DERMAGA PELABUHAN LAUT LEWOLEBA, Sebuah Peringatan!

by -759 views

Oleh : Yoseph Bruno Dasion SVD, Misionaris di Jepang.

Haram Kata “Abadi”

SEMPAT melirik tayangan beberapa lembar foto, bidikan moncong kamera yang merekam beberapa bagian badan dermaga pelabuhan laut di Lewoleba, pada sebuah pemberitaan yang dilansir oleh VIVAT TIMUR.COM beberapa hari lalu.

Pada bagian berita terbaca komentar dari pihak terkait tentang kondisi buruk yang tak sedap dipandang pada tubuh bangunan dermaga ini. Katanya, dengan kondisi buruk dan hampir ambruk ini, dermaga tersebut tak mungkin lagi berfungsi sebagai tempat bersandar semua jenis sarana transportasi laut, baik dalam ukuran besar maupun kecil.

Bagi saya, semua bangunan fisik, entah itu bangunan rumah, gedung, dan ataupun dermaga, adalah benda-benda materiil yang punya batas usia kegunaan (consumable), yang cepat atau lambat akan mengalami depresiasi, entah dalam nilai kegunaan atau pun nilai fisik (daya tahan)nya. Oleh karena, foto yang menarik tentang keadaan fisik mengenaskan dermaga, yang seharunya menjadi gerbang masuk yang asri bagi kabupaten Lembata, harus kita pahami secara baik dari aspek nilai fisiknya yang consumable itu. Bahwa, jembatan yang dibangun sekitar tahun 1980-an itu, oleh lamanya waktu, bisa menjadi seperti yang kita saksikan sekarang. Barangkali terlalu sadis mengatakan bahwa, semua yang dibangun oleh manusia haram kata “abadi.” Jadi, kita tak perlu heran, gigit jari, dan mulai marah sana-sini.

Membangun dan Merawat

Kita mesti belajar secara arif dengan menyaksikan sendiri keadaan fisik menyedihkan bangunan dermaga Lewoleba. Tidak perlu tampil sebagai sang adil untuk mempersalahkan siapapun. Pemberitaan itu harus kita baca sebagai penyadaran bagi diri kita sendiri untuk belajar, bahwa kalau kita membangun sebuah bangunan, entah itu rumah tinggal, hotel, gedung perkantoran atau dermaga, dan lainnya, tidak cukup hanya dengan membangun, tetapi juga harus direncanakan perawatannya secara berkelanjutan.

Hal ini tentu saja membutuhkan biaya, yang harus ditabung juga secara periodik, teratur dan terkontrol baik. Katakan saja untuk merawat rumah diam pribadi, tentu saja setiap keluarga punya kesadaran untuk menabung. Untuk bangunan pemerintah, tentu saja ada perencanaan anggarannya. Dalam hal dermaga pelabuhan Lewoleba, perlu kecerdikan mengelolah pajak sandar kapal-motor, dan uang hasil pungutan biaya keluar-masuk pelabuhan, yang tentunya sudah diberlakukan sekian lama.

Di banyak tempat kita bisa menyaksikan banyak bangunan yang berdiri tegak dan kokoh, tidak hanya bertahun, tetapi berada-abad lamanya. Pasalnya, selalu saja ada program perawatan yang terpadu. Menurut para ahli, cara untuk memelihara sebuah bangunan agar bisa bertahan lama, adalah dengan menjaga agar tidak mudah digerus aliran air (hujan, sungai atau laut).

Bangunan-bangunan batu se-akbar Basilika Santo Petrus di Vatikan, Kuil Partenon di Atena, atau Piramida di Mesir pun, tak akan bertahan sekian abad, kalau saja ada celah kecil pada fisik bangunan yang membiarkan air hujan atau sungai meresap masuk tanpa terpantau.

Jepang juga terkenal dengan banyak bangunan kuil-kuil Buddha dan Shintonya, yang tak lekang oleh panas, hujan dan dingin, dan bertahan lama dalam skala abad.

Semuanya bisa terpelihara karena manusianya berpola pikir baik, cinta teknologi arsitektur (tradisional dan moderen). Dan, di atas segalanya, mereka melihat segala bentuk bangunan fisik, sebagai bagian dari keindahan tatah kotanya.

Seorang arsitek bangunan menasihatkan: “membangun sebuah bangunan itu tidak cukup hanya dengan kombinasi semen, pasir, besi dan air. Seorang sungguh arsitek (ahli bangunan) kalau ia menyertakan rasa cinta untuk merawat hasil-hasil karya yang dirancang dan dibangunnya. Arsitek yang hanya membangun tanpa kehendak merawat, adalah seorang koruptor.”

Dengan gambaran di atas, kita pun bisa belajar untuk tidak hanya membangun atau membuat sesuatu secara amburadul dan tak terarah, tetapi terencana dan terpadu, termasuk menaikkan kesadaran dan kesukaan merawat apa yang sudah dibangun agar bisa berguna untuk melayani masyarakat luas untuk sebuah masa yang lama.

Membangun sebuah dermaga pelabuhan laut yang super kuat, permamen dan bertahan untuk sebuah jangka waktu yang lama pun adalah jalan terbaik untuk menekan biaya pembangunan kabupaten secara keseluruhan. Bayangkan saja kalau kita membangun sarana jalan, gedung, dermaga dan lainnya, yang tidak bertahan lama, dan setiap tahun harus kita keluarkan biaya untuk membangun hal yang sama-sama saja. Itu, kan, namanya jalan-jalan di tempat.

Salam ke Nuba-Nara!

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments