KUPANG – Untuk pertama kalinya BPW KKSS NTT menyelenggarakan suatu kegiatan yang sebagian besar diminati oleh bapak-bapak-yang boleh jadi ibu-ibu ‘terpaksa’ harus memahaminya yakni pertandingan DOMINO atau dalam bahasa Bugis “MA’DOMENG.”

Turmanen ini ditangani oleh H. Nursyam Mading dan H. Rudi Marsal, masing-masing sebagai Ketua dan Sekertaris Panitia.

Ketika membula turnamen ini Sabtu (28/12), Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), Haji Darwis, menjelaskan mengapa harus Ma’domeng, bukan misalnya Bulu Tangkis, atau Lomba Lari Maraton, atau yang lainnya? Jawabannya sederhana, “Semua layak dicatat untuk mendapat tempat.”

Menurut dia, selama hampir empat bulan terakhir ini, organisasi kita disibukkan oleh berbagai kegiatan yang lumayan besar skalanya. Di permulaan September hingga akhir Oktober 2019, kita mendata dan menata BPD se-NTT untuk menyiapkan “kontingennya” untuk persiapan mengikuti MUBES KKSS XI di Solo.

“Alhamdullih 32 orang utusan dan peserta dan BPW KKSS NTT dan BPD KKSS se-NTT mengikuti mubes dari tanggal 15 sampai 17 November 2019. Tiga hari kemudian, di bawah koordinasi H. Ardi, kita menyelenggarakan pertandingan futsal “Padaidi KKSS Cup” tingkat provinsi, dan alhamdulilah berjalan lancar dan sukses. Di waktu yang hampir bersamaan, kami mengutus bapak H. Nursalam, Basri K., H. Firman, dan Abdul Syukur berangkat ke Alor. Alhamdulilah, mereka berhasil mengukuhkan BPD KKSS di Kabupaten Alor masa bakti 2019-2024 pada tanggal 24 November 2019,” papar dia.

Juga, sederet kegiatan-kegiatan lainnya, yang tak sempat disebutkan satu per satu. Kini, sekali lagi, PA’DOMENG diberi tempat, sebagai catatan akhir tahun 2019. Bahwa seluruh kegiatan yang dicanangkan menjelang penutup tahun ini, muaranya mengacu pada lahirnya KKSS sebagai organisasi sosial dan kemasyarakatan.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa 27 November 1976, KKSS didirikan di Jakarta, sekaligus menandai hari kelahirannya. “Untuk itulah, pertandingan domino malam ini dilaksanakan sebagai HUT KKSS ke-43,” ujarnya.

Sebagai Ketua BPW KKSS NTT, ia bangga dan terharu. Sebab tak terbayangkan, kerja dan persiapan panitia yang relatif singkat, mampu menggerakkan ratusan orang untuk mengikuti ‘olahraga’ pengasah otak ini. Memang panitia, simpatisan, berserta donatur telah menyiapkan beragam hadiah dan door prize untuk ganjaran kepada para pemenang dan para undangan lainnya yang beruntung. Tapi itu semua hanyalah sebuah “jembatan” menuju tujuan yang luhur “ Jalin Persaudaraan Lewat Domino.”

Tema ini diangkat sebagai pemutus jarak diantara kita dan orang-orang di sekitar. Itu pula sebabnya, sehingga pertandingan ini terbuka untuk umum.

“Saya dan keluarga yang sekaligus sebagai tuan rumah, merasa bangga dan senang mendapat kepercayaan untuk menyampaikan hamparan halaman ini untuk menjadi saksi dan tempat pertandingan. Bertandinglah secara bangga dan senang pula, agar
menjadi kloplah suasana malam yang berbahagia ini. Apabila ada yang tak jelas, tanyakanlah kepada seksi pertandingan dan atau panitia lainnya yang siaga. Bila pikiran anda agak terganggu, maka peganglah sejenak kepala anda, siapa tahu kartunya terlalu banyak lempa’na”. (st)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of