Kupang, mediantt.com – Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat blak-blakan mengatakan, karena wisata NTT itu masuk destinasi kelas premium atau lazim disebut deluxe tourism, maka wisatawan yag berkunjung ke NTT harus kaya atau dari kalangan menengah ke atas. Bukan wisatawan yang miskin.

“Wisata NTT itu premium atau yang sering disebut deluxe tourism. Karena itu, kalau wisatawan yang berkunjung ke NTT harus kelas menengah ke atas. Wisatawan asing yang miskin tidak boleh datang atau berkunjung ke NTT,” tegas Gubernur Viktor ketika membuka Festival Menipo bertema ‘Pesta Rakyat Menipo Menuju Wisata Milenial’, di pelataran halaman Lippo Plaza Kupang, Kamis (14/11) siang.

Viktor menjelaskan, baru-baru ini situs perjalanan Lonely Planet mengumumkan bahwa NTT sebagai destinasi terbaik untuk tahun 2020. Ini menunjukkan bahwa di setiap tempat di NTT ada atraksi keindahan alam dan budaya yang akan dipenuhi wisatawan asing dari berbagai negara.

“Karena itu, wisatawan yang datang itu harus kaya. Kalau yang miskin tidak boleh datang,” tegas Viktor.

Viktor mengaku sudah menyampaikan langsung ke presiden bahwa di NTT kalau wisatawan yang datang itu yang kaya saja.

“Saya sampaikan ke presiden, kalau wisatawan yang miskin, kami di NTT paling banyak begitu (miskin). Jadi kalau wisatawan miskin yang datang, kami sudah tidak mau lihat lagi,” ujarnya.

“Wisatawan yang miskin tolong dikirim ke Jakarta, Bali atau Manado. Kalau wisatawan asing yang kaya kirim saja ke NTT saja,” sambung Viktor.

Alam NTT yang indah lajut Viktor, menjadi kekuatan daya tarik yang harus dijaga dengan baik dan benar.

“NTT yang kecil dan indah ini, sedang kita bangun secara bersama-sama dengan menyatukan cara pandang, sehingga kita akan melihat masa depan NTT menjadi lebih baik lagi,” ujar Viktor.

Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri LHK Kementerian LHK, Pramu Riwanto, mengatakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menilai bahwa kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Menipo di Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, NTT, mampu meningkatkan kesejateraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi daerah jika dikelolah dengan baik.

“Saat ini pengembangan TWA ini melibatkan tiga pilar antara lain tokoh agama, adat dan pemerintah. Kita berharap agar pengembangan TWA ini nantinya bisa meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat yang ada di kawasan TWA itu,” kata Pramu Riwanto, saat menghadiri puncak Festival Menipo, yang sudah dilakukan sejak Januari 2019.

Pramu menilai, Festival Menipo ini merupakan even pesta rakyat yang strategis untuk meningkatkan sinergitas pemerintah pusat, daerah pemangku adat, tokoh agama serta tokoh-tokoh masyarakat.

Menurut dia, inisiatif pengembangan TWA Menipo yang dilakukan melalui pengolahan ekowisata bersama berbasis tiga pilar, adat, agama dan pemerintah ini, perlu mendapat apresiasi dan dukungan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dan kelestarian TWA Menipo.

Tiga pilar dalam pengembangan ekowisata terdiri dari pilar pemerintah. Dalam hal ini BBKSDA NTT dan Pemda setempat yang menginisiasi pengembangan ekowisata di TWA Menipo dengan melibatkan masyarakat setempat.

Ia juga mengatakan, masyarakat adat setempat, dengan dimotori para ketua berperan sebagai subjek dengan aturan adatnya dalam pengelolaan ekowisata Menipo. (*/jdz)