Refleksi Golkar NTT di Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021

by -183 views

Epy Tahun dan Hugo Kalembu

Jejak karya Partai Golkar NTT tak pernah berhenti dengan urusan politik praktis. Dalam dua bulan terakhir Golkar NTT secara maraton membahas para kandidat pemimpin; baik di level legislatif maupun eksekutif. Golkar NTT pun telah menjaring para bakal calon legislatif dan calon kepala daerah menuju Pemilu 2024.

Di tengah keseriusan kerja politik itu, Golkar NTT juga mengambil jedah untuk melakukan refleksi atas perjalanan bangsa ini, terutama di momentum Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021. Momen bersejarah membedah nilai-nilai luhur Pancasila yang mulai tergerus zaman dengan berbagai dinamika dan tantangan.

“Setiap generasi punya tantangan dan tanggung jawab di eranya. Tapi, setiap generasi tetap dituntut untuk mengisi setiap pergumulan, perjuangan dan perjalanannya dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Setiap generasi dituntut menjawab tantangan menghidupkan Pancasila di setiap era,” begitu pesan dan refleksi Ketua Golkar NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena.

Selasa 1 Juni 2021, Partai Golkar secara khusus melakukan refleksi atas Hari Lahir Pancasila. Ada diskusi virtual lintas generasi antarparpol, juga renugan bersama sebelum menggelar rapat virtual bersama seluruh jajaran Golkar NTT.

Anggota DPRD NTT, Hugo Rehi Kalembu, mengatakan, Pancasila itu bukan slogan tapi praktek hidup. Artinya, sejak masuk DPRD tahun 1977, dia selalu menempatkan diri sebagai wakil rakyat yang bekerja membela kepentingan rakyat banyak fraksi. Karena itu, sebut dia, diutamakan semangat kekawanan dan kemitraan dengan pemerintah juga sesama anggota fraksi, bukannya sikap rivalitas dan saling menjatuhkan.

“Dewan juga bukan kerja perorangan tapi kolektif kolegial dengan pembagian tugas secara proporsional dalam kerja-kerja kedewanan. Aspirasi berbagai golongan berbeda bisa didengar dan menghargai pendapat orang lain,” kata Hugo, Ketua Fraksi Golkar DPRD NTT.

Selain itu, menurut dia, dalam kerja politik juga diperlukan sikap hati yang lapang seperti samudra yang luas. “Artinya pemimpin harus bisa mendengar dan menampung berbagai aspirasi dan gagasan untuk bisa menghasilkan rumusan keputusan terbaik dan terukur demi kepentingan banyak orang,” ujarnya.

Ketua Partai Golkar TTS, Epy Tahun, mengakui ada pergeseran nilai luhur Pancasila sebagai idiologi dan pandangan hidup bangsa dari masa ke masa. Dia mengalami sendiri bagaimana kuat-dahsyatnya Pancasila menjadi perekat hidup berbangsa dan bernegara. Tapi terus mengalami pergeseran dari masa ke masa.

“Di era tahun 70-an, sejak masih di Sekolah Dasar (SD), Pancasila menjadi pelajaran wajib. Lalu di tahun 80-an ketika masuk perguruan tinggi ada orientasi dan penataran P4; pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila. Jadi Pancasila masih jadi materi pendidikan di PT. Juga pada saat tes masuk PNS pun Pancasila tetap jadi materi pokok. Tapi di era 2010 ke atas, metode ini sudah bergeser. Pancasila yang adalah idiologi tunggal mulai bergeser,” kata Epy Tahun, yang juga Bupati TTS ini.

Ia menambahkan, dulu orang di pelosok desa saja masih tahu tentang 36 butir nilai yang terkandung dalam Pancasila dan dipedomani dalam hidup bersama. “Penghayatan dan pengamalan nilai luhur Pancasila makin luntur. Bahkan ada upaya mengubah idiologi bangsa ini. Karena itu, ini harus menjadi refleksi kita bersama di Partai Golkar sebagai pendukung Pancasila dengan menaikkan elektabilitas Golkar agar bisa menjadi mayoritas (pemenang) seperti dulu, sehingga tetap berdiri kokoh sebagai pilar terakhir mendukung tegaknya Pancasila,” tegas Tahun.

Sementara itu, Andreas Paru, Bupati Ngada, menyampaikan refleksinya dalam tiga sudut pandang; sebagai penegak hukum, sebagai pelaku usaha (bisnis), dan sebagai politisi (bupati). Sebagai aparat penegak hukum, ia mengaku tidak ada demokrasi ketika masih aktif sebagai polisi. Sebab filosofi mereka hanya ada perintah. “Beda dengan lain (dunia usaha dan politisi) yang memegang filosofi Pancasila sebagai tuntunan dengan berpedoman pada nilai-nilai Pancasila,” katanya.

Artinya, sebut dia, nilai-nilai Pancasila harus diamalkan, seperti kejujuran, kepedulian, kemandirian, disiplin tanggung jawab, kerja keras, keadilan dan berani mengambil keputusan dan risiko.

“Ini pengalaman hidup yang membuat saya berintegritas. Dan saya berharap kita semua di Golkar pun harus berintegritas dengan berpedoman pada nilai-nilai Pancasila,” kata Paru.

Meresahkan

Grace Natalia Famdale dalam testimoninya soal Pancasila dari perspektif milenial mengatakan, generasi milenial saat ini sedang resah dan takut. Alasannya, Pancasila sebagai idiologi dan pandangan hidup bangsa, sedang mengalami ujian ketika ada upaya segelintir orang untuk mengubah dasar negara yang dicetuskan Bung Karno itu.

“Ini sangat meresahkan kami dan merobek semangat sejati dengan nilai-nilai Pancasila dalam hidup bersama selama ini secara berdampingan tanpa ada konflik,” kata Grace.

Dia juga berharap agar generasinya tidak terjebak gerakan radikalisme yang berupaya mengubah dasar negara itu. “Kami berharap peran penting Partai Golkar untuk turut menjaga agar semua orang hidup nyaman dalam rumah besar Pancasila. Terima kasih kepada Partai Golkar NTT yang telah memberi ruang kepada kaum perempuan dan milenial untuk belajar memahami politik secara baik. Karena Golkar adalah partai nasionalis dan penjaga Pancasila,” tegas Grace.

Sementara Mira Pelu dalam refleksinya mewanti agar kaum dan generasinya tidak terjebak pada berita-berita hoax. Sebab, bagi dia, generasi milenial amat rentan terhadap hoax.

“Itu keresahan kami dan generasi milenial tidak terpengaruh oleh perkembangan teknologi dan informasi yang selalu berubah setiap saat. Jadilah milenial yang unggul, kreatif dan percaya diri serta berintegritas sesuai nilai-nilai Pancasila. Juga memiliki spirit patriotisme dan nasionalisme,” katanya.

Grace dan Mira amat bersyukur bisa bergabung di Golkar, yang peduli dan memberi ruang besar bagi perempuan dan milenial. Keduanya belajar membangun sikap percaya diri, optimisme dan memahami politik secara benar.

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini yang mengusung tema “Pancasila dalam Tindakan, Bersatu untuk Indonesia Tangguh” sangat relevan apabila dikaitkan dengan situasi dan kondisi hari ini. Harus jujur diakui bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila mulai tergerus.

Arus globalisasi yang sangat masif dan masuknya anasir budaya luar yang tidak cocok dengan budaya bangsa menjadi penyebabnya. Hal ini menjadi semakin kompleks ketika Indonesia menghadapi beragam ancaman yang dapat menggoyahkan persatuan dan kesatuan. Maka dari itu, refleksi terhadap hari kelahiran Pancasila menjadi hal yang penting untuk dilakukan.

“Yang menjadi pembelajaran penting adalah sikap para pendiri bangsa yang mengedepankan dialog dan mencari persamaan, ketimbang berdiri di atas perbedaan pandangan dan pendapat masing-masing. Juga, pembelajaran kejelian para pendiri bangsa untuk merumuskan nilai-nilai budaya bangsa yang saling terkait dan mendasari satu sama lain. Sehingga lahirlah sebuah dasar negara dan ideologi yang bersifat holistik, integral, dan komprehensif. Kita harus menjadi bagian dari menjaga tegaknya Pancasila,” kata Pemikir Pancasila yang juga Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Bidang Pemenangan Pemilu, Dr. Ahmad Doli Kurnia Tandjung.

Nilai-nilai Pancasila tidak cukup dipahami secara konseptual saja, tapi juga perlu dikontekstualisasikan dalam laku hidup sehari-hari sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing.

Mengakui bahwa kita berbeda-beda dan menerimanya sebagai kekayaan bangsa juga adalah wujud nyata mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari hari. Mari bersama menjaga Pancasila Rumah Kita Bersama. Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2021. (josh diaz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments