Oleh : MARSELUS MOLAN, S.Sos
DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KAB. LEMBATA

KEMERIAHAN Festival Budaya Uyelewun Raya telah usai. Berbagai atraksi budaya diiringi deruan bunyi gong berbagai nada berpadu beduk bertalu-talu serasi membahana, semarak dan menganggumkan, kini tak terdengar lagi. Liukan tarian adat diiringi syair-syair dalam sampiran dan isi syarat makna seperti hamang Bayoq Eroq, Bung Ribiq, Suduq, Soleq dan tarian adat lainnya, tak lagi dipertunjukan. Begitu pula permainan rakyat seperti kote, ai songkil, etel, wotoq eraq, letar mireq, dan behuq ehuq tak lagi dipertonton di lokasi kegiatan Desa Benihading.

Walaupun demikian, kenangan ivent mempertunjukan budaya simbol peradaban para leluhur itu masih membekas dalam hati dan pikiran para tamu, ASN dan seluruh warga masyarakat yang terlibat di lokasi kegiatan. Ada hal yang sungguh menyentuh perhatian yakni atraksi Dorong Dopeq (proses perpindahan para leluhur). Atraksi ini dipersembahkan masyarakat desa Leubatan Kecamatan Omesuri membuka acara sore itu. Ternyata Dorong Dopeq juga menggugah naluri koreografer Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur.

Dipentas Expo Budaya tersebut, ia berhasil menciptakan sebuah karya seni teatrikal Dorong Dopeq diiringi musik tradisional tatong bekerja sama sanggar SMPK St.Pieter Lolondolor mempesona ribuan penonton di lokasi kgiatan. Dorong Dopeq dalam bahasa setempat (Kedang) berarti berpindah. Dalam kajian ini akan menggambarkan proses migrasi para leluhur turun dari gunung Uyelewun.

Tulisan ini terinspirasi dari atraksi budaya dalam kegiatan Expo Budaya Uyelewun Raya dan wawancara langsung dengan Bpk. Benediktus Boli Hoaratan dan Bapak Paulus Boli Pati. Mereka adalah Molan (dukun) pelaksana ritual dan seremoni adat yang diberi karunia untuk mengetahui sejarah dan radisi leluhur yang dianut secara turun temurun. Mereka menggambarkan, jika proses perpindahan para leluhur dari satu tempat ke tempat lainnya bukan sekedar berpindah tempat, namun dalam sebuah upacara dan proses penuh makna mistik dan magis dalam komunitas berlandaskan ikatan darah yang kuat. Proses perpindahan nenek moyang pada jaman itu terlaksana dalam ritual (poan) dorong dopeq yang upacaranya dikaji dalam tulisan ini.

Menurut molan Ben dan Boli Pati, perpindahan nenek moyang bisa terjadi karena beberapa sebab, antara lain, bencana kematian tak wajar (todi bita hen mateq), kelaparan (owan mu’u mayaq wei), sakit berkepanjangan (moleng kuq lan neq) atau alam sekitar yang tidak bersahabat akibat ulah manusia (Uhe auq nitu niwang dotan paleq, ele ling kehe lei ale). Bahkan menurut mereka, rubuhnya tempat tinggal akibat angin atau badai bisa membuat ketakutan dan mereka akan pergi meninggalkan tempat itu. Jika mereka mengalami hal demikian mereka akan mencari molan (dukun) untuk memastikan mereka harus pindah atau tidak. Untuk memutuskannya ditentukan dengan cara yang disebut wotoq mahu pene manuq (bantuan roh leluhur dan penguasa alam semesta). Jika dukun memastikan bahwa mereka harus berpindah tempat (mahu tuben manuq pihaq) maka komunitas itu akan pergi dari tempat itu ke tempat lain melalui upacara adat yang harus dilakukan sebagai mana dikisahkan dibawa ini.

Sahuq Auq Bote Lapaq

Sebelum berangkat meninggalkan tempat dimana mereka tinggal tersebut mereka melaksanakan sebuah ritual adat poan dorong dopeq. Dalam ritual ini anggota komunitas berkumpul dan menghadap tuan huna. Tuan huna adalah sebuah tiang dari kayu pilihan yang kuat dan bisa bertahan lama. Dalam bahasa Kedang kayu yang lazim digunakan yakni ai uruara atau ai nare. Di bawa tiang itu ada sebuah batu pusara (lapaq tarang) tempat sesajian untuk para leluhur. Pada ujung kayu yang ditancap itu diikat alang-alang simbol rumah tinggal. Tempat ini diyakini menjadi tempat tinggal para leuhur yang diyakini selalu ada dan terus menyertai mereka dalam suka maupun duka.

Dikeliling tuan huna akan diletakan batu pusara lain (lapaq tarang) sebanyak jumlah kepala keluarga yang akan membawa beberapa anggota keluarga yang mengikutinya. Acara diawali dengan ritual membersihkan diri dari kesalahan, baik perorangan maupun kelompok. Upacara ini disebut uq nunu seq wowo, wating wau belung mato.

Ritual ini bertujuan agar dalam perjalanan mencari tempat masing masing jangan mendapat aral dan rintangan. Setelah acara uq nunu wowo, poan kemer dorong dopeq pun dimulai. Sambil meletakan sesajian di atas pusara pusara itu molan (dukun) bermantera; “loyo no’o elu anaq deq noq wo’el nenun deq noq, loeng lereng bitol hewal be uhe ria ari baraq, utun beq udeq sue, anaq beq telu apaq, mete hipa kole mete behu buel, hipa neq namo epe behu neq namo tehu. Beq moleng udeq nore kuq laen udeq mete neq, sape todi bita hen mateq, utun beq owan mu’u anaq beq mayaq wei. Mu’u beq mete mo’an tuaq beq mete mayaq, ma loeng lereng bitol hewal be o nimon rian arin baraq ke dorong dopeq mete pan, ahe toha mete pan, ola ka mete pan, paiq min mete pan, iher leu mete pan pating auq mete pan, leteq huna mete pan paheng ahar mete pan, ke mahuq auq mete pan, bote lapaq mete pan. Dahuq dalong tudi baring ma….nikol udeq kara tikol nadan udeq kara tadan, waq udeq kara kodil ai udeq kara ba’ung.

Mantra ini bermakna; “Kami melaporkan kepada penguasa alam semesta dibawa bumi maupun diatas bumi, bahwa saat ini kami sudah beranak cucu dan bertambah banyak, sedang menderita sakit penyakit, sampai membawa kematian, kami juga kehabisan bahan makanan, ibarat pisang telah jatuh dari tangkainya, ibarat tuak telah kering, maka kami akan pergi dari sini untuk mencari hidup di tempat lain, membuat kampung halaman yang baru sambil membawa serta leluhur dan seluruh kekuatannya. Semoga dijauhi dari mara bahaya dan aral rintangan”.

Setelah ritual tersebut mereka makan minum bersama, bermain tandak dan bersukaria. Begitu banyak nyanyian dalam syair syair adat yang dinyanyikan, misalnya ”lalang amo lalang, apan kapa mete pan, tuan woq boiq laha, ke leteq huna paheng ahar. Bota ino bota, wei toreng doq oleq, inaq bota bote lapa, mahuq auq bote lapaq”. Syair ini berarti “Bapak lalang, ibarat rotan kami terus melata, takut leluhur marah, kami tetap membuat rumah untuk para leluhur. Mama bota, ibarat pucuk rotan kami terus turun ke bawa, dan di atas pangkuanmu, kami sertakan tanah dan batu pusara leluhur kami”.

Sebagaimana dikisahkan para molan, setelah hari menjelang siang dalam suasana sedih dan haru, kepala keluarga akan melakukan Sahuq Auq Bote lapaq (mengambil sedikit tanah dan menggendong batu pusara) dan pergi bersama keluarganya ke tempat yang lain.

Leteq Huna Paheng Ahar

Molan Ben dan Boli Pati nenuturkan, bahwa saat tiba di tempat yang baru, setiap kelompok kecil itu membuat acara seremoni yang disebut ”Leteq Huna, Paheng Ahar”. Dalam ritual ini mereka akan mencari sebatang kayu pilihan yang kuat dan tahan lama (ai nare atau uru ara) menancapkan ke tanah, mengikatnya dengan alang alang diatasnya (membuat tuan huna) biasanya disamping batu besar atau pohon besar untuk tempat tinggal para leluhur.

Dalam acara ini tanah dan batu pusara yang dibawah dari tempat sebelumnya akan diletakan dibawah tiang. Seorang dari mereka yang paling tua akan menyebutkan secara berurutan silsila keturunan mereka dari pertama sampai yang paling terakhir. Dalam acara ini pula, mereka mentaktakan kembali leluhur untuk tinggal bersama mereka. Bersama para leluhur itu dilaporkan juga secara berurutan anggota keluarga yang hidup tanpa melupakan seorang pun. Saat menghitung nama anggota keluarga mereka yang telah meninggal biasanya diungkapkan dalam syair-syair adat yang mengharukan diiringi isak tangis anggota keluarga.

Molan Ben Boli dan Boli Pati menuturkan, dalam sejarah perjalanan para leluhur ada beberapa tempat yang menjadi tempat tinggal bersejarah setelah Leu Rian Leu Ehoq (puncak Gunung Uyelewun) yakni Tuen Tubar Eyeq Deler (sebuah lembah setelah puncak Uyelewun), Witing Tun Waq Nebir (nama tempat) Witing Tun Anen Bae (sebuah peradaban para leluhur sudah menumbuk padi) berlokasi di Etung awan napoq.

Di lokasi Etung awan napoq inilah akhirnya para leluhur berpisah dalam ritual “Sahuq Auq Bote Lapaq” berpencaran dan berpindah secara turun temurun hingga melahirkan ribuan masyarakat yang menghuni 44 kampung di seputar gunung Uyelewun hingga sekarang ini.

Tradisi dan budaya itu indah dan mengagumkan. Simbol peradaban dan perjalanan hidup para leluhur kita. Kisah perjalanan sebagaimana dikisahkan di atas menurut apa yang diketahui para nara sumber. Sebuah tulisan tentang tradisi dan budaya bukan soal salah dan benarnya tapi ada upaya untuk menggali dan belajar tentang budaya kita sendiri.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur mengajak semua pihak untuk menggali dan mengembangkan budaya dalam masyarakat. Mari kita menggali kekuatan budaya kita yang mencerminkan peradaban para leluhur kita. “Jika budaya kita tidak terjaga maka peradaban juga akan terkikis dan hilang,” katanya.

Ia melanjutkan, budaya dan adat istiadat tidak usah diperdebatkan dan tidak usah didiskusikan. Ia beralasan, jika adat dan budaya diperdebatkan maka orang akan cenderung berbicara budaya menurut versi dan pikirannya masing-masing.

Terkait pelaksanaan Festival Budaya Uyelewun Raya beberapa waktu silam Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur mengapresiasi para pelajar SD, SLTP dan SLTA yang ikut serta belajar dan mengatraksikan berbagai budaya, tarian dan permainan rakyat. “Keterlibatan ini sebagai hal yang sangat positif sebagai pewaris adat dan budaya pada masa yang akan datang,” ujarnya. (Sumber : Molan Boli Pati, Molan Ben Boli, Desa Roho, Kecamatan Buyasuri)