Banyak Warga yang Belum Tahu Ada Larangan Pelayaran ke NTT

by -64 views

KUPANG – Sekretaris Bidang Pengendalian Pintu Masuk Keluar Gugus Tugas Percepatanan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Provinsi NTT yang juga Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka, ST, MM menegaskan, kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT di bidang perhubungan tidak berubah. Namun banyak warga NTT diaspora yang belum tahu ada larangan pelayaran ke NTT.

“Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya; kalau di bandara belum kita tutup tetapi yang terjadi adalah mengurangi frekuensi penerbangan. Itu juga karena air lines sendiri yang mengambil kebijakan demikian,” tegas Isyak Nuka kepada pers di Kupang, Senin (20/4/2020).

Dia menjelaskan, di dalam wilayah NTT umumnya masih dilayani oleh Wings Air dan Nam Air. “Kalau yang keluar masih ada Garuda, Lion air, Batik air dan Citylink. Namun itu pun sudah banyak yang berkurang frekuensi penerbangannya. Ke depan kita akan minta kepada pengelola bandara dalam hal ini Angkasa Pura 1 untuk mengurangi jam operasionalnya; kalau yang biasa dari pagi sampai malam, maka berkaitan dengan pencegahan Covid-19 ini kita minta supaya jam operasional dikurangi sampai pukul 18.00 wita atau jam 6 sore saja,” jelas mantan Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi NTT ini.

Menyingung video yang viral di medsos soal warga yang masih tertahan di Sape, Kabupaten Bima, Provinsi NTB, Isyak Nuka menjelaskan, semua itu karena ketidaktahuan saja. “Mungkin 1-2 hari yang menjadi viral di media khususnya di pintu masuk sampai Labuan Bajo dan Lembor – Waingapu masih ada; semua itu lebih banyak dikarenakan ketidaktahuan dari saudara kita terutama anak-anak mahasiswa,” ucap Nuka.

Sejumlah warga yang berada di luar NTT, sambung dia, tidak mendapatkan informasi adanya pelarangan pelayaran. “Nah, terhadap mereka ini kita masih berikan toleransi. Semata-mata alasannya kemanusiaan. Sekali lagi saya tekankan karena ketidaktahuan mereka terhadap informasi adanya penutupan,” tandas dia, dan menambahkan, “Dari waktu ke waktu kita sosialisasikan terutama kepada rekan kerja kita perhubungan baik Kadis Perhubungan di NTB, di Bali, dan di Jawa Timur”.

Menurut dia, kebijakan yang diambil Pemprov NTT sesungguhnya hanya untuk mencegah penyebaran Covid-19 di NTT. “Kita di NTT mengambil kebijakan ini dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 secara lebih meluas dengan melarang penumpang untuk tidak melakukan perjalanan atau bepergian. Ini sudah sejalan dengan imbauan dan larangan pemerintah untuk melakukan social distancing,” tegas dia.

Dia berharap, kebijakan yang diambil Pemprov NTT ini dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat NTT. “Sekali lagi semata mata untuk itu. Untuk diketahui oleh rekan-rekan media, virus ini belum ada obatnya. Karena itu, langkah antisipatif kita satu-satunya adalah memutus mata rantai. Memutus mata rantai menurut pemahaman kami adalah meniadakan sama sekali transportasi. Ini karena selama masih ada pergerakan manusia dalam jumlah banyak seperti itu maka angkanya akan terus meningkat. Beri kita ruang. Penutupan atau pelarangan semata-mata untuk memberi ruang kepada kita; yang karena keterbatasan sarana prasarana, tenaga, terutama tenaga kesehatan, para relawan kita agar juga mempersiapkan tempat-tempat karantina terpusat, mempersiakan peralatan mereka, mempersiapkan mereka melatih tenaga-tenaga kesehatan kita. Untuk itu, kita mohon pengertian dari sanak saudara kita. Kita berdoa supaya bencana ini segera selesai sehingga tidak perlu kita tutup sampai tanggal 30 Mei 2020,” jelasnya.

Ikut hadir juru bicara gugus tugas percepatanan penanganan Covid-19 Provinsi NTT yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si. (valeri guru/jdz)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments