Menakar Peluang Airlangga-Ganjar Lawan Prabowo-Puan di Pilpres 2024

by -165 views

Wakil Ketua Umum Golkar Nurdin Hamid wacanakan duet Airlangga-Ganjar

JAKARTA – Peta pertarungan partai politik jelang Pilpres 2024 terus memunculkan sejumlah nama. Wacana duet Prabowo-Puan berhadapan dengan Airlangga -Ganjar muncul ke permukaan saat Wakil Ketua Umum Golkar Nurdin Halid membuka peluang menggaet Gubernur Jawa Tengah tersebut.

“Saya pikir pernyataan Nurdin Halid itu merespons adanya kedekatan PDIP dan Gerindra, sehingga memicu Golkar untuk pasang badan terhadap Ganjar Pranowo, mendampingi Airlangga Hartarto apabila skenario Prabowo-Puan itu terjadi,” kata pengamat politik dari LIPI, Wasisto Raharjo kepada sindo.com, Jumat (12/11/2021).

Wasisto menjelaskan, Airlangga berpotensi besar menggaet Ganjar Pranowo. Mengingat menteri perekonomian tersebut membutuhkan pasangan yang populer untuk menaikkan elektabilitasnya.

Terkait partai politik (parpol) lainnya yang akan berkoalisi ke PDI-P atau Golkar, hal ini tergantung tren elektabilitas para calon ke depan.

“Misal Ganjar dan Prabowo bisa konsisten di posisi lima besar, maka hal itu berdampak munculnya ‘perang bintang’. Di mana sebagian partai-partai memihak ke kubu Golkar dan sebagian ke PDIP,” ujarnya.

Ia menduga, pasangan Airlangga-Ganjar kemungkinan akan didukung oleh Partai Demokrat dan Nasdem. Partai-partai ini bisa merapat karena didorong perlunya menyudahi dominasi PDIP yang sudah 10 tahun berkuasa.

Wasisto menilai, peluang menang di Pilpres 2024 pasangan Prabowo-Puan dan Airlangga-Ganjar 50:50. Faktor yang mempengaruhi keterpilihan kedua pasangan adalah kebutuhan akan kesempatan sama sebagai formatur pemerintahan dan keinginan publik untuk memilih capres dan cawapres dari kalangan nonelite.

Wasisto juga mengatakan, peluang Ganjar untuk “membelot” sebenarnya menunggu momentum tepat. Ganjar dinilai, tidak mau terbawa ego untuk segera pindah ke partai lain, karena senantiasa menduduki 5 besar capres populer.

Selain itu, Ganjar terlihat berada di dua kaki yakni mencitrakan diri sebagai kader yang loyal pada PDIP sambil membiarkan publik mengangkat dirinya sebagai capres ideal lewat berbagai lembaga survei.

“Momen (Ganjar pindah) ketika Megawati sudah semakin kuat mengangkat putrinya sebagai kandidat yang diusung PDIP,” ujarnya.

Warsisto menilai, kepindahan Ganjar akan benar-benar terealisasi sebelum masa pendaftaran kandidat dalam Pilpres 2024. Persepsi positif publik kepada Ganjar akan semakin meningkat apabila nanti ada berbagai macam sindiran dari elite PDIP kepadanya.

“Sebenarnya, persepsi positif dan negatif kembali lagi pada manuver politik yang akan diambil Ganjar nanti, karena bila mengalir sendiri tanpa hanyut ke arus deras sebenarnya Ganjar sudah mendapat citra positif,” tutupnya.

Golkar Buka Peluang

Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP Partai Golkar, Nurdin Halid membuka peluang menduetkan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Menurut Nurdin, kelompok pendukung Ganjar sebagai calon presiden (capres) 2024 tidak perlu khawatir Ganjar tidak diusung menjadi capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Bahkan, Golkar membuka peluang untuk mengusung Ganjar menjadi pasangan Airlangga di Pilpres 2024.

“Nanti kalau Ganjar tidak mendapatkan tempat di partainya, ada Golkar terbuka,” kata Nurdin dalam Dialektika Demokrasi yang bertajuk “Fenomena Kemunculan Relawan Capres Sejak Dini: Siapa Punya Ambisi?” di Media Center DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (11/11/2021).

Nurdin menjelaskan, peluang itu terbuka karena Golkar tidak mungkin mengusung Airlangga seorang diri di Pilpres 2024. Menurutnya, Ganjar pun berpeluang menjadi capres ataupun cawapres ketika diduetkan dengan Airlangga di Pilpres 2024. “Apakah nomor satu (atau) nomor dua, itu soal nanti. Kan Pak Airlangga tidak mungkin maju sendiri, pasti ada wakil,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nurdin memperkirakan Pilpres 2024 akan menghadirkan tiga pasangan capres-cawapres. Sehingga, Golkar hanya butuh berkoalisi dengan satu parpol lagi untuk memenuhi syarat ambang batas pencalonan capres-cawapres di Pilpres 2024. “Feeling saya, tiga calon maksimal, kan ada presidential threshold,” kata Nurdin. (sindo/jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments