Dr Frits Jelaskan Hasil Pertemuan dengan Jokowi, Ini Pesan untuk Gubernur VBL

by -1,795 views

Dr Frits Fanggidae didampingi pengurus Nasdem NTT; Alex Ena, Boby Fanggidae dan Yusak Meok.

KUPANG, mediantt.com – Senin, 30 Agustus 2021, Dr Frits Fanggidae, bersama 13 tokoh mendapat kehormatan bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Ada dua agenda utama yang didiskusikan, yakni akselerasi atau percepatan vaksinasi bagi rakyat dan rencana pemindahan ibukota negara ke Kalimantan Timur.

“Pada Sabtu 28 Agustus 2021 malam, Ibu Gubernur NTT Ny Juli Sutrisno Laiskodat, mendapat telp dari istana untuk merekomendasikan salah satu tokoh masyarakat NTT yang non politis atau orang bebas. Dan saya direkomendasikan mewakili NTT untuk bertemu Bapa Presiden,” jelas Ekonom dari Unversitas Kristen Artha Wacana Kupang, Dr Frits Fanggidae, dalam jumpa pers di kantor Nasdem NTT, Rabu (1/9/2021).

Dia menjelaskan, ada 14 tokoh yang bertemu Presiden Jokowi di istana pada Senin (30/8) pukul 15.00 – 15.30 WIB. “Ada 14 tokoh yang diundang, yakni Ketua MUI, perwakilan NU, Mujamadyah, delegasi dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Persatuan Gereja Indonesia (PGI), juga
Hindu-Budha. Selain itu, 4 tokoh pendidikan, 1 budayawan, 1 tokoh pers dan 2 tokoh masyarakat; satu dari NTT dan satu dari Betawi,” jelas Fanggidae.

Dijelaskan, setelah pertemuan dengan Jokowi itu, ia mendapat tugas khusus dari Presiden Jokowi untuk menyampaikan hasilnya kepada Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), untuk segera dieksekusi.

“Dalam pertemuan itu, bapa Presiden menitip pesan kepada bapa Gubernur NTT terutama tentang percepatan vaksinasi di daerah. Dan pagi tadi (Rabu, 1 September, red), saya sudah laporkan ke bapa gubernur. Pak gubernur juga meminta saya agar menjelaskan hasil pertemuan itu secara apa adanya kepada masyarakat NTT,” tegas Frits Fanggidae.

Terkait akselerasi vaksinasi, menurut Dr Frits, Presiden Jokowi meminta agar pemerintah daerah, dalam hal ini Gubernur NTT, agar di bulan September dan Oktober, proses vaksknasi harus dipercepat. Sebab, pasokan vaksin akan masuk ke Indonesia di bulan September sebanyak 70 juta vaksin, dan Oktober sebanyak 80 juta vaksin.

“Selama ini pasokan vaksin terbatas sehingga progres vaksinasi menjadi lamban. Tapi kita akan lakukan percepatan di bulan September dan Oktober agar herd immunity yang diharapkan bisa tercapai agar kita bisa turun dari PKPM level 4,” kata dosen ekonomi Unkris Kupang ini.

Dia juga menjelaskan, Gubernur NTT Viktor Laiskodat juga menyatakan akan mengerahkan seluruh kekuatan pemerintah dan masyarakat untuk mempercepat vaksinasi tersebut. “Pak Gubernur akan menindak-lanjuti pesan bapa presiden dengan menyiapkan tenaga vaksinator dan tenaga IT, bisa memanfaatkan tenaga mahasiswa kedokteran atau sekolah kesehatan untuk proses percepaatan vaksinasi itu,” katanya.

Satu lagi pesan Presiden Jokowi kepada gubernur, lanjut Frits, agar tidak boleh ada vaksin yang tersimpan di gudang. “Tidak boleh ada vaksin yang tersimpan lama di gudang. Kalau sudah tiba harus segera proses. Stok habis akan dikirim lagi dari pusat,” tegasnya.

Dia menambahkan, dalam mempercepat vaksinasi ini, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tapi bersinergi dengan seluruh kekuatan dalam masyarakat, seperti TNI/Polri, lembaga keagamaan dan lembaga sosial lainnya. “Semua pihak harus bersinergi untuk akselerasi vaksinasi,” katanya. (jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments