Hanya Laka Lena Yang Gunakan Sistem Piramida Terbalik

by -61 views

SoE, mediantt.com – Politisi muda Partai Golkar, E. Melki Laka Lena, tak pernah lelah mendengar semua ide dan gagasan yang dalam forum Sayembara Ayo Bangun NTT, yang diinisiasi Yayasan Tunas Muda Indonesia. Di semua kabupaten/kota yang telah menghelat sayembara dan dialog publik, sudah banyak ide dan gagasan yang diterima Wakil Sekjen DPP Partai Golkar ini. Di SoE, TTS, ada sebuah pengakuan ikhlas dari Lurah Karang Siri, Kecamatan Kota Soe, Moses Babu.

Moses mengungkapkan bahwa Melki Laka Lena adalah sosok pemimpin yang potensial karena memulai dengan hal positif, yakni mau menggunakan sistem piramda terbalik.

“Bagi saya, Pak Melki Laka Lena ini sosok pemimpin yang sangat potensial, karena beliau mau menggunakan sistem piramida terbalik. Artinya, mau mendengar akar rumput dan mengambilnya sebagai bahan pertimbangan dalam setiap gagasan yang akan dikerjakan ketika memimpin NTT nanti,” tutur Moses ketika memberikan ide-idenya pada Dialog Terbuka bersama Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia, E.Melkiades Laka Lena, di GOR Nekamese, Kamis (4/5/2017).

Dalam dialog itu, Lurah Moses lebih menyorot masalah pendidikan, terutama soal pemerataan, kualitas dan kualifikasi guru yang belum optimal, sehingga menjadi salah satu pemicuh buramnya potret pendidikan di TTS, termasuk di NTT.

Menurut Moses, hambatan dan tantangan membangun dunia pendidikan di TTS belum 100 persen sempurna. “Guru-guru di TTS hanya mau mengajar di kota saja, sedangkan di kampung atau pedesaan minim sekali guru. Bahkan ada guru yang mengajar 6 kelas sekaligus,” sebut Moses.

Hal senada diungkapkan Lurah Nonohonis, Sius Benufinit. Bagi dia, potret dunia pendidikan TTS dari waktu ke waktu menunjukkan gerak maju, namun tingkat kemajuan dunia pendidikan ini belumlah berjalan maksimal seiring sejumlah hambatan dan kendala yang masih terjadi di lapangan.

Menurut Sius, sesuai fakta lapangan di beberapa sekolah, baik di jantung kota SoE, pinggiran kota, kecamatan maupun pelosok desa, ada sejumlah persoalan dasar yang dipandang sebagai hambatan sekaligus tantangan untuk memacu kecepatan kendaraan pendidikan.

Disadari, sebut dia, hambatan dan tantangan yang ditemui dianggap sebagai sesuatu yang bersifat kasuistis karena secara obyektif masih ada sekolah-sekolah yang memiliki manajemen penyelenggatan lembaga yang baik.

Bermanfaat

Kepada wartawan usai dialog, Moses mengatakan, sayembara dan dialog ini sangat bermamfaat bagi masyarakat NTT, khususnya di TTS. Ia berharap, Melki Laka Lena bisa menanggapi permasalahan yang mengerucut khususnya beberapa hal yang dianggap paling mendasar antara lain, rendahnya disiplin dan tata tertib sekolah, rendahnya manajerial kepala sekolah, kualifikasi dan kualitas guru yang belum optimal.

“Pak Melki Laka Lena sosok pemimpin yang sangat potensial karena beliau mau menggunakan sistem Piramida terbalik, yakni mau mendengar akar rumput dan mengambilnya sebagai bahan pertimbangan dalam setiap gagasan yang akan dikerjakannya,” tegas Moses lagi.

Menanggapi itu, Ketua YTMI, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, kegiatan ini bukan untuk berkampanye. “Tapi Sayembara Ayo Bangun NTT ini bertujuan untuk mencari dan mendapatkan ide-ide dan gagasan dalam membangun NTT ke depan,” tegas Wakil Sekjen DPP Partai Golkar ini, yang juga menyempatkan diri mengunjungi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soe.

Anggota Dewan Terlibat

Yang menarik dari Sayembara di TTS ini, anggota DPRD TTS pun ikut terlibat dalam lomba debat, dan berhasil keluar sebagai juara satu, yang akan mewakili TTS untuk debat final di Kupang. Mereka adalah yakni Religius Usfunan, Marten Tualaka, dan Uksam Selan. Mereka menamakan diri Tim Independen.

Religius Usfunan, Ketua DPC PKB TTS dan juga Ketua Fraksi PKB menjelaskan, mereka termotivasi untuk mengikuti kegiatan ini karena terpanggil sebagai anak daerah yang harus ikut berpikir bagaimana membangun daerah sendiri.

“Ini bentuk dukungan juga untuk adik adik STKIP Soe agar sebagai mahasiswa mahasisiwi tidak berpikir bahwa mereka sendirian, tapi ada anggota DPRD yang merupakan wakil rakyat yang bersedia mendampingi mereka,” katanya.

Marten Tualaka dari Fraksi Hanura yang juga Ketua Badan Legislasi DPRD TTS mengatakan, sebagai orang muda ia juga ingin memperkenalkan konsep-konsep kepada masyarakat NTT, khususnya di TTS. Ia juga ingin mendengar konsep konsep lain yang disampaikan para peserta debat Ayo Bangun NTT.

Menurut dia, konsep dan ide yang disampaikan dalam lomba debat ini sangat bagus Karena dengan ini masyarakat bisa mengetahui ide dan gagasan dari kacamata pemuda pemudi TTS di bidang parawisata, pertanian, kewirausahaan dan kelautan perikanan, khususnya dari aspek birokrasi dan politik identitas.

Hal yang sama disampaikan Uksam Selan dari Fraksi PKPI. Ia berharap, dalam momentum ini mereka dari legislatif ingin mendapat inspirasi dari lawan debat.  Sedangkan Nerflis Lakapu, mantan anggota DPRD TTS mengatakan, acara debat yang digagas Yayasan Tunas Muda Indonesia (YTMI) ini merupakan ajang para kaum muda TTS bisa saling menggali ide ide yang cerdas agar pembangunan daerah bisa berjalan merata.

Dari Soe juga dilaporkan, Ketua YTMI, E. Melkiades Laka Lena disambut secara adat Natoni oleh masyarakat TTS di GOR Nekamese. Selain adat Natoni, Melki juga diterima dengan tarian Ma’ekat atau Tari Okomama. Tarian Okomama merupakan tarian tradisoanal rumpun masyarakat Suku Dawan yang berkisah tentang hubungan kekerabatan yang ada di dalam rumpun masyarakat Suku Dawan umumnya, yaitu tentang pemberian tempat siri yang lengkap dengan sirih, pinang dan kapurnya. Ini adalah sebuah bentuk penghormatan kepada seseorang yang diberi. (*/jdz)

Ket Foto : Ketua Yayasan Tunas Muda Indonesia, E. Melki Laka Lena, diterima dengan tarian Okomama di GOR Nekamese, Kamis (4/5).