Anita Gah Bantu SMKN 8 Kupang dan Dengar Keluhan Guru

by -93 views

Kupang, mediantt.com – Meski bari beberapa bulan menggantikan Jefri Riwu Kore di DPR RI, anggota Fraksi Partai Demokrat, Anita Jakoba Gah, sudah menunjukkan hasil kerjanya. Jumat (26/5) lalu, ia mendatangi SMKN 8 Kupang untuk memberi bantuan dari Komisi X DPR RI. Bantuan tersebut berupa dana hasil perjuangannya untuk penambahan fasilitas ruang belajar agar semakin memadai. Sebab, SMKN 8 hanya memiliki 22 rombongan belajar dengan kapasitas 18 euang belajar.

“Ini yang perlu ditata lagi sehingga kita dari Komisi X DPR RI memberikan bantuan untuk penambahan fasilitas belajar tersebut,” kata Anita Gah yang saat itu diterima Kepala Sekolah SMKN 8 Kupang, Haris Akbar dan sejumlah guru.

Kepsek Haris pun menyambut baik kehadiran Anita Gah dan memberikan apresiasi dan penghargaan atas perjuangan anggota DPR RI asal Sabu Raijua itu.

“Kami sangat bersyukur karena dari sekian SMA Negeri yang ada di Kota Kupang, SMA 8 mendapat apresisasi dan bantuan dari Anggota Komisi X DPR RI Ibu Anita Jacoba Gah,” kata Haris.

Usai menerima bantuan tersebut, Kepsek Haris bersama Anita Gah dan rombongan meninjau setiap kelas beserta fasilitas penunjang yang ada di sekolah tersebut. Tampak kondisi ruang kelas yang berantakan karena lantai yang pecah-pecah, juga plafon yang mulai rusak di sana-sini.

Menurut Haris, ada 6-7 ruang kelas yang harus direhab. Karena itu, Anita Gah meminta agar Kepsek membuat surat disertai proposal untuk penambahan ruang kelas dan rehab bangunan. “Proposal itu ditujuhkan langsung ke saya (Anita Gah, red) agar dapat saya teruskan ke Kementerian Pendidikan,” katanya.

Menurut rencana, pada 29 Mei 2017, Kepala SMKN 8 Kupang, Abdul Haris, akan dipanggil Kementerian Pendidikan RI untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau perjanjian kerja untuk bantuan 2 unit ruang kelas baru bagi SMKN 9 Kupang.

Dalam tatap muka dengan anggota Komisi X DPR RI itu, salah seorang guru, Maria M. Dena menyampaikan keluhan bahwa sejak SMAN 8 Kupang didirikan, ia telah mengabdi (mengajar) mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik, tapi tidak ada ruangan khusus. “Bu, kami tidak ada ruangan khusus untuk mata pelajaran agama katolik. Kami kadang harus lakukan kegiatan belajar mengajar agama katolik di bawah pohon. Mohon perhatian ibu soal ini,” katanya.

Keluhan lain diungkapkan Sumiati. Ia mengeluh tentang uang lauk pauk yang hingga bulan Mei 2017 belum dicairkan/diperoleh, juga uang sertifikasi yang belum mencapai sinkronisasi 24 jam. Selain itu, tentang rekrutmen tentang penyusunan  soal dan monev serta ketersediaan tenaga pelaksana, termasuk tentang nasib guru, yang lebih spesifik tentang hak para guru terkait pengalihan kewenangan dari Dinas Pendidikan Kota ke Dinas Pendidikan Provinsi.

Kepada Anita Ga, para guru juga membeberkan tentang pengangkatan guru-guru honor dengan masa kerja 8-15 tahun, tapi hingga saat ini belum diangkat dan masih menjadi guru komite sekolah. Juga, ujian masih berbasis kertas dan pensil karena tidak tersedianya computer untuk peserta didik yang mengikuti ujian nasional berbasis computer (UNBK).

Merespon keluhan tersebut, Anita Gah meminta agar semua aspirasi yang disampaikan para guru tersebut dibuat secara tertulis dan resmi dari sekolah agar dapat diperjuangkan ke tingkat propinsi pada Senin (29/5), dan ke tingkat pusat. “Jadi harus dibuat dalam laporan resmi dan tertulis sehingga memudahkan kordinasi dan sinkronisasi di provinsi dan pusat,” kata Anita Gah, yang mem-PAW Jefri Riwu Kore yang terpilih menjadi Walikota Kupang periode 2017-2022.

Sebelum berkunjung ke SMAN 8, Anita Gah berserta rombongan berkesempatan mendatangi Taman Baca Amnesi di Bona, Labat, pimpinan Abner Kia. Di sana Anita melihat aktifitas, peralatan dan sarana penunjang yang masih harus dibenahi agar layak menjadi sebuah taman baca yang representatif bagi anak-anak. (rb)

Ket Foto : Anita Gah berpose bersama Kepsek SMAN 8 Kupang dan para guru usai berdialog.