7.888 Ha Lahan Pertanian Diserang Ulat Grayak, Terbanyak di Flotim

by -37 views

Kupang, mediantt.com – Sebanyak 7.888 hektar lahan pertanian milik petani jagung di NTT terserang hama ulat grayak atau disebut fall army worm (FAW), dengan jumlah terbanyak di Kabupaten Flores Timur, seluas 4 ribu hektar.

“Sampai dengan pekan lalu ulat ini sudah menyerang di 18 kabupaten yakni seluruh daratan Sumba, Timor, Alor dan Flores. Total lahan yang terserang itu 7.888 hektare, dan yang paling banyak di Flores Timur sebanyak 4 ribu ha,” kata Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Miqdonth Abola, kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (10/2).

Ia mengatakan, kabupaten yang belum terserang ulat grayak ini adalah Rote Ndao dan Sabu Raijua. Sebab, hingga aaat ini belum ada laporan dari kedua kabupaten itu.

Menurut dia, kalau curah hujan cenderung stabil maka tidak akan terserang ulat ini. Tapi kalau hujan kurang maka tingkat menetas ulat iblni tinggi dan sulit dikendalikan. “Artinya kalau hujan stabil maka bisa dikendalikan secara alamiah karena tidak berkembang,” katanya, dan menambahkan ulat ini menyerang di pucuk jagung sehingga tidak bisa tumbuh.

Ia juga menjelaskan, ulat grayak ini merupakan hama baru asal Amerika Serikat. Kasus ulat ini di Indonesia, pertama kali terdeteksi di Sumatera Barat pada tahun 2019 dan menyebar di Banten dan terus meluas di seluruh wilayah Indonesia, termasuk NTT.

Ia menyatakan, fase yang paling merusak dari hama jagung ini yaitu fase larva atau ulat. Hama ulat grayak merusak tanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. Bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung. Apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan, rata-rata populasi 0,2 sampai 0,8 larva per tanaman.

“Masa bertahan larva sangat lama yang mencapai tiga minggu sehingga tingkat kerusakan tanaman sangat tinggi. Semua tenaga operator sudah turun ke lapangan dan siap membantu obat- obatan kepada petani,” terang Abola, yang didampingi Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan, Gabrial Gara Beni.

Ia mengakui, pemberantasan hama ulat grayak dengan cara disemprot sedikit mengalami kendala. Sebab, ulat tersebut berlindung di balik daun. “Kita minta partisipasi petani pemilik lahan agar pada pagi hari mematikan ulat secara manual,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, mengatasi hama ulat ini pihaknya telah membentuk Brigade Proteksi, yakni di Lewa untuk wilayah Sumba, di Flores ada di Magepanda Sikka, Lembor Manggarai Barat dan Mbay Nagekeo. Sedangkan untuk wilayah Timor ada di Kupang.

Ia menambahkan, pembasmian ulat ini akan diprioritaskan di Flores Timur yang paling luas lahannya akibat serangan ulat ini. “Bahan kimia sudah habis tapi kita sudah minta ke pusat. Kita akan kerahkan anak sekolah juga babinsa untuk terlibat dalam gerakan masal membasmi ulat ini,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman gagal panen cukup tinggi tahun ini karena produksi pasti turun, apalagi hujan sangat tidak merata. “Kita akan bahas semua ini dalam Rakor dengan seluruh kabupaten/ko/a pada 12 Februari ini, membahas berapa kira-kira penurunan produksi tahun ini,” jelas Abola. (jdz)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments