Konsumsi Ubi Beracun, Satu Balita Tewas, Camat Waiblama Bantah

by -116 views

MAUMERE – Krisis rawan pangan kini sudah berdampak luas. Dikabarkan seorang balita berusia dua tahun di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, meninggal pada Minggu (1/10) lalu, karena mengkonsumsi ubi hutan beracun atau magar. Namun informasi ini dibantah Camat Waiblama dan Kepala Desa Natarmage.

Media ini mendapat informasi bahwa balita tersebut masih memanfaatkan air susu ibu. Sementara ibunya, sejak Juli lalu terpaksa mengonsumsi magar karena ketiadaan stok pangan untuk mencukupi kebutuhan.

Camat Waiblama Antonius Jabo Liwu yang ditemui di Kantor Desa Natarmage, Sabtu (7/10), langsung membantah. Dia mengatakan, balita korban meninggal itu tidak terkait magar. Informasi yang dia terima dari orangtua korban dan bidan pada Puskesmas Tanarawa, bahwa korban meninggal karena diare.

“Ada informasi bahwa bayi yang meninggal ini karena konsumsi magar atau ubi hutan, saya kira itu tidak benar. Yang jelas bahwa keluarga korban ini tidak pernah konsumsi magar. Bayi itu sendiri juga tidak makan magar. Tapi koraban meninggal karena menceret,” jelas Antonius Jabo Liwu.

Liwu mengatakan, untuk mendaptkan kepastian tentang informasi bayi yang meninggal akibat konsumsi magar, dia sendiri langsung menanyakan pada orangtua korban. Orangtua korban menceritakan bahwa mereka selama ini tidak penah konsumsi magar.

Soal temuan sisa magar yang dibakar dalam bambu pada rumah orangtua korban, Antonius Jabo Liwu beralasan orangtua korban sedang melakukan upacara adat. Menurut adat istiadat di daerah ini, siapa saja belum boleh konsumsi magar jika sedang melakukan upacara adat.

Bantahan yang sama disampaikan Kepala Desa Natarmage Lambertus Lira Liwu. Menurut dia,  bayi yang meninggal tidak ada hubungan dengan magar. Bayi tersebut mengalami sakit diare, sempat dibawa ke Puskesmas Tanarawa, namun kemudian tidak bisa tertolong.

Emanuel Nong, salah seorang warga yang sudah dua bulan ini konsumsi magar menegaskan, selama ini belum pernah ada orang yang meninggal akibat konsumsi magar. Sebelum dikonsumsi, biasanya ada uji coba dengan memberikan magar ke hewan piaraan seperti anjing. “Kalau sudah masak, terlebih dahulu kami kasihkan anjing. Kalau magar itu bagus, pasti anjing makan. Tapi sebaliknya kalau tidak bagus pasti anjing tidak makan,” jelas dia.

Menurut Emanuel Nong, kalau proses membuat magar dikelola secara baik maka tidak akan berdampak negatif. Tapi kalau jika salah dikelola, maka yang konsumsi magar hanya akan mengalami mabuk. Jika ada yang mabuk magar, masyarakat setempat secara turun-temurun cukup mengetahui penawarnya, yakni dengan memberikan minum air kelapa. (vicky da gomez)

Ket Foto: Camat Waiblama Antonius Jabo Liwu sedang memberikan keterangan di Kantor Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, Sabtu (7/10).