Nasabah Non Bank di NTT Mencapai 55 Persen

by -148 views

KUPANG – Kepala Biro Ekonomi Setda Nusa Tenggara Timur Petrus A Kerong mengatakan hampir 55 persen dari sekitar 5,3 juta jiwa penduduk daerah ini memilih menabung di luar bank (financially excluded).

“Mereka memilih financially excluded hanya dengan menyimpan uangnya di rumah untuk membeli barang, ternak serta perhiasan,” katanya di Kupang, Rabu.

Sementara yang memilih tabungan informal seperti arisan sebanyak delapan persen, semi formal mencapai 14 persen, dan hanya 23 persen saja yang memilih menabung di bank umum maupun bank khusus seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan lembaga keuangan non bank lainnya.

Ia mengatakan di tengah era teknologi digital banking sebagai sarana untuk memperlancar transaksi sektor keuangan, masyarakat harus diarahkan ke sana sebagai salah satu solusi dalam menyimpan uang mereka di bank.

“Masyarakat NTT perlu diberikan pemahaman serta dibiasakan untuk melakukan transaksi keuangan melalui ATM (Anjungan Tunai Mandiri), sebab, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum terbiasa dengan transaksi melalui bank,” katanya.

Selain itu, ada juga kartu kredit, e-money, kemudian sekarang ada agen laku pandai sebagai Agen Lembaga Keuangan Digital (LKD) yang sudah dalam frame manajemen Bank Indonesia yang sering disebut sebagai inklusi keuangan.

Tingkat pengoptimalan program digital banking ini penting dilakukan karena beberapa bulan yang lalu juga masyarakat diganggu dengan investasi bodong. Ini penyebabnya karena masyarakat belum dibiasakan untuk melakukan transaksi perbankan.

Karena itu, kata Kerong, Pemerintah Provinsi NTT mendorong optimalnya digital banking dengan mendorong semua program maupun kebijakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat harus melalui perbankan.

“Tujuannya agar masyarakat di desa dapat berinteraksi secara langsung dengan perbankan, sehingga menjadi terbiasa ketika program digital banking ini telah memasyarkat agar tidak gagab teknologi (Gaptek),” katanya.

Numpang Rekening
Sementara itu, pimpinan Bank Mandiri Area Kupang Herinaldi mengatakan berdasarkan hasil korespondensi menunjukkan bahwa 31 persen responden di NTT telah memiliki rekening bank, sedang 69 persen sisanya masih menumpang pada rekening pihak lain.

Survei tersebut dilakukan Bappenas bekerja sama dengan Pemerintah Australia dan Swiss bertajuk Survey on Financial Inclusion and Access terhadap 20.000 responden pada 1.250 desa, di 93 kabupaten empat provinsi, yakni Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTT, dan NTB untuk mengetahui animo masyarat memasuki digital banking yang tengah memasyarakat untuk kelancaran transaksi.

Pada sisi lain dari survei itu, penduduk dewasa yang menggunakan jasa keuangan semiformal (tidak diatur dan diawasi seperti koperasi simpan pinjam) di NTT mencapai 23 persen, Jawa Timur 125 persen, NTB 7 persen, dan Sulsel 5 persen.

Saat ini industri perbankan tengah memaksimalkan digital banking sebagai sarana atau layanan perbankan yang disediakan oleh industri perbankan maupun nonperbankan untuk memperlancar transaksi sektor keuangan sebagai salah satu solusi masyarakat memilih menyimpan uang di bank.

“Masyarakat NTT perlu diberikan pemahaman serta dibiasakan untuk melakukan transaksi keuangan melalui perbankan. Sebab hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum terbiasa dengan transaksi melalui bank,” katanya lagi.

Menurut dia, kondisi itu bertentangan karena pada era kekinian kebanyakan orang menggunakan ATM sebagai layanan digital banking yang paling umum.

Selain itu, kata dia lagi, ada juga kartu kredit, e-Money, kemudian sekarang ada agen laku pandai sebagai Agen Lembaga Keuangan Digital (LKD) yang sudah dalam frame manajemen Bank Indonesia sering disebut sebagai inklusi keuangan.

Tingkat pengoptimalan Program Digital Banking ini penting dilakukan, mengingat beberapa bulan lalu masyarakat diganggu dengan investasi bodong. Penyebabnya karena masyarakat belum dibiasakan untuk melakukan transaksi perbankan.

“Tujuannya adalah agar masyarakat di desa dapat berinteraksi secara langsung dengan pihak perbankan, sehingga menjadi terbiasa ketika Program Digital Banking ini telah memasyarakat dan masyarakat tidak gagap teknologi,” katanya pula.

Dia menegaskan bahwa perkembangan teknologi kian mendorong perbankan untuk berinovasi dan menciptakan layanan tanpa kantor alias digital banking.

“Perkembangan layanan keuangan digital ini akan berdampak positif bagi potensi pertumbuhan perekonomian di NTT,” kata dia. (ant/jk)