Survei Elektabilitas: Jokowi Paling Populer, Disusul Prabowo dan Ahok

by -119 views
PERTEMUAN JOKOWI DAN PRABOWO

JAKARTA – Sebagian besar publik mengaku puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo dan karena itu mereka menginginkan dia maju kembali sebagai presiden periode 2019-2024.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari mengatakan, sebagian besar publik (57,8 persen) masih menginginkan Jokowi untuk menjabat kembali sebagai Presiden periode 2019 – 2024.

“Publik yang tidak menginginkan kembali sebesar 26,7 persen, tidak tahu/tidak jawab sebesar 15.5 persen,” kata Qodari dalam paparan surveinya di Jakarta, Rabu (22/3).

Turut hadir sebagai narasumber dalam konferensi pers Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono, Politisi PDI Perjuangan Maruarar Sirait dan Pengamat ekonomi Umar Juworo.

Qodari menyebut, sejumlah program yang membuat publik puas terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-JK. Misalnya, program pembangunan, kesehatan, pendidikan, menjaga toleransi agama, pemberantasan narkoba, terorisme dan menjaga keadilan sosial tergolong memuaskan (di atas 50 persen).

Sedangkan permasalahan yang berkaitan dengan perekonomian, seperti kesejahteraan rakyat, stabilitas harga sembako, kemiskinan, lapangan pekerjaan, pengangguran dan pemberantasan korupsi masih belum memuaskan yakni di bawah 50 persen.

Berdasarkan pertanyaan terbuka, yang diberikan selama survei, kata Qodari, nama-nama calon presiden yang disebut publik didominasi oleh Joko Widodo (31,3 persen), kemudian jauh di bawahnya Prabowo Subianto (9,8 persen), Basuki Tjahaja Purnama (8,3 persen), Anies Baswedan (4,5 persen), Ridwan Kamil (3,1 persen), Tri Rismaharini (2,8 persen), Megawati Soekarno Putri (2,7 persen), Gatot Nurmantyo (1,9 persen), Hary Tanoesoedibjo (1,2 persen). Nama lainnya di bawah 1 persen. Rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab sebesar 29,2 persen.

“Kami juga membuat simulasi 18 nama, melihat dukungan publik terhadap nama-nama calon presiden dan hasilya Joko Widodo masih jauh menggungguli,” kata dia.

Dari hasil simulasi itu, Joko Widodo meraih 45,6 persen, kemudian jauh di bawahnya Prabowo Subianto (9,8 persen), Basuki Tjahaja Purnama (8,7 persen), Ridwan Kamil (3,5 persen), Agus Harimurty Yudhoyono (2,5 persen), M Sohibul Iman (2,1 persen), Tri Rismaharini (2 persen), Megawati Soekarno Putri (1.6 persen), Jusuf Kalla (1 persen).

“Nama lainnya di bawah 1 persen. Rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab sebesar 21,9 persen,” katanya.

Qodari menyebut beberapa alasan mengapa publik memilih nama-nama tersebut menjadi calon presiden. Pertama karena dekat dengan rakyat (22,4 persen), terbukti kinerjanya (18,8 persen), berjiwa sosial dan baik (9,3 persen), membawa perubahan (7,6 persen), berani (6,2 persen), jujur (5,1 persen), tegas (5 persen), sesuai parpol (4,1 persen), terkenal (3,1 persen), berwibawa (2,6 persen), pekerja keras (2 persen), dari militer (2 persen), taat beragama (1,1 persen), suka dengan figurnya (1 persen), pintar/intelektual (1 persen), bersih dari KKN (1 persen).

“Dari distribusi alasan memilih, Joko Widodo dipilih dengan alasan dominan dekat dengan rakyat, terbukti kinerjanya, berjiwa sosial dan baik, membawa perubahan, jujur, terkenal, pekerja keras. Prabowo Subianto dipilih dengan alasan dominan tegas, berwibawa, dari militer,” katanya.

Qodari mengatakan, jika membuat simulasi 14 nama, dukungan publik terhadap calon presiden Joko Widodo masih tertinggi yakni 49,0 persen, Prabowo Subianto (13,9 persen), Agus Harimurty Yudhoyono (2.4 persen), M Sohibul Iman (2,1 persen), Megawati Soekarno Putri (1,8 persen).

Nama lainnya di bawah 1 persen. Rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab sebesar 29,3 persen.

Kalau dilakukan simulasi 3 nama, dukungan publik terhadap calon presiden tetap Joko Widodo berkisar antara 50,4 persen – 50,9 persen, lalu Prabowo Subianto berkisar antara 20 persen – 20,3 persen, Jusuf Kalla (3,1 persen). Megawati Soekarno Putri (3 persen).

Dan kalau dilakukan simulasi head to head, dukungan publik terhadap calon presiden Joko Widodo (50,2 persen) dan Prabowo Subianto (28, 8 persen). “Rahasia atau belum memutuskan atau tidak tahu atau tidak jawab sebesar 21,0 persen,” kata Qodari. (beritasatu.com)