Sengketa Tanah Pagar Panjang dan Danau Ina Sudah Tuntas, Army: Kami Ada di Zona Nyaman

by -390 views

Army Koenay dan Marten Koenay bersama Fransesco Besie menggelar jumpa pers, Selasa (30/3).

KUPANG, mediantt.com – Obyek sengketa tanah milik keluarga Koenay sejatinya sudah tuntas dengan adanya putusan Mahkamah Agung No 64 tahun 1993. Artinya, masalah tanah di Pagar Panjang seluas 250 hektare (ha) dan Danau Ina seluas 100 ha sudah selesai dengan adanya putusan Mahkamah Agung No 64 tersebut.

“Masalah tanah di Pagar Panjang dan Danau Ina sudah selesai dengan adanya putusan MA No 64 tahun 1993,” tegas Kuasa Hukum Keluarga Konay, Fransisco Besie kepada wartawan, Selasa (30/3/2021).

Dia menjelaskan, dalam putusan MA No 65 tahun 1993 menyebutkan penggugat Viktoria Anin, Yohanis Samadara dan Philipus Kolloh tidak berhak atas objek sengketa tanah itu.

“Ini bukan bahasa saya, ahli waris atau keluarga Konay, tapi bahasa pengadilan yang sudah punya kekuatan hukum tetap. Jadi konyol kalau ada yang mempersoalkan karena sudah kalah perkara dan tidak berhak atas obyek sengketa itu,” tandas Besie.

Dengan dasar putusan ini, sebut dia, maka tanah yang disengketakan di Pagar Panjang dan Danau Ina sudah selesai. “Jadi saya anggap sudah tidak ada masalah lagi,” katanya.

Sementara itu, perwakilan keluarga Konay, Army Konay yang juga wakil Bupati TTS mengatakan, masalah tanah di Pagar Panjang dan Danau Ina sudah berlangsung lama, sejak tahu 1951.

Bahkan gugatan lahan antara Bertolomeus Konay dan Viktoria Anin sudah terjadi sejak 1951. Dimana dalam putusan Pengadilan Negeri/Swapraja Kupang No 5/1951 tanggal 25 Mei 1951 dan disahkan oleh Pengadilan Tinggi/banding Gubernur Sunda Kecil Bali, putusan No 19/1952 tanggal 28 Agustus 1952, dan putusan Mahkamah Agung No 63.k/PDT/1953 tanggal 31 Agustus 1955 dalam perkara perdata antara Bertolomeos Konay dan Viktoria Anin.

“Dalam putusannya disebutkan menolak putusan kasasi Bertolomeus Konay,” kata Army sambil menunjukan bukti gugatan asli yang dimenangkan Viktoria Anin.

Setelah dinyatakan menang, Alm Viktoria Anin menyerahkan tanah tersebut kepada Esau Konay melalui surat penyerahan tanah tersebut. Sehingga dia membantah bahwa surat penyerahan tanah itu palsu.

“Bagaimana dikatakan palsu, kalau surat putusan asli ada di tangan kami. Apakah kami mencuri. Sangat tidak mungkin. Sekarang kami ada di zona nyaman. Tidak ada masalah lagi,” tegas Army.

Fransisco juga menambahkan, dalam putusan MA No 65 tahun 1993, penggugat keluarga Samadara dan Kolloh juga telah memasukan dokumen yang dikatakan palsu itu sebagai bukti, dan telah diuji oleh MA, dan menyatakan mereka tak berhak atas tanah tersebut.

“Semua sudah tertera dalam putusan No 65 tahun 1993,” tegasnya.

Eksekusi 11 Rumah

Sementara itu, Marthen Konay mengakui sudah banyak pihak yang telah berada di atas tanah seluas 350 ha mendatanginya. Namun, pihaknya tetap akan melakukan eksekusi berdasarkan surat keputusan eksekusi kepada 11 rumah warga yang terletak di Kelurahan Oesapa Selatan.

“Ada 11 rumah yang akan tetap kami tetap eksekusi, rencananya pada 11 April 2021 ini,” tegasnya.

Sebelumnya kuasa hukum ahli waris Viktoria Anin mengklaim tanah di Pagar Panjang dan Danau Ina seluas kurang lebih 350 ha itu menjadi hak mereka, berdasarkan putusan Mahkamah Agung No 63.k/PDT/1953 tanggal 31 Agustus 1955 dalam perkara perdata antara Bertolomeos Konay dan Viktoria Anin, yang dimenangkan oleh Viktoria Anin. (jdz)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments