Rabu 11 Desember 2010 pekan lalu Wakil Ketua Komisi IX DPR IX, Emanuel Melkiades Laka Lena, menggelar Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KAE) Obat dan Makanan. Kegiatan yang menggandeng BPOM Kupang ini digelar di Ball Room Grand Mutiara, Kupang.

“Saya ajak kita semua baik di pemerintahan dan masyarakat menjadi agen pengawas bagi makanan yang akan dikonsumsi sehari-hari. Kita bisa menjadi agen pengawas bagi BPOM agar tidak terjadi keracunan makanan yang akan membunuh generasi muda NTT,” kata Melki.

Laka Lena juga meminta mayarakat NTT agar menjadi mitra dari BPOM. Selain menjadi mitra, juga harus menjadi agen dan pengawas BPOM.

Ketua DPD I Partai Golkar NTT ini juga menjelaskan, seluruh komponen masyarakat harus memastikan generasi muda sebagai pilar bangsa yang sehat secara jasmani. Karena, lanjutnya, keracunan makanan akan membuat gangguan kesehatan jangka pendek dan panjang berupa penyakit dan kematian mendadak.

Melki yang juga mengatakan, ada dua penyebab keracunan makanan saat pesta, yaitu dari pengelola makanan dan tamu sebagai penyantap.

“Makanan siap saji memang selalu rentan terhadap kandungan berbahaya, selain di tempat pesta, jajanan makanan di sekitar sekolah pun sangat rentan. Bisa karena kedaluarsa, dan tercampur dengan bahan berbahaya lainnya seperti formalin, boraks dan pewarna tekstil,” katanya.

Menurut Melki, penyebab lain adalah cara pengolahan makanan yang salah dan tidak hyegenis, termasuk cara penyimpanan yang dibiarkan di ruangan terbuka sehingga terkontaminasi dengan berbagai bakteri dan bahan berbahaya.

“Agar tidak terjadi keracunan, maka pilihlah bahan makanan yang berkualitas baik. Adapun lima kunci keamanan pangan yang baik, yakni pilih bahan makanan yang layak dikonsumsi, pisahkan makanan mentah dan masak, jagalah suhu makanan dalam penyimpanan, jagalah kondisi tangan saat hendak makanan dan cucilah bahan makanan dengan air bersih dan bahan pencuci yang aman,” ujarnya.

Melki juga mengatakan, kegiatan itu dilaksanakan berangkat dari beberapa kasus keracunan makanan yang terjadi di NTT baik yang dikonsumsi sendiri di rumah dan di pesta. Karena, kurangnya pemahaman dan pengetahuan akibat kandungan berbahaya dan cara penanganannya.

“Kegiatan ini sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat NTT sehingga waspada, dan mahir serta dapat mengetahui keamanan pangan guna meminimalisir terjadinya keracunan makanan di NTT, ” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Subdit Inspeksi Pangan Steril Komersil BPOM Pusat, Chairun Nisa dalam pemaparan materinya mengatakan, pengawasan terhadap makanan adalah dengan metode KLIK (Kemasan, Label, Izin, dan Kedaluarsa).

“Untuk memastikan amannya makanan adalah dengan melihat kemasan, label, Izin Edar dari BPOM dan tanggal daluarsa. Selain itu juga konsumen harus memperhatikan penyimpanan yang aman misalnya suhu, tidak bercampur bahan berbahaya lain,” kata Nisa.

Kepala BPOM Kupang, Drs. Sem Lapik mengatakan, upaya pengawasan bukan saja dilakukan oleh pemerintah saja melainkan juga masyarakat. Saat ini, lanjutnya, BPOM telah menyediakan aplikasi http://cekbpom.pom.go.id/ CekBPOM.pom.go.id” untuk mengecek seperti apa bahan makanan minuman yang akan di konsumsi.

“Aplikasi ini telah tersedia berupa aplikasi playstore android. Untuk itu, masyarakat dapat mengunduh dan dipergunakan apabila ada temuan makanan yang tidak sesuai standar keamanan, ” kata Sem.

Dia mengharapkan, apabila masyarakat menemukan adanya produk-produk makanan yang tidak sesuai standar dapat melaporkan kepada BPOM melalui contact center, yakni 0821 4666 1600.

“Teman-teman dapat melaporkan kepada kami melalui via sms, telepon dan WhatsApp, sehingga kami dapat menindaklanjuti laporan teman-teman,” katanya.

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat, baik dari para nelayan, ibu rumah tangga dan juga mahasiswa yang tersebar di Kota Kupang yang berjumlah sekitar 400 orang. (stanis akoit)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of