TERKEJUT. Itulah kesan seorang Frans Sarong, wartawan senior pensiunan dari Harian Umum Kompas, ketika namanya disebut sebagai salah satu tokoh yang menerima penghargaan atau piagam Konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di sela gempitanya Festival Menipo, di pelataran Lippo Plaza Kupang, Kamis (14/11) siang.

“Saya agak terkejut karena tidak pernah membayangkan dapat penghargaan seperti ini. Saya berterima kasih, piagam ini mengingatkan kebersamaan saya dengan Pak Wiratno (saat masih sebagai Kepala BBKSDA NTT, kini Dirjen KSDAE Kementerian LHK) dan timnya, mengunjungi berbagai kawasan konservasi di NTT antara 2012 – 2014,” tutur penulis buku Ekspedisi Jejak Peradaban NTT ini kepada mediantt.com, usai menerima piagam itu.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terkhusus Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, dalam piagam bernomor PI.40/K.5/TU/SET/11/2019, menyebutkan, Frans telah menunjukkan Kepedulian terhadap Komunikasi Publik Konservasi melalui Jurnalistik di Provinsi NTT.

Menurut Frans, keterlibatan dirinya (melalui karya tulis) ikut berupaya menjaga dan melestarikan kawasan konservasi di NTT, lebih disemangati seiring perubahan paradigma BBKSDA NTT terkait model pengelolaan kawasan. Yakni, tidak lagi hanya mengandalkan kekuasaan, tetapi dipadukan dengan keterlibatan lembaga adat dan Gereja.

“Model pendekatan baru itu kemudian dikenal dengan pendekatan tiga pilar,” sebut mantan Calon Bupati Manggarai Tomur ini.

Ia juga mengatakan, perubahan pendekatan itu lebih ditujukan untuk menanamkan pemahaman lebih dalam, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki masyarakat atas kawasan konservasi di sekitarnya, termasuk Taman Wisata Alam Menipo.

Mimpi ke depannya, jelas dia, setiap kawasan koservasi tidak hanya lestari, tetapi juga harus apik hingga pada saatnya menjadi destinasi wisata bernilai tinggi dan menarik hingga digandrungi para wisatawan. Nah, “Untuk mewujudkan itu, maka pendekatan tiga pilar dalam pengelolaan berbagai kawasan konservasi harus jadi semangat dasarnya,” saran dia.

Ia juga berharap, pemberian penghargaan kepada warga atau lembaga yang terbukti peduli kawasan konservasi perlu terus didorong. Alasannya, karena dengan penghargaan yang didapat secara tidak langsung menambah anggota keluarga batih lingkungan kawasan konservasi sumber daya alam dan ekosistem di Indonesia.

Penghargaan konservasi ini juga diberikan kepada : 2. Yovi Jehabut atas dedikasinya dalam penyadaran masyarakat terhadap wisata alam di Provinsi NTT. 3. Adriana Salomi Betty, S.Pd atas dedikasinya di bidang pendidikan konservasi anak usia dini di Amarasi Timur, Kabupaten Kupang.
4. Yesaya Talan atas dedikasinya terhadap upaya konservasi Penyu dan lingkungan di Taman Wisata Alam Menipo.

5. Suzana L. Rote, atas peran aktifnya dalam Pramuka Saka Wanabakti di Provinsi NTT. 6. Peres Loe, SE, atas peran aktifnya dalam Pramuka Saka Wanabakti di NTT. 7. David Mata atas kegigihannya dalam mengawasi peredaran TSL di Bandara El Tari.

8. Tobias Teuf atas dedikasinya sebagai tokoh adat yang turut melestarikan Taman Wisata Alam Menipo. 9. Ibu Pendeta Mei Manimabi, S.Th atas peran aktifnya mengembangkan keluarga ekologis melalui peran agama di Taman Wisata Alam Menipo. Dan, 10. Jefta Bilsol Boimau atas dedikasinya menjaga kelestarian Mangrove pada Cagar Alam Maubesi, Kabupaten Malaka. (jdz)