Pemkab Lembata Butuh Rp300 Miliar Relokasi Warga

by -155 views

KUPANG – Pemerintah Kabupaten Lembata membutuhkan dana sekitar Rp300 miliar untuk merelokasi warga Desa Lamagate dan Waipukan di Kecamatan Ile Ape yang menjadi sasaran longsoran karena berada di lereng Gunung Api (Ile Ape) Lewotolok.

“Pemerintah memiliki rencana untuk merelokasi warga di dua desa tersebut ke tempat yang jauh lebih awam, karena rentan terhadap longsoran,” kata Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lembata Karel Kia Burin ketika dihubungi Antara dari Kupang, Jumat (13/10).

Ia mengatakan, taksasi anggaran sebesar itu untuk pembangunan fasilitas pemukiman baru serta infrastruktur pendukung lainnya bagi 351 warga Desa Lamagate dan 461 warga Desa Waipukan yang berada di kawasan rawan longsoran.

“Pemerintah Kabupaten Lembata sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat sehingga warga yang menjadi korban bencana gempa bisa bermukim di lokasi yang aman dan lebih memadai,” katanya.

Rencana relokasi warga dua desa itu telah disampaikan Bupati Lembata Yentji Sunur ketika mengunjungi pengungsi gempa Lembata yang memilih mengungsi di bekas rumah jabatan Bupati Lembata di Kota Lewoleba, Kamis (12/10).

“Pak Bupati sudah sampaikan secara terbuka kepada warga tentang rencana relokasi tersebut. Dua desa itu berada di lereng Gunung Lewotolok dengan tingkat kemiringan mencapai 60 derajat sehingga mudah disiram bebatuan,” kata Kia Burin.

Ia menambahkan wilayah Lamagate dan Waipukan sudah tidak aman lagi dijadikan sebagai kawasan pemukiman penduduk karena rawan terhadap bencana tanah longsor.

Warga dua desa tersebut, kata dia, mendukung gagasan Pemkab Lembata untuk direlokasi dengan harapan pemerintah dapat menyiapkan lahan pertanian untuk mendukung aktivitas mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Kia Burin menjelaskan Pemkab Lembata sedang menginventarisasi lokasi yang tepat sebagai kawasan pemukiman baru untuk warga dua desa itu, termasuk mendata kawasan pertanian untuk warga.

Salah satu wilayah yang dianggap ideal untuk kawasan relokasi adalah di wilayah Kecamatan Lebatukan, karena wilayah itu sangat subur sehingga memungkinkan korban bencana gempa untuk mengembangkan usaha pertanian.

“Relokasi warga ini tidak menghilangkan kultur budaya warga setempat, namun intinya untuk menyelamatkan mereka dari bahaya bencana agar lebih nyaman dalam menata ekonomi rumah tangga dan hidup berkelanjutan,” demikian Karel Kia Burin.

Gempa Skala Kecil

Antara juga melaporkan, sensor gempa bumi di Lembata, pada Minggu (15/10) mencatat 51 kali gempa vulkanik skala kecil baik gempa dalam maupun dangkal. “Gempa tersebut terdiri dari 38 kali gempa vulkanik dalam, sembilan kali gempa vulkanik dangkal dan empat kali gempa tektonik lokal,” kata Pengamat Gunung Api Lewotolok, Paji Rom saat saat dihubungi, Senin (16/10).

Dia mengemukakan hal itu menjawab pertanyaan seputar perkembangan gempa di Lembata, mengingat warga yang mengungsi belum berani kembali ke rumah mereka masing-masing.

“Kalau gempa dari aktivitas gunung yang kami namakan gempa vulkanik dalam dan dangkal untuk 15 0ktober sebanyak 38 kali vulkanik dalam, sembilan kali gempa vulkanik dangkal dan empat kali tektonik lokal,” katanya.

Khusus tektonik lokal ini terjadi bukan karena aktivitas gunung Lewotolok tetapi gempa tektonik yang pusatnya berada di sekitar sensor gempa, katanya. “Kalau tektonik lokal ini terjadi bukan karena aktivitas gunung tetapi tektonik yang pusatnya dekat stasiun seismometer, berarti pusat gempa sekitar stasiun seismometer,” katanya.

Kepala BMKG Kupang/Koordinator BMKG NTT, Hasanudin yang dihubungi terpisah mengatakan, Tim dari BMKG Kupang dan PVMBG Bandung masih terus mengamati aktivitas Gunung Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Tim masih di Lembata. Mereka masih terus mengamati perkembangan aktivitas Gunung Lewotolok,” katanya.

Tim dari BMKG Kupang dan PVMBG Bandung sudah berada di Lembata sejak Jumad, (13/10), untuk melakukan monitoring kegempaan di daerah itu.

Selain monitoring kegempaan, tim juga akan memonitoring bencana geologi yang terjadi akibat gempa bumi yang melanda wilayah itu yang berdampak pada ribuan warga mengungsi. (jdz)