Hari Pahlawan Perkokoh Persatuan Membangun Negeri

by -41 views

KUPANG – Perjuangan para pahlawan secara kolektif telah melahirkan sebuah bangsa yang merdeka dan kedudukannya sederajat dengan bangsa lain di dunia, sekaligus memperkokoh persatuan membangun negeri.

“Inilah semangat juang yang tetap berdiri di atas cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) 1945,” kata Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya saat membacakan sambutan Menteri Sosial (Mensos) RI, Kofifah Indar Parawansa.

Sambutan Mensos Kofifah  dibacakan Gubernur Frans Lebu Raya, selaku Inspektur Upacara pengibaran bendera Merah Putih memperingati Hari Pahlawan ke-72 tahun 2017 tingkat Provinsi NTT, di Alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT, Jumat (10/11).

Turut hadir unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) NTT, Wakil Ketua DPRD NTT, Gabriel Beri Bina, Pimpinan Perangkat Daerah, para Perintis Kemerdekaan, TNI/Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), Organisasi Pemuda dan Pelajar.

Menurut Kofifah, untuk mengenang kembali semangat juang para pahlawan, setiap 10 November seluruh warga bangsa Indonesia memperingati hari Pahlawan dan Perintis Kemerdekaan Indonesia. Para pahlawan dengan segenap pimikiran, tindakan dan gerakan perjuangan kolektif, telah melahirkan sebuah negara yang merdeka dan juga sebuah negara yang sederajat dengan bangsa lain di seluruh dunia.

Kata dia, para pendiri bangsa menyampaikan pesan untuk rakyat Indonesia, yaitu setelah kemerdekaan diraih dan pada tahapan bernegara selanjutnya, harus bersatu terlebih dahulu untuk bisa memasuki tahapan bernegara yang berdaulat, adil dan makmur.

Atas dasar pesan fundamental itulah, peringatan hari Pahlawan tahun ini, mengusung tema “Perkokoh Persatuan Membangun Negeri.” Gambaran dari tema tersebut, apabila seluruh rakyat Indonesia mampu bersatu sebagai bangsa, tentu dapat maju bersama dan mendistribusikan berkas kemerdekaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut Mensos Kofifah, hari Pahlawan yang diperingati tahun ini, didasarkan atas peristiwa terhebat dalam riwayat dekolonisasi dunia, yakni peristiwa pertempuran 10 November 1945, di Surabaya. Sebuah peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia Internasional, betapa bersatunya rakyat Indonesia dari berbagai ras, suku, agama dan berbagai bentuk partikularisme golongan, berlebur menjadi satu untuk berikrar, bergerak dan menyerahkan hidupnya, jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno (Presiden RI Pertama), demikian Mensos, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Kalimat singkat dari Bung Karno, menurut Kofifah, memiliki makna sangat mendalam bagi seluruh rakyat. Tanpa perjuangan dan pengorbanan para pahlawan maka tidak akan ada gagasan besar untuk mendirikan sebuah negara yang bernama Republik Indonesia.

Mensos menambahkan, dalam perjalanan kemerdekaan terkandung abdinya perjuangan para pendahulu dan pendiri bangsa yang membentuk persatuan bangsa Indonesia. Abdi itu, adanya harapan dan pengorbanan. Harapan dan pengorbanan inilah yang membentuk persatuan dan melahirkan Indonesia. Dalam menjaga eksistensinya maka Indonesia harus berdiri tegak dan berperan memelihara persaudaraan umat manusia di dunia.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya kepada wartawan, mengatakan, semangat kepahlawanan itu adalah semangat untuk berkorban, semangat berjuang, tinggalkan ego masing-masing dan jadilah orang yang berjuang untuk kepentingan kemasyarakatan, daerah serta kepentingan bangsa.

“Jadilah orang yang mau berkorban dan berjuang bersama-sama, bagi kepentingan masyarakat dan bangsa. Lepaskan ego masing-masing, demi kemajuan daerah dan bangsa Indonesia. Sebab, namanya pahlawan, bukan menadahkan tangan tapi harus berkorban mewujudkan cita-cita seluruh rakyat,” pintanya.

Khusus bagi generasi muda yang disebut dengan generasi milenial, dipesankan agar dengan kemajuan teknologi informasi yang luar biasa, harus tetap mampu menyadari diri sebagai  putra Indonesia. Kaum milenial juga harus memiliki semangat dan karakter kebangsaan, tentu dapat dibedakan dengan negara lain.

“Kaum milenial harus menyadari dirinya, tidak melupakan negaranya dan tidak sekedar merasa diri sebagai warga global saja tetapi juga sebagai warga Indonesia. Manfaatkan kemajuan informasi dan teknologi untuk kemajuan daerah dan bangsa. Tidak untuk menyebarkan berita bohong (hoax). Gunakan media sosial untuk memperkuat soliditas kebangsaan kita,” katanya.

Saat itu diserahkan juga bantuan sosial dari Gubernur NTT kepada enam orang perintis, janda dan keluarga perintis kemerdekaan. Keenam orang penerima bantuan sosial itu adalah Jeremias Taon Pello, Domingos Soares, Jose Sarmento, Agustina de Jesus Pareira, Ejaquel Pinto Brum Uiana dan Terezinha N. Fernandes. (son/hms)