Keraguan Salah Alamat, Papua Sukses Gelar PON Tersulit

by -469 views

Oleh : Andre Koreh *)

PON XX/2021 Papua telah berakhir yang ditandai penutupannya oleh Wapres Maruf Amin. Pelaksanaannya layak dinilai sukses dan bernilai tambah bagi peserta PON, terutama bagi warga Papua secara khusus dan Indonesia secara umum.

Jika Wapres melukiskan PON XX/2021 Papua sebagai PON tersulit karena dilakukan di tengah pendemi Covid-19, agak berbeda dengan pandangan Ketum KONI Pusat, Marciano Norman yang menyebutnya sebagai PON Perjuangan karena PON kali ini digelar pertama kali di wilayah Timur Indonesia, dengan berbagai kekurangan dan keterbatasan. Adalah stigma Indonesia bagian timur yang masih tertinggal ketimbang wilayah Indonesia bagian barat.

Kedua pandangan itu sangat beralasan hingga wajar saja memunculkan keraguan atas kemampuan Papua sebagai tuan rumah multi even 4 tahunan ini. Keraguan itu bergulir dan terasa terus menguat sejak Papua pada tahun 2014 lalu dinyatakan memenangi lelang sebagai tuan rumah PON XX /2020 (2021).

Memang tidak terbantahkan. Bumi Cenderawasih Papua sejauh ini masih melekat dengan berbagai stigma negatif. Sebut misalnya kemiskinan, kebodohan, terluar, terbelakang dan tertinggal. Bahkan dianggap sebagai daerah tidak aman, juga akrab dengan isu pelanggaran HAM. Namun sejarah pelaksanaan PON Papua dengan bentangan fakta jauh berbeda. Ternyata Papua membalikkan semua asumsi dan keraguan publik. Buktinya, Papua sukses sebagai Penyelengara PON XX/2021!

Setidaknya ada beberapa indikator sukses yang bisa dicatat. Antara lain, sukses penyelenggaraan. Contohnya, 37 cabor yang dipertandingkan dengan 56 disiplin dan 679 nomor pertandingan yang melibatkan 6.746 atlet dan 3.300 ofisial, berlangsung lancar aman dan tertib. Memang ada sedikit insiden di cabor tinju dan gulat, namun itu hanya dinamika pertandingan. Juga sempat terjadi miskomunikasi di bidang konsumsi, akomodasi dan transportasi. Namun miskomunikasi itu terjadi hanya di awal penyelenggaraan. Selanjutnya berjalan lancar sesuai rencana.

Indikator keberhasilan lainnya adalah sukses prestasi. Tercatat ada 55 rekor nasional terpecahkan dari 4 cabang olah raga, masing masing selam 5 nomor, atletik (11), angkat besi (17) dan aquatik (22). Catatan ini menunjukkan bahwa para atlet bisa meningkatkan potensinya di arena PON Papua.

Selain itu, kontingen PON Papua sebagai tuan rumah berhasil naik ke urutan 4 besar peraih medali terbanyak. Papua membukukan 93 medali emas, 66 perak, dan 102 perunggu. Atau totalnya 261 medali. Catatan prestasi ini menunjukkan peningkatan empat level dibanding PON XIX /Jabar /2016. Saat itu Papua bertengger pada urutan 8.

Berkat PON

Berkat PON, Papua juga sukses membuka ruang investasi sebagai salah satu ukuran kesuksesan. Contohnya, banyak infrastruktur terbangun yang diinvestasikan pemerintah pusat maupun daerah. Infrastruktur itu sebagiannya bertemali langsung dengan penyelenggaraan PON seperti veneu-veneu baru berstandar internasional. Sebagian lainnya adalah infrastruktur pendukung seperti jalan, perumahan, air bersih, penataan bangunan dan lingkungan, persampahan dan lainnya. Kesemuanya itu tentu saja memberi akses kemudahan bagi masuknya investor untuk menanamkan modalnya di Papua.

Secara geopolitik, kesuksesan PON Papua memberi kesan kuat bahwa Papua telah layak disejajarkan dengan provinsi lain di wilayah NKRI. Di sisi lain, kesuksesan penyelenggaraan PON Papua, memberi pesan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan persatuan dan kesatuan yang kokoh, aman dan damai warganya. Juga mampu bangkit dari berbagai kesulitan ekonomi dengan menggelar sebuah multy event olah raga, justru di tengah kesulitan dunia menghadapi pandemi Covid.

Lima Poin Positif

Keberhasilan PON Papua pantas dengan beberapa kesimpulan positif. Pertama, Papua telah membuktikan bahwa kemauan dan kerja keras serta komitmen tinggi untuk menggelar multy event semacam PON adalah sebuah keniscayaan yang bisa juga digelar di daerah timur Indonesia lainnya, atau daerah yang masuk dalam katagori daerah 3T. (tertinggal, terbelakang dan terluar).

Kedua, menciptakan momentum seperti PON adalah strategi tepat dalam membangun daerah yang dirasa lamban pertumbuhannya, apalagi jika hanya mengandalkan dana DAU/DAK dan DBH (dana bagi hasil). Sehingga momentum PON ini membuat posisi tawar penyelenggara PON (dalam hal ini Pemda sebagai tuan rumah), menjadi lebih kuat dalam mendesain dan mengkolaborasikan berbagai kepentingan daerahnya dengan berbagai pihak.

Ketiga, sarana prasarana PON yang terbangun dengan standar kualitas internasional dapat dimanfaatkan pasca PON dengan menjadikan Papua sebagai salah satu pusat pengembangan olah raga nasional. Pengurus besar berbagai cabang olah raga, bisa melakukan pelatihan nasional (pelatnas) atau kejuaraan nasional maupun internasional di Papua, sehingga sarana ini bisa terpelihara dan termanfaatkan dengan baik demi peningkatan prestasi olahraga nasional.

Keempat, Papua adalah Indonesia dan Indonesia adalah Papua. Antusiasme warga Papua selama PON seakan menjawab isue miring tentang “surga kecil” di timur Indonesia ini. Sebagian besar warga Papua mencintai NKRI. Karena itu, saatnya bagi para pemerhati dan pengamat menilai Papua dengan jujur dan objektif bahwa Jakarta tidak mengabaikan Papua. Tidak malah dari jauh menggoreng isue pelanggaran HAM dan lainnya, apalagi dilakukan dari luar negeri tanpa melihat fakta pembangunan di Papua.

Terakhir, PON Papua memberi pelajaran bahwa multi event sebesar apapun bisa digelar di seluruh wilayah NKRI. Semboyan “TORANG BISA” adalah tekad bahwa apapun kekurangan dan kesulitan, bisa kita hadapi dan atasi bersama, asalkan kita mau bersatu, bergandengan tangan, saling mengisi dan saling melengkapi.

Setelah PON berlalu, kini kita menanti indikator sukses susulannya yaitu sukses pertanggungjawaban keuangan. Seperti diketahui, tidak sedikit anggaran yang digelontorkan pemerintah baik pusat dan daerah maupun sumbangan dari berbagai pihak demi suksesnya perhelatan akbar ini. Semoga PB PON sebagai penyelenggara, dalam hal ini Pemda Papua bisa menyempurnakan kesuksesan PON Papua dengan membuat pertanggungjawaban keuangan yang baik dan benar. Karena pertangungjawaban keuangan yang baik belum tentu benar. Tapi pertanggungjawaban yang benar hampir pasti baik. Kita menanti laporan keuangan penyelenggaraan PON oleh auditor negara. Salam olah raga!!! Jaya !!!

*) Penulis adalah Ketua Umum KONI NTT 2019-2021.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments