TATKALA mengunjungi Bumi Cendrawasih – Papua, awal Februari 2020; Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengajak dan mendorong ras Melanesia untuk menjalin dan meningkatkan perekonomian daerah.

“Ini kesempatan emas, karena saya bisa menghadiri acara syukuran dan doa bersama dengan keluarga besar Flores, Sumba, Timor dan Alor (Flobamora) di tanah Papua. Ini merupakan langkah awal bagi NTT untuk menjalin kerjasama yang baik dengan Papua. Saya akan terus dorong ras Melanesia bangun kerjsama daerah, apakah itu kesepakatan sosial budaya maupun ekonomi. Kerjasama ini akan menjadi kekuatan kelompok bangsa Melanesia di Indonesia agar bahu-membahu mewujudkan mimpi kita bahwa NTT, Papua, dan Maluku bukanlah daerah terpencil dan termiskin. Kita mempunyai kekayaan luar biasa,” tandas Gubernur VBL, di GOR Waringin, Kotaraja, Kota Jayapura, Sabtu (1/2/2020).

Apa itu Melanesia?

Melanesia merupakan salah satu domain penting dari dua kawasan berbeda yakni Mikronesia dan Polinesia di Lautan Pacific. Melanesia termasuk Solomon Islands, Vanuatu, New Caledonia, Tuvalu, Bismarck Archipelago, Admiralty Islands, Fiji, Papua, NTT dan NTB. Dari segi ras, Melanesian lebih luas dari ras Australoid, dan Melanesia berbicara bahasa-bahasa Malayo-Polynesia (H. C. Brookfield and D. Hart, 1971). Sementara itu ras Melanesia juga dapat ditemukan pada kawasan New Caledonia.

Orang pertama menemukan domain Melanesia adalah Jules Dumont d’Urville pada tahun 1832 ketika ia membuat catatan ethnografis mengenai suku-suku dalam kaitan dengan proses pengelompokan pulau-pulau yang dapat dibedakan dari Polynesia dan Micronesia. Konsep awal orang Eropa mengenai Melanesia muncul perlahan-lahan dari pemetaan Kawasan Pacific secara keseluruhan. Yang membuat para peneliti awal tertarik pada ras Melanesia adalah perbedaan fisik dari kelompok-kelompok di kepulauan Pacific.

Teori Charles de Brosses pada tahun 1756 mengatakan bahwa ‘ras hitam tertua’ di kawasan Pacific ditalukkan oleh orang-orang yang kini disebut Polynesia, yang berbeda ras dari Melanesia, dimana mereka berkulit putih. Sekitar tahun 1825 Jean Baptiste Bory de Saint-Vincent mengembangkan usaha lebih lanjut untuk mendalami temuan di atas dengan berpedoman pada ke 15 model ras umum dari bangsa manusia di dunia. Temuannya hampir sama bahwa penduduk Melanesia (atau disebut juga Melanian) dapat dibedakan dari kelompok suku-suku Australia dan Neptunian (atau kini disebut sebagai Polynesia).

Ada 4 Klasifikasi Penduduk

Lama sebelum tahun 1832, ada sekian banyak penemu yang mengidentifikasi dan mengklasifikasi penduduk-penduduk Oceania ke dalam empat kelompok ras besar yakni: Malaysia, Polynesia, Micronesia, dan Melanesia. Ada sementara pakar ketika itu yang memasukan ras Australia ke dalam ras besar Melanesia dengan mengambil contoh Orang Aborigin Australia.

Para peneliti hampir menyepakati bahwa titik tolak pembagian Melanesia bukan secara geografis, melainkan hanya pembedaan fisik atau kepentingan budaya tertentu, atau hanya sebatas pada ‘kharakter fisik’ yang kemudian dikenal dengan nama ‘ras’. Melanesia kemudian dikenal sebagai ‘rumah ras Oceania’.

Umumnya semua penduduk yang mendiami kawasan Oceania berkulit hitam (sawo-matang dan agak gelap) dengan rambut keriting dan berombak, hidung pesek, aktif berburu, rambut halus, mulut lebar, dan agak berbeda dengan penduduk Polynesia. Para peneliti Eropa menidentifikasi Melanesia tidak dalam perspektif budaya dan bukan ras atau kelompok geografis.

Ada Perbedaan Pendapat

Semenjak abad ke 19 ada perbedaan pendapat yang sangat signifikan mengenai peta Melanesia, dimana sementara pakar mengatakan bahwa PNG dan Papua Indonesia tidak termasuk kelompok Melanesia. Lalu pada abad ke-20 temuan abad sebelumnya dilawan dan bahkan memasukkan Kawasan Indonesia Timur (KIT), antara lain Kepulauan Nusa Tenggara minus Bali. Jika diteliti lebih lanjut, maka Indonesia secara keseluruhan termasuk dalam kelompok Melanesia. Walau tidak mudah untuk mengidentifikasi Melanesia, baik secara geografis, budaya, biologis dan dasar-dasar pembagian lainnya. Perlu studi yang cermat dan dalam waktu yang lama! Banyak negara Melanesia adalah bekas jajahan Perancis, terkecuali Papua dan Eastern Indonesia yang dijajah oleh Belanda.

Dalam catatan sejarah, penduduk Australia dan PNG sebagai bagian integral dari Melanesia sudah muncul semenjak kurun waktu 50.000 s/d 30.000-an tahun yang lalu. Kata sebuah sumber, penduduk Asli Australia dan PNG semirip leluhur Papua dan Timor pada saat sekarang. Penyebaran penduduk ketika itu menyusuri kawasan Asia Tenggara, dimana suku-suku asli mendiami pulau-pulau bagian timur antara lain Solomon Islands, termasuk juga Makira dan kemungkinan juga pulau-pulau kecil pada bagian timur.

Dalam paparan historiografi, para pakar sejarah menuturkan bahwa sekitar 3000 tahun yang lalu penduduk Australia bermigrasi ke utara PNG dan bagian tenggara kawasan yang sama. Pada abad ke 20, para pakar – terlebih dari The Australian National University Canberra – memusatkan perhatian pada Bahasa Austronesia. Hasil studi sementara adalah terdapat diversifikasi dalam bahasa, budaya di antara kelompok manusia, namun dengan tekanan pada keutuhan antara Melanesia, Polinesia dan Micronesia.

Hasil studi genetik pada abad ke-21 sangat menggemparkan dimana ditemukan (2008) kaitan erat antara Orang Taiwan Aborigin dengan leluhur Melanesia, Polinesia dan Mikronesia. Ada temuan migrasi para penduduk generasi awal ketika para pelayar (pencari ikan) mulai dari Polynesia, ke Asia timur dan bergerak menuju Melanesia hingga kawasan sekitar.

Tentang bahasa, ada temuan terkini bahwa bahasa-bahasa Melanesia merupakan anggota rumpun Bahasa Austronesia. Atau rumpun besar keluarga Papua. Hingga kini teridentifikasi lebih dari 1.319 bahasa di domain Melanesia. Dalam ruang lingkup bahasa Austronesia, Melanesia dikenal sebagai sebuah jejaring ras yang meliputi kawasan Pacific, Kepulauan Bismarck, sekali lagi Kepualau Solomon, lalu Kepulauan Santa Cruz, Vanuatu, rangkaian pulau New Hebrides, sampai New Caledonia. Bahkan termasuk juga Pulau-pulau sekitar Loyalty, Fiji, yang terdiri dari Viti Levu dan Vanua Levu, serta pulau-pulau kecil Lau.

Sesuai hasil penelitian terbaru, maka Melanesia meliputi, PNG, Papua, Maluku, Pulau Norfork di Australia, Raja Ampat, Rotuma (Viji), Pulau Schouten, Pulau-pulau Torres Strait, Kepulauan Trobriand, Kepulauan Woodlark di PNG. Dalam perspektif ethnologi, maka ras Melanesia menyebar sampai kawasan barat Moluccas, termasuk juga Flores, Sumba, Timor, Halmahera, Alor, Adonara, Lembata, Rote, Sabu dan Pantar. Walau dalam pembicaraan sehari-hari ucapan Melanesia tidak terujar!

Dalam rumpun Bahasa Austronesia (yang lazim disebut sebagai Melayu-Polinesia, atau Melayu Indonesia), rumpun itu terdiri dari dua macam yang masih didiskusikan sampai saat ini:

Pertama, Western Austronesia terdiri dari 200-an bahasa lebih: NTT, NTB, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Raja Ampat, Kepala Burung, Taiwan, Formosa, Philipina dan Madagskar.

Kedua, Eastern Austronesia (disebut juga Oceania, terdiri dari 300-an bahasa) antara lain Melanesia (Papua, Kepulauan Salomon, Viji, Tongga, Vanuwatu, New Caledonia), Polinesia (Selandia Baru, Tahiti, dan Hawai), Micronesia (Kawasan Pacific lainnya).

Diperlukan Penelitian

Terhadap berbeda pendapat ini perlu penelitian pada empat hal berikut. Pertama, studi beraneka bahasa: linguistik dan ethno-linguistik. Kedua, kajian tradisi masyarakat lokal: oral tradition, folklore, lifestyle. Ketiga, perlu kajian mengenai kehidupan sosial masyarakat (kekerabatan, anthropologi politik ethno-politik).
Keempat, harus ada review kehidupan agama dan seni (ethnografi dan anthropologi religi).

Sebetulnya lebih kecil dari Melanesia, maka harus ada strategi studi historiografi mengenai kawasan Pacific, yang merupakan bentangan satu periodisasi dalam perspektif ilmu antropologi mengenai munculnya Oceania. Dalam awal refleksi sejarah munculnya Melanesia diungkapkan, ‘nama Oceania’ lebih luas dibanding istilah Lautan Pacific, yang secara konvensional merangkum lima bagian konstruksi kawasan, (1) Benua Australia, (2) Melanesia: Papua New Guinea dan Fiji, (3) Mikronesia: Mariana, Caroline, Marshall dan Kepulauan Gilbert, (4) Polynesia: Hawai, Tahiti, Samoa, Kepulauan Paskah, dan Selandia Baru, serta (5) Indonesia Timur: NTT, Maluku, Papua-Indonesia dan Timor Leste (Encyclopaedia Britannica, Vol 13. 1980: 442). ‎

Kajian para pakar ilmu sosial di negara-negara Pacific semenjak Antropolog Roger M. Keesing (ANU Canberra), Alan Howard (Honolulu), Ton Otto (Nijmegen) dkk melabuh sebuah pukat kajian kritis untuk merevisi berbagai temuan Pasific abad-abad silam. Sejarah Oceania ini dimulai beribu-ribu tahun yang lalu sebelum pengelompokan yang dilakukan Orang Perancis, bahkan jauh sebelum penemuan pulau ini pada abad ke-enam belas oleh Bangsa Eropa.

Pada tempat pertama diperlihatkan dinamika pemahaman sejarah yang terbanyak merujuk pada temuan abad ke 19 oleh para pelaut Inggris, Belanda dan Perancis. Secara resmi pokok pembicaraan mengenai Melanesia sebagai istilah, baru muncul pada abad ke-19 yakni tahun 1832 bertepatan dengan telaahan nama yang diberi oleh pakar Perancis tadi tentang Melanesia, yang menurutnya berasal dari dua kata bahasa Yunani Melas (hitam) dan Nesos (pulau). Sebagai kawasan, Melanesia sudah ada semenjak ribuan tahun silam sebelum pakar Perancis memberi nama seperti tercantum di atas. Sudah sejak periode jaman es akhir (sekitar 20.000-14.000 tahun yang lalu) terungkap sebuah kisah panjang dan berbelit mengenai leluhur Austro-Melanesia sebagai penduduk bumi belahan utara termasuk Asia Tenggara dan kawasan Pacific.

Mochtar Lubis menggunakan istilah Paleo-Melanesoid dalam kaitannya dengan ras Mongoloid.  Keragaman Oceania tidak hanya menutupi persamaan dasar melainkan juga meninggalkan berbagai pertanyaan historis. Manfaat dari pembagian Oceania ke Melanesia, Mikronesia dan Polinesia telah mendorong pencarian asal-usul yang berbeda dari orang-orang yang berada dalam wilayah tersebut. Mereka telah terbagi menjadi beberapa ras, antara lain, Negrito, Mongoloid dan Kaukasoid. Mereka terbawa oleh arus migrasi yang berbeda di luar wilayah Asia Tenggara; dan orang-orang Polinesia, aslinya merupakan orang Amerika Selatan yang ditolak dengan bukti yang berkaitan dengan bahasa dan juga tumbuh-tumbuhan.

Teori awal menyangkut arus migrasi dari Malaysia ini sangat diragukan secara arkeologis. Teori ini mengatakan bahwa tiga bagian tersebut terdapat di Oceania dan bahwa tidak ada bukti mengenai asal-usul yang berbeda di luar kawasan Oceania. Nugini telah dihuni sejak 20.000 tahun yang lalu oleh orang-orang Asia Tenggara. Akan tetapi, penduduk yang menghuni di sekitar Oceania berusia tidak lebih dari 2 milenium sebelum masehi dan hunian ini diperluas hingga era Masehi. Bukti dari segi bahasa sangat mendukung hal ini.

Penduduk di Oceania berbicara menggunakan bahasa Austronesia, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina dan suku pribumi di Taiwan dan Madagaskar sedangkan bahasa non-Austronesia hanya dituturkan oleh beberapa orang pedalaman di beberapa pulau di Nugini dan tempat-tempat terdekat (Bellwood dkk. 1995, Fox 1997).

Secara azasi, Indonesia hendaknya mencari rumah tradisional budaya dengan menjalin relasi pada negara-negara Pacific, tidak saja Melanesia, melainkan juga Micronesia, Polynesis dan bahkan seluruh jajaran pulau di bentangan Pacific. Dalam rangka membangun sebuah prospectus ke depan, maka sangat penting dilakukan berbagai refleksi budaya, aneka penelitian dengan me-review temuan para pakar budaya sebelumnya. Suara kuat dapat direkam dan diperhatikan dari warga Melanesia di Pasific, yakni kerinduan kultural untuk saling mengenal. Sikap saling mengenal di sini tidak harus ditunjuk dengan kajian mengenai ‘seasal-usul’, melainkan sekawasan, senasib dan seperjuangan dalam perspektif ‘pragmatisme’ hidup bermasyarakat.

Ada beberapa ucapan menarik dari rekan-rekan yang datang dari Pasific ke daratan Timor, ucapan spontan sangat menggugah: …..we feel like our home, …… this is our people…. We never think that we are the same…..this looks like our village…….we are just like in our home now….we are the same ancestors,…..this is our nature dan ungkapan-ungkapan familiar yang justru mengatakan bahwa kawasan ini dihuni oleh warga masyarakat yang tidak jauh berbeda dengan citra (budaya) mereka yang ada di Pasific.

Perbaiki Citra Internal

Langkah strategis yang perlu diperhatikan adalah memperbaiki citra internal kondisi kehidupan masyarakat antar daerah, antar pulau dan antar suku. Hal ini penting untuk membangun sebuah home principle yang kuat agar tercipta peluang untuk membangun pilgrim principle yang prospektif. Masyarakat hendaknya dihantar untuk berakar pada dan dalam kebudayaannya sendiri agar mampu menghargai budaya dan tradisi orang lain. Justru dalam dan dengan cara yang sama inilah terjalin peluang yang kreatif untuk saling terbuka dan belajar dari budaya lain. Sehingga tercipta kerangka dan konsep pembangunan yang utuh demi meraih kesejahteraan masyarakat yang selama ini diperjuangkan bersama. (Advetorial/Kerja sama Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT dengan mediantt.com)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of