Nenas Organik Lembata Merambah Pasar Kota Kupang

by -76 views
LEWOLEBA – Produksi Nenas dari Desa Labanobol, Kecamatan Nubatukan, Lembata, sedang menjadi incaran konsumen. Tidak saja di Lewoleba dan sekitarnya, produk nenas ini pun sudah merambah pasar di Pulau Timor, khususnya Kota Kupang. Apalagi saat ini, ptoduknya sedang mengalami peningkatan. Dan, kelebihan lain yakni tidak menggunakan pupuk kimia.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata pun turut membantu memasarkan nenas petani ini ke sejumlah pasar di Kota Kupang.
Kepada wartawan di Lewoleba, Kamis (14/12),  Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata, Kanisius Tuaq, menjelaskan, Desa Labanobol di Kecamatan Nubatukan merupakan desa penghasil nenas organik. Nenas Labanobol dikenal sejak dahulu dan sangat diminati karena sedikit serat dan berat rata-rata per buah berkisar antara 1,5 kilogram (kg) sampai 2,3 kg.
Ciri-cirinya, sebut dia, buahnya berkulit tebal dengan mata tipis, warna kulit hijau kekuningan, bersisik dengan daging buah berwarna kuning keemasan.

Menurjt Tuaq, selama ini pihaknya melakukan survei dan memotivasi petani nenas di Desa Labanobol untuk terus mengembangkan tanaman itu. Pemerintah tidak saja mendukung peningkatan produksi tetapi juga memotivasi para petani, melalui dinas membantu para petani dengan cara membeli nenas milik petani dan mencari pasaran di Pulau Timor.

“Keunggulan nenas Labanobol adalah bebas pestisida. Karena memiliki keunggulan, Dinas Pertanian melakukan survei harga pasaran di beberapa pasar tradisonal di Kota Kupang dan Timor Tengah Selatan untuk memasok nenas Labanobol,” kata Tuaq.

Ia juga mengatakan, membantu memasarkan nenas petani tersebut merupakan upaya pemerintah membangkitkan semangat petani, meningkatkan pendapatan petani, menemukan sistem pemasaran dengan mencari pasaran agar semangat berproduksi para petani tetap dipertahankan.

“Tahun ini Dinas Pertanian dan ketahanan Pangan mengirim sebanyak seribu buah nenas Labanobol ke Pasar Oeba, Pasar Inpres Naikoten, Pasar Penfui, dan beberapa pasar di Kabupaten TTS,” katanya.

“Kualitas nenas  sempat menarik perhatian investor untuk mengembangkan investasi pengembangan pertanian nenas di Lembata. Sayangnya, niat itu terkendala produksi yang terbatas dan tidak kontinue,” katanya.

Harmonisasi

Tuaq juga mengatakan  untuk mengatasi persoalan itu, dinas melakukan hormonisasi setiap bulan untuk menjaga produktivitas dan produksi yang kontinu.

Saat ini di Lembata ada  25 jenis tanaman buah-buahan dan paling banyak berproduksi adalah alpukat 18.629 pohon dengan jumlah produksi 2.679 kwintal, mangga dengan jumlah pohon 65.135  memproduksi 9.004 kwintal.

Selain itu, bua Nangka berproduksi 3.514 kwintal dari 49.686 pohon. Nenas 326.183 pohon dengan produksi 2.391 kwintal. Pepaya 162.499 pohon dengan produksi 43.350 kwintal. Sementara pisang 263.107 pohon dengan produksi 47.270 kwintal.

!Sekretaris Camat Atadei Lambertus Charles Odel mengatakan, wilayah Atadei memiliki produksi buah-buahan yang sangat besar. Sayangnya, karena kondisi ruas jalan yang masih rusak parah menyulitkan masyarakat memasarkan produk buah-buahan tersebut.

Ia berharap, kondisi tersebut dapat menjadi perhatian dinas teknis terkait agar produk buah-buahan warga dapat dipasarkan agar armada kapal tol laut yang masuk ke Lembata tak pulang kosong tapi dapat membawa produk buah-buahan petani yang selama ini masih terkendala pemasaran. (hb/jdz)