Diprediksi Tak Ada Teman Koalisi, Lebu Raya; Oh Begitu…Saya Baru Dengar!

by -171 views

KUPANG – PDI Perjuangan hingga saat ini belum memunculkan figur siapa yang diusung di Pilgub NTT 2018. Masih terjadi tarik ulur, dan saling klaim diantara para calon dan kader yang mendaftar di partai moncong putih itu. Politik senyap sedang dilakukan, sembari terus mengawasi gerakan lawan politik, termasuk mencari teman koalisi.

Ada spekulasi dan prediksi bahwa PDIP NTT bakal tidak akan mendapat teman koalisi, namun politisi kalem yang adalah sutradara PDIP NTT, Frans Lebu Raya, tak pernah bergeming. Ketika ditanya wartawan soal itu, Rabu (1/11), Lebu Raya hanya bilang; “Oh begitu…, saya baru dengar!” Tanpa penjelasan lanjutan, Lebu Raya pun berlalu dari kerumunan wartawan sembari melempar senyum. “Semua masih berproses di DPP (PDIP),” katanya.

Frans selalu menampakan gesture yang tenang setiap kali ditanya media soal figur PDIP dan mitra koalisi untuk mengusung jagonya di Pilgub NTT 2018. Pembicaraan ke media pun dibatasi. Tidak semua boleh bicara.  Sebab, hingga pekan pertama November 2017, nama kandidat dari PDIP tetap menjadi misteri. Tapi bocoran dari internal PDIP NTT memastikan bahwa sudah ada figur yang direstui Frans Lebu Raya;  bisa saja dari internal PDIP atau juga dari luar PDIP. Hanya saja, semuanya masih berproses. Info akurat juga menyebutkan, Frans Lebu Raya juga dekat dengan calon Demokrat, Benni K. Harman, tapi Frans juga membangun komunikasi dengan calon baru dari PDIP sendiri yang bisa saja berasal dari luar PDIP.

Karena itu, soal strategi menghadapi Pilgub 2018, orang kepercayaan Ketua DPD I PDIP NTT menegaskan, senyapnya PDIP dan diamnya Frans Lebu Raya, jusrtu bermakna sebaliknya. Berbagai simpul kekuatan politik di NTT sudah lama didekati dan dijaga Frans.

Termasuk kekuatan budaya, adat dan bahkan gereja dan mesjid. Artinya, selama ini PDIP NTT sudah bekerja. Malahan, PDIP NTT bisa disebut sebagai salah satu partai di NTT yang sudah lama bekerja, selain Gerindra dan Esthon Foenay-Kris Rotok.

Para kader PDIP dan elit politik lintas partai yang sangat dipercaya oleh Frans Lebu Raya juga sudah bekerja sejak lama. Semuanya komit sejak jauh-jauh hari, termasuk para simpatisan, juga birokrat yang ingin membantu secara sukarela. Hanya saja, semua kerja tim ini tidak dipublikasikan. Semuanya berlangsung secara senyap. Menggunakan metode perang intelijen. Hasil kerja mereka pun nyata. Tim ini, terkoordinasi dengan baik dan hasilnya pun sudah ada.

Bahkan, partai koalisi sudah mereka urus. Jadi, soal peta koalisi, masih bisa berubah di injuri time. Sebab PDIP punya tim khusus yang sudah bergerylia. Partai apa saja yang akan gabung dengan PDIP, sebenarnya telah dipastikan. Hanura dan PKB, akan sulit jauh dari PDIP.

Selain bertugas melakukan konsolidasi dan penguatan koalisi dengan mitra partai, ada juga tim yang tugasnya merawat emosi dan psikologi massa di akar rumput. Mereka ini bertemu dengan para pemuka agama dan tokoh masyarakat di berbagai wilayah.

Untuk menjaga semua taktik tetap berjalan aman dan sesuai skenario, keberadaan tim ini pun rahasia. Tidak boleh banyak yang tahu. Meski ada yang sudah bisa diendus media, tapi soal strategi tempur, tidak boleh diketahui tim lawan. Para kader pun diinstruksikan untuk tidak boleh banyak “bunyi” ke media.

Incar PKB dan PKS

Meski Frans Lebu Raya berdalih tidak tahu, tapi Wakil Ketua DPD PDIP NTT Gusti Beribe, blak-blakan mengatakan, PDIP NTT hanya mengharapkan dukungan politik dari PKB dan PKS dalam Pilgub 2018, untuk bisa mengusung pasangan calon gubernur-wakil gubernur NTT periode 2018-2023.

“Kami hanya berharap dapat membangun koalisi politik dengan Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Keadilan Sosial, karena sampai saat ini, kedua parpol tersebut belum membangun koalisi politik dengan parpol mana pun,” kata Gusti Beribe kepada Antara, Rabu (1/11), menjawab pertanyaan belum adanya kepastian koalisi yang dibangun PDIP NTT dengan parpol lain.

Menurut dia, PDIP NTT semula membangun komunikasi politik dengan PKPI dan Hanura, namun kedua partai itu memilih membangun koalisi dengan Partai Demokrat untuk mengusung pasangan Benny K Harman-Benny Litelnoni dalam ajang Pilgub NTT tahun 2018.

“Kita telah melakukan pendekatan dengan dua partai itu namun ternyata memilih berkoaliasi dengan partai lain. Kita menghormati pilihan Hanura dan PKPI yang telah berkoalisi dengan Demokrat,” katanya.

Ia juga mengatakan, proses pendekatan dengan PKB dan PKS semakin intensif dilakukan agar PDIP jangan kehilangan muka serta tidak berposisi seperti “telur diujung tanduk” dalam menghadapi Pilgub NTT 2018.

“Saya sangat optimistis kedua partai tersebut akan berkoalisi dengan PDIP, karena konsep yang kami tawarkan adalah mengusung pasangan calon gubernur-wakil gubernur melalui hasil kompromi politik,” katanya.  Artinya, bakal calon gubernur-wakil gubernur NTT yang diusung PDIP dan partai koalisi, bisa berasal dari luar ketiga parpol tersebut.

“Kami (PDIP) masih membutuhkan waktu untuk menentukan figur pemimpin, yang diharapkan bisa meneruskan program-program pro rakyat yang telah dirintis oleh Gubernur Frans Lebu Raya selama 10 tahun,” katanya.

Beribe menegaskan sejauh ini PDIP NTT belum menentukan figur calon gubernur dan wakil gubernur NTT, karena masih terus memburu PKB dan PKS untuk membangun koalisi bersama.
“Jika ada yang mengklaim telah mengantongi dukungan dari DPP PDI Perjuangan, mungkin hanya untuk menarik perhatian publik semata,” ujarnya.

PKB NTT di bawah kepempinan Yucundianus Lepa, telah menggadang-gadang Bupati Ngada Marianus Sae sebagai bakal calon gubernur NTT. Namun, kendala yang mereka hadapi adalah minimnya perolehan kursi di DPRD NTT untuk mengusung jagonya ke jenjang Pilgub NTT.

PKB NTT hanya memiliki lima kursi di DPRD NTT, sehingga wajib menggalang koalisi dengan parpol lain untuk mengusung pasangan calon gubernur-wakil gubernur NTT yang ditetapkan KPU NTT sebagai penyelenggara pilkada sebanyak 13 kursi.

Jika PKB sepakat dengan PDIP yang memiliki 10 kursi di DPRD NTT untuk membangun koalisi, maka pilihan mereka tetap tertuju kepada Marianus Sae sebagai bakal calon Gubernur. (*/jdz)