‘Rumah Merah’ Dihuni PSK Lokal, Moralitas Sikka Terancam

by -311 views

Maumere, Mediantt.com – Kota Maumere kini dihantui dengan hadirnya 30-an pekerja seks komersial (PSK) lokal yang bisa mengancam moralitas daerah tersebut. Kelompok yang menjual diri ini lebih tenar dengan nama rumah merah, yang direduksi dari sebuah bangunan yang semuanya dicat merah, letaknya di TPU Ilegetang, salah satu lokasi praktik mesum yang mereka jalankan.

PSK rumah merah ini terungkap setelah minggu lalu dua orang anggotanya, MAG dan NRL, diciduk Satuan Polisi Pamong Praja Sikka. Saat itu dua PSK Lokal ini sedang melayani tamu di dalam bangunan rumah merah. NRL bahkan diketahui baru berumur 16 tahun.

Pelaksana Tugas Satpol PP Yoseph Benyamin yang ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/3), menjelaskan, kedua pasangan mesum tersebut sempat dibawa ke Kantor Satpol PP untuk dimintai keterangan. Usai dibuat berita acara dan menandatangani surat pernyataan, keempat orang ini dilepas.

Pihak Satool PP sempat mengantar pulang dua PSK lokal tersebut ke rumah orang tua mereka. Namun jsuteru masing-masing orang tua tidak lagi mau menerima anak-anak tersebut.

“Kebanyakan yang kami dapat adalah perempuan lokal, setelah kami interogasi dan ambil ketertangan, kami antar pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi sampai di sana, orang tua mereka usir lagi mereka dan minta jangan dibawa ke situ karena itu bukan anak mereka,” terang Yoseph Benyamin.

Mantan Kepala Bagian Pemerintahan Umum ini menjelaskan, kelompok rumah merah ini berpraktik secara terang-terangan. Selain di TPU Iligetang, tempat praktik mereka yakni di bantaran kali, di dalam Pasar Alok, di pelabuhan container, dan juga di hotel-hotel.

Dari hasil interogasi, lanjut dia, terungkap praktik anggota rumah merah ini sudah berlangsung lama. Sekarang ini mereka sudah bergabung dengan kelompok waria. Sasaran para PSK Lokal ini seperti tukang ojek, pedagang pasar, dan kelompok-kelompok rentan lainnya.

Para PSK Lokal ini memasang tarif sesuai selera. Biasanya rata-rata mereka menjual diri dengan harga Rp 250.000. Jika sama sekali tidak ada tamu, kata Benyamin mengutip keterangan MAG dan NRL, mereka tidak segan-segan menjajakan tubuh dengan Rp 25 ribu demi mendapat uang makan.

Satpol PP, terang Benyamin, akan terus melakukan operasi dan razia, selain untuk penegakan peraturan daerah, juga termasuk memberantas praktik prostitusi yang sedang marak di Kota Maumere. “Kami tidak akan segan-segan menindak praktik prostitusi, meskipun melibatkan pejabat,” tegasnya. (vicky da gomez)

Foto: Pelaksana Tugas Satpol PP Sikka Yoseph Benyamin sedang menginstruksikan anak buahnya saat merazia rumah merah di Maumere.