Jembatan di Jalan Trans Timor Putus Total

by -61 views

KUPANG – Jembatan penghubung jalan Trans Timor di Kilometer 69 Kelurahan Takari, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), putus total.

Akibatnya antrean kendaraan di jalan yang menghubungkan lima kabupaten dan kota serta Negara Timor Leste itu mencapai 14 kilometer.

Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Habel Mbate kepada Kompas.com, Rabu (5/4/2017), mengaku, putusnya jalan negara itu akibat banjir yang menerjang wilayah itu sejak siang tadi.

“Saat ini saya masih berada di lokasi. Tadi kebetulan pulang tugas dari kantor sekitar pukul 15.30 Wita, jadi kejadiannya sekitar pukul 16.00 Wita, jembatan Bokong di Takari roboh dan putus total. Antrean kendaraan mencapai 14 kilometer,” kata Habel.

Menurut Habel, saat ini tidak ada jalan alternatif, sehingga ia masih terus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk mengatasi masalah ini.

“Saya telah berkoordinasi dengan pemda dan dinas terkait untuk memantau lokasi jembatan yang putus ini. Dinas Sosial dan Dinas PU sementara berada di jalan dan untuk dapat menanggulangi dan segera mengambil tindakan cepat agar arus lalu lintas dapat kembali normal,” ujarnya.

Seperti diberitakan infontt.com, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah I Provinsi NTT mulai mengerjakan jalan alternatif Kupang-Soe (Km 68+850) Takari, Kabupaten Kupang, karena jembatan ambruk pada Rabu (5/4/2017).

“Kita sementara mengerjakan jalan alternatif dengan menggunakan alat berat, sehingga jalan itu layak dilalui untuk sementara,” kata salah satu staf Satker PJN, Wilhelmus Sugu Djawa.

Ia mengatakan, jalan alternatif ini hanya untuk sementara agar aktifitas masyarakat bisa normal. Menurutnya, dengan menggunakan alat berat maka jalan itu diperbaiki sehingga bisa ditempuh warga. Sedangkan jembatan yang putus akan diperbaiki secepatnya.

“Kita akan membangun kembali jembatan tersebut. Untuk sementara warga bisa menempuh jalan alternatif dulu,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya bersama masyarakat juga ikut membantu petugas membersihkan jalan alternatif sehingga bisa dilalui. “Prioritas kenderaan roda empat dulu, sedangkan untuk roda enam akan diijinkan lewat jika struktur jalan alternatif sudah memungkinkan terutama lebar jalan dan perkerasannya,”jelas Wilhelmus. (*/jdz)