Kupang, mediantt.com – Jagat politik NTT kembali dikejutkan dengan munculnya pasangan cagub-cawagub, Lusia Adinda Dua Nurak-Paul Mella. Paket ini muncul menjelang penetapan pasangan cagub-cawagub di PDIP, yang dijadwalkan 17 Desember 2017. Menariknya, selain menguat di internal PDIP, pasangan ini pun jadi sorotan di internal Partai Golkar.
Asal tahu, DPP PDI Perjuangan telah mengeluarkan surat undangan kepada nama-nama cagub NTT untuk ke Jakarta mengikuti rapat konsolidasi internal terkait Pilkada serentak tahun 2018, juga membahas penetapan cagub. Rapat tersebut digelar Kamis (14/12) di Kantor PDIP Jln P. Diponegoro No. 58 Menteng Jakarta Pusat.
Dalam Surat tersebut diundang sejumlah nama seperti Ketua DPD I PDIP NTT  Frans Lebu Raya, Raymundus Sau Fernandez, Marianus Sae, Noviyanto U. P. Lende, Lucia Adinda Lebu Raya, dan Emy Numleni.
Menanggapi menguatnya Lusia-Mella di internal Golkar,  Ketua Dewan Pertimbangan Golkar NTT, Feliks Pullu mengatakan, wacana itu sah-sah saja karena dinamika politik terus berubah setiap saat.
“Soal wacana ini, saya sangka sah-sah saja. Saya juga tidak cenderung mengatakan iya tapi bisa saja itu terjadi. Karena di Golkar saat ini juga belum ada yang final. Golkar sangat terbuka,” katanya.
Dia menjelaskan, Partai Golkar tidak terikat dengan orang per orang tapi sebagai sebuah sistem. “Kalau tanya saya, saya tidak punya otoritas. Rujukan kita adalah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga maupun peraturan dan juknis. Soal wacana Lusia-Mella, boleh saja karena ini demokrasi. Kami ini hanya dewan pertimbangan,  keputusan yang akurat itu ada pada organisasi,” kata Feliks.
Kata dia, semua nama yang beredar bisa saja. Namanya juga politik, semua bisa mungkin. Itu juga bagian dari demokrasi. “Walaupun belum ada proses lamar atau mekanisme lainnya, tapi sebagai organisasi saya belum tahu. Tapi nama-nama yang beredar bisa saja toh,” katanya.
Dia juga menuturkan, kalaupun sekedar wacana sesama kader boleh saja, soal nama yang berkembang belum ada informasi resmi. “Tapi bagi saya, siapa saja yang mau berbuat baik untuk NTT silakan saja walaupun belum ada komitmen,” ujarnya.
Di internal Golkar, sebut Feliks, saat ini Ketua DPD I Golkar NTT, Melki Laka Lena sudah ditugaskan oleh organisasi untuk maju dalam Pilgub NTT.
Analis Politik dari Fisip Undana, Dr Acry Deodatus, berpe dapat, munculnya nama Lusia di injury time menandakan politik itu sebagai seni kemungkinan.
Menurut dia, karakter pemilih di NTT sejak tahun 1958 sampai dengan saat ini saat memilih gubernur selalu memperhatikan keberagaman dalam masyarakat sehingga tetap menjaga keharmonisan dan keseimbangan.
“Umpannya kalau gubernurnya dari wilayah selatan, maka wakilnya selalu dari utara, vice versa. Jika Ibu Lusia dari utara dipadukan dengan Paul Mella dari Timor, saya yakin akan sesuai dengan aspirasi sebagian besar masyarakat NTT,” kata Acry.
Demikian juga kandidat lainnya akan membangun keharmonisan seperti itu, seperti  Esthon yang berpasangan dengan Christian Rotok atau Beni K. Harman padanannya pasti dari Timor atau Sumba.
Hal yang sama, sebut dia, bila Kristo Blasin yang ditetapkan, maka pasti dia memilih wakil dari wilayah selatan (Sumba atau Timor). (jdz)