Siswa MAN di Pota Daur Ulang Sampah Kertas Jadi Kerajinan Bermutu

by -252 views

Yohanes De Santo bersama para Siswa MAN Pota memperlihatkan hasil kerajinan tangan dari daur ulang sampah kertas.

ADALAH seorang Yohanes Soubirius De Santo, S.Pd. Guru mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kelurahan Pota, Kecamatan Sampi Rampas, Manggarai Timur ini, yang menjadi pelopor dan mentor bagi siswa-siawinya mendaur ulang sampah kertas menjadi kerajinan tangan yang bermutu dan berguna.

Karena itu, ada cerita tentang manfaat kertas dari pesisir pantai utara Flores di Manggarai Timur, tepatnya di Kelurahan Pota.

Kepada mediantt.com, Rabu (25/11), Yohanes Soubirius berkisah, ide ini muncul berawal dari isu tentang lingkungan, terutama keresahan akan sampah. Dan, salah satu penghasil sampah yang tertinggi adalah sampah kertas. Di lingkungan masyarakat, tahapan terakhir pengolahan sampah kertas, hanya dibakar saja. Begitu juga dengan sampah jenis lainnya, seperti plastik, kaca, logam, dan jenis-jenis sampah lainnya. “Namun tanpa disadari kegiatan pembakaran sampah ini akan melepaskan karbondioksida (CO2) yang justru akan semakin memperparah pemanasan global,” kata Yohanes.

Karena itu, menurut dia, berawal dari hal-hal tersebut, salah satu sekolah di pesisir pantai utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, yaitu MAN Manggarai Timur, pada saat mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, dia berusaha merespon permasalahan diatas dengan mengolah sampah kertas menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, daripada hanya menjadi bahan bakaran saja.

Pengolahan sampah kertas ini juga berguna untuk mengasah kepekaan siswa akan lingkungan sekitarnya. Pun, sebagai pemantik inisiatif siswa agar bisa juga untuk mengolah sampah-sampah jenis lainnya.

Dia pun menjelaskan proses singkat dalam pengolahan sampah kertas ini antara lain, mulai dari mengumpulkan bahan utamanya yaitu kertas, yang dikumpulkan dari tempat-tempat pembuangan sampah di sekitar sekolah. Kemudian kertas tersebut dilebur dengan air, hingga menjadi bubur kertas.

“Setelah itu siswa membuat desain untuk proses pengolahan kertas selanjutnya, dimana desain yang dibuat tercipta dari bentuk-bentuk flora yang ada di sekitar sekolah. Namun disini untuk melatih kreativitas siswa, guru menerapkan teknik stilasi (memperkaya objek) dalam desain yang mereka buat,” jelas Yohanes.

Di tahapan berikutnya, sambung dia, setelah pemipihan dan pengeringan bubur kertas, maka bubur kertas yang sudah kering dibentuk dan dirangkai sesuai dengan ragam bentuk dari desain yang dibuat sebelumnya. Di tahapan akhir, siswa memberikan sentuhan warna, guna memperkaya kesan estetik dari produk kerajinan yang dibuat.

“Setelah proses tersebut, diharapkan produk yang dihasilkan, selain untuk memberikan solusi bagi permasalahan lingkungan sekitar, juga bisa menjadi peluang usaha, khususnya usaha dalam sektor kerajinan, baik kerajianan yang bertujuan sebagai fungsi pakai ataupun fungsi hias yang punya nilai jual, sehingga dapat menunjang perekonomian keluarga, maupun perekonomian masyarakat,” jelas Yohanes. (jdz)

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments