingat kisah Patung santa Perawan Maria Aparecida di Brazil yang ditemukan oleh tiga nelayan setempat; Dimongos Garcia, Joco Alves, dan Felipe Pedroso pada 12 Oktober 1717, yang kemudian menjadi pelidung negara Brazil.

Atau tak usah jauh-jauh, ada kisah Tuan Ma lima abad silam di Larantuka, ketika sebuah patung Bunda Maria ditemukan di pantai Larantuka (tahun 1510), diduga berasal dari kapal Portugis atau Spanyol yang karam di Larantuka. Saat itu seorang anak laki-laki bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan saat mencari siput di pantai Larantuka.

Tidak bermaksud memirip-miripkan kejadian di Lewoleba dengan hikayat Sakral Tuan Ma yang sudah melegenda. Namun bisa dimaknai sebagai sebuah peristiwa di mana Allah yang Super, Allah yang Maha, Allah yang Tinggi Luhur itu, ternyata bisa hadir menyapa manusia lewat cara-cara yang banyak kali di luar nalar manusia.

Maka jika benar patung itu dibuang oleh orang gila, tentu patung itu punya pemiliknya, silahkan dicari tahu. Dan jika sudah berhasil menemukan pemiliknya silahkan diluruskan pemberitannya ke publik agar tidak terus menimbulkan pertanyaan dan kebingungan. Dan untuk kita semua, silahkan berdoa kepada Tuhan, berdoa bersama Bunda Maria, cukup di rumah kita masing-masing atau di gua-gua Maria yang sudah ada.

Biarkan Abang Rudi dan keluarganya berdoa di depan patung Bunda Maria yang beliau temukan itu. Tidak perlu berdesakan ke rumah Rudy untuk berdoa, karena berdoa di rumah juga sama saja. Patung apapun hanya sarana yang disucikan agar kita menghayati iman kita untuk sampai pada Allah Tritunggal Yang Mahakudus. Kita tidak menyembah patung, tetapi menghormatinya sebagai simbol kehadiran figur yang tergambar.

Tetap tenang, dan semoga iman kita di tanah Lembata tidak terpengaruh sedikitpun dengan peristiwa semacam ini. Justru iman kita semakin diperteguh bahwa Tuhan, Bapa, Ama, Allah Lera Wulan Tanah Ekan, tetap ada kemarin, hari ini, esok dan selama-lamanya; untuk kita di Lembata ini, dan untuk semua orang yang beriman kepada-Nya. Salam, doa, dan berkat dari tanah misi. (***)
—–

25/11/2021
@josehermancmf

4.1 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments